PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
PUISI RASYID


__ADS_3

Aku baru saja membuka laptop dan memasukkan kata sandi, ketika dari luar kudengar suara teriakan ibu.


“Mheta? Lihat siapa yang datang.”


Kututup laptop dan menaruhnya diatas meja, lalu melangkah ke beranda. Seseorang yang masih terlihat asing membungkuk untuk melepas tali sepatunya. Begitu dia menegakkan badan, aku langsung membungkam mulut.


“Dek Ayu?”


“Ya Tuhan,” apakah ini benar-benar nyata?


“Ini saya calon suamimu.”


Entah siapa yang mulai. Kami sudah saling bersalaman. Sangat lama. Aku merasa tubuhku terguncang-guncang.


“Rasyid…”


Tiga minggu, sejak kepulanganku dari rumah hijaunya. Kini, dia berdiri tepat dihadapanku.


Kalian tahu, bagaimana rasanya berhadapan dengan seseorang yang tidak pernah kalian inginkan? Tetapi, bisakah kalian bayangkan saat berhadapan langsung dengan seorang asing yang sebentar lagi akan menjadi pasangan hidup kalian? Aku masih tidak percaya, jika pemuda yang berdiri di hadapanku adalah seseoarang yang akan selalu berbagi kisah dikehidupan kami masing-masing.


“Nggak disuruh duduk, nih?”


Untuk apa dia berkunjung kerumahku?


Diriku mematung. Bahkan berkata untuk menyuruhnya duduk saja rasanya tak bisa.


“Mheta… ayo masuk bikinin minum buat nak Rasyid?” suara ibu mengagetkan lamunanku.


Rasyid duduk berdua dengan ibu di beranda. Aku sibuk didapur, menyipkan minum untuk tamu yang menurutku sama sekali tidak diundang. Setelah menyuguhkan minum, akus segera masuk kedalam kamar. Meraih ponsel, menyentuh layarnya dan membiarkan ditelapak tangan begitu saja.


Pikiranku masih menerawang tentang kedatangan Rasyid yang begitu tiba-tiba, bagiku.


“Boleh saya datang kerumahmu? Saya ingin mengenal lebih jauh tentang keluargamu. Terlebih tentang Ibu.” Pesan Pengelana masuk.


Sekujur tubuhku mendadak kaku. Bagaimana jika Pengelana sampai kerumah? Apa yang akan disampaikan kepada ibu? Teman baik? Atau.. Dia akan mengatakan perihal perasaannya terhadapku kepada ibu?


“Untuk apa? Bukankah kamu tahu… jika saya akan segera menikah?” segera kukirim pesan kepada Pengelana.


Sepuluh menit berlalu, tak ada jawaban apa-apa dari Pengelana. Bahkan, terlihat dia sedang off sebelum membaca pesanku.


“Mheta…” ibu berteriak dari beranda.


Aku segera berlari menujunya.


Terlihat Rasyid masih asyik mengobrol dengan ibu.

__ADS_1


“Ada apa, Bu…”


“Duduk dulu…”


Suasana hening sejenak, sebelum pada akhirnya ibu membuka pembicaraan diantara kami beritga.


“Tanggal 28 Juli ini ‘kan kalian akan menikah?” ibu melihat kearahku dan Rasyid secara bergantian. “Nak Rasyid bilang, kalau pernikahan kalian akan diadakan di Jakarta. Di gedung apa tadi, Le?”


Rayid tersenyum, “Gedung Nanggala Kopassus, Bu.”


“Nah iya, itu Mhet…”


Aku menganjur napas. Merangkai kata untuk segera ku utarakan kepada Rasyid. “Gini ya, Syid… maaf sebelumnya. Dimana-mana, orang mau menikah pasti ditempat mempelai perempuannya. Kenapa ini harus di Jakarta? Terus, bagaimana undangan saya? Saya nggak mungkin nggak ngundang teman-teman saya. Belum lagi, tetangga-tetangga sini. Apa kata mereka, jika saya menikah nggak undang-undang tetangga. Saya ini anak satu-satunya dikeluarga ini. perempuan lagi.”


“Mheta… semua sudah diatur sama keluarga Nak Rasyid..” ibu menjawab.


“Bu… kenapa ibu sepertinya nurut sekali sama keluarga Rasyid? Apa karena mereka dari keluarga yang mempunyai kedudukan?” sudah lama, aku memendam pertanyaan ini kepada ibu. Mungkin ini adalah waktu yang tepat. Apalagi ada Rasyid disini. “Jangan terlalu percaya sama orang yang baru Ibu kenal.” Kataku sembari melihat ke arah Rasyid duduk.


Rasyid menunduk ketika aku mengungkapkan rasa kekesalanku kepadanya.


“Mheta! Nggak seharusnya kamu bilang seperti itu?” ibu menyergahku dengan kata-katanya, “maafkan calon istrimu ya, Nak Rasyid.”


Rasyid tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. “Tidak apa-apa, Bu.”


“Kamu! Jangan mentang-mentang. Karena sudah mengantongi restu dari ibu saya. Jadi seenaknya. Mau ngadain pesta pernikahan di Jakarta!” suaraku meninggi kepada Rasyid.


Ada yang menghangat didalam dadaku. Mataku memanas. Pandanganku buram, bibirku bergetar. “Mheta ini putri Ibu?” suaraku parau. “Nggak seharusnya ibu bersikap demikian sama Mheta?” kali ini aku benar-benar merasa


terasing diantara ibu dan Rasyid.


“Ibu bilang masuk, masuk!” ibu benar-benar menegaskan padaku.


Aku menatap tajam kearah Rasyid. “Kamu…” aku berjalan terseok kearah kamar.


****


Kunikmati senja dengan asa yang tak teraih. Sepulagnya Rasyid dari rumah. Ibu benar-benar marah padaku.


Ibu berkata, jika tak seharusnya aku berucap tidak sopan dihadapan pemuda asing itu.


Aku bukan bersikap tak sopan kepada pemuda itu. Aku hanya mencoba untuk membela diri dan membela sebagai kaum perempuan. Tak seharusnya perempuan selalu di jajah, bukan? Tidak seharusnya pula si kampret itu dengan seenaknya saja akan mengadakan pesta pernikahan ditempatnya berdinas.


Namun, aku tetaplah seorang Mheta, yang dikenal dengan berbagai macam sifat diamnya oleh penduduk setempat. Aku hanya menundukkan kepala saat ibu memarahiku. Bahkan, aku tidak bisa menolak ketika ibu menegaskan. Jika pernikahanku dengan Rasyid akan di helat di Jakarta.


Sekujur tubuhku rasanya membeku. Aku benar-benar tidak menyangka, bahwa setelah 26 tahun menghirup udara bumi. Aku baru tahu, jika hidup tidak selamanya tentang sebuah pilihan yang tepat.

__ADS_1


Dalam diam, aku terus membolak-balik kenyataan yang kutemui.


Ibu membawa teh manis hangat kedalam kamar.


“Maafkan atas sikap Ibu tadi… Ibu hanya ingin kamu bahagia.”


Aku menyeka airmata, mencoba tersenyum dan menganggukkan kepala. Suaraku begitu parau untuk berucap sebuah kalimat.


“Kamu harus tahu. Sepeninggal Ayahmu. Ibu benar-benar takut nggak bisa mendidikmu. Apa kamu tahu, kenapa ibu sampai menerima tawaran keluarga Rasyid?” ibu menatapku dengan lekat.


Aku menggeleng pelan.


Ibu menganjur napas, “karena Ibu yakin, Rasyid adalah pemuda yang baik. Bukan soal dia dari latar belakang seperi apa? Tapi, keyakinan ibu untuk menitipkanmu kepada pemuda itu adalah salah satu keputusan yang tepat.”


Tenggorokanku benar-benar mengering. Kenapa ibu tidak pernah menanyakan perihal kedekatanku dengan pemuda lain?


Apa ibu mengira jika aku masih anak-anak? Yang semuanya harus disediakan?


Aku bukan anak kecil lagi ‘kan? Yang apa-apa harus dijagain?


Kecewa? Mungkin kata itu yang saat ini bersemanyam didalam hatiku untuk, Ibu.


*****


Kau dan aku bukan sepasang kekasih,


Kita dua kata yang sedikit sama,


Yang lahir dari rahim berbeda,


Itulah sebabnya,


Aku tak mau diantara kita ada yang pergi,


Atapun meninggalkan.


Tak peduli berapa kali matahari mencebur ke lautan.


Akan aku tangkap, akan aku simpan sebisa-bisa musim mengingat.


Seperti kemarau yang mengantar bugenvil,


Atau serupa gerimis yang membangunkan lumut-lumut.


Sebuah pesan berbentuk puisi dikirim oleh Rasyid.

__ADS_1


Aku menautkan kedua alis. Sejak kapan dia suka merangkai kata? Apa sudah lama? Entahlah.


Aku memikirkan sebuah kalimat yang pas untuk membalas pesan Rasyid.


__ADS_2