
“Ka-kalau begitu, mau kubantu? Aku akan membantumu untuk mandi, Mas, agar tanganmu tetap kering.” Carissa menawarkan diri dengan perasaan khawatir.
“Ya, inilah Risa-ku. Risa yang mencintaiku.” Gumamnya dalam hati dengan perasaan penuh kebahagiaan. Dia tidak keberatan terluka jika ternyata bisa mengembalikan hati Carissa padanya seutuhnya.
“Mas, kenapa senyum-senyum?”
“Tidak, aku hanya sedang bahagia. Ternyata terluka seperti ini rasanya tidak seburuk itu.”
“Mas ngomong apa, sih. Jantungku rasanya mau loncat tau, saat lihat Mas menghalau pisau dengan tangan seperti itu.” Kecemasan Carissa dibalas tawa bahagia dari Tama.
“Jadi, tawaran untuk memandikanku bagaimana?”
“Kalau Mas mau mandi, jadilah. Mana mungkin Mas mandi sendiri dengan tangan terluka seperti itu.”
__ADS_1
Tama menaikkan kedua tangannya minta untuk dibukakan bajunya dengan tersenyum menggoda, “Kenapa Mas tersenyum mesum begitu? Aku akan membantu Mas mandi saja, tangan Mas masih terluka, jangan berpikir yang aneh-aneh.”
Tama menggelengkan kepalanya, “Aku tidak memikirkan apa-apa, kok. Kenapa kamu yang overthinking?”
Carissa mendekati suaminya dan mulai melepaskan baju dan celananya, menyisakan pakaian dalam Tama. saat di dalam kamar mandi, barulah gadis itu melepaskan semuanya, dan ia melihat dengan jelas jika benda itu sudah mulai mengeras.
“Mas!” protes Carissa.
“Jangan salahkan aku. Itu gara-gara kamu berjongkok di depanku.”
Tama menuruti perintah istrinya untuk masuk kedalam bathtub yang sudah berisi air yang hangat. Bathtub itu berukuran besar, jadi cukup luas walaupun Carissa ikut masuk ke dalamnya. Carissa melepaskan bajunya agar tak basah saat memandikan Tama, ia menyisakan pakaian dalam berwarna hitam yang terlihat sangat seksi di mata Tama. Jangan ditanya bagaimana nasib adik kecilnya, tentu saja saat ini sudah mengeras sempurna.
Carissa meminta Tama menyandarkan kedua tangannya keluar dinding bathtub agar tidak terkena air, kini Carissa sudah ikut masuk ke dalamnya dan duduk di hadapan Tama. Pertama-tama gadis itu meminta Tama untuk menyandarkan kepalanya ke belakang, ia ingin membasahi rambut hitam itu dan menyampo rambut Tama, ia setengah berdiri agar bisa menggapai rambut Tama. Carissa kini berada diatas pangkuan Tama, tapi gadis itu tak bisa duduk di atasnya karena memang dibawah sana ada yang mengganggunya.
__ADS_1
Tama terdiam dan menikmati sentuhan tangan istrinya yang memijat kepalanya, rasanya sangat nyaman. Terlebih pemandangan didepan matanya yang memperlihatkan dua benda kenyal tersaji dengan indah. Ia tak bisa bersabar lalu mulai mencium dan menjilat dua benda itu.
"Mas, diamlah.” Perintah Carissa, namun laki-laki itu tak menurut dan tetap melakukannya, menikmati hal yang tersaji di hadapannya.
Tama sedikit menyingkap kain penutup itu dan akhirnya mengeluarkan p**ing yang berwarna kemerahan, terlihat Carissa kesusahan menahan setiap permainan lidah suaminya, sesekali terdengar des*han kecil dari bibir gadis itu, “Arrgghhh . . . Mas, cukup! Aku akan membilas rambutmu.” Carissa membetulkan letak bra nya lagi, hal itu membuat Tama mendengus kecewa.
Tama menyandarkan kepalanya lagi di ujung dinding bathtub, sehingga memudahkan Carissa membilas rambutnya dengan bersih. Selesai berkutat dengan rambut, Carissa kini sudah turun dari pangkuan Tama dan duduk kembali di hadapannya, kini waktunya ia membersihkan tubuh Tama yang besar.
“Aku akan mulai menyabun tubuhmu.” Carissa mengambil beberapa sput sabun cair di tangannya, lalu mulai mengusapkan cairan licin itu ke tubuh Tama. Tama terlihat menikmati setiap sentuhan halus istrinya, ia bahkan menutup kedua matanya untuk meresapinya. Tubuhnya mulai memanas walaupun ia berendam di air hangat, tubuhnya terhentak saat Carissa sampai kebawah pusarnya, dan menggenggam adik kecilnya.
“Oohh . . . Risa.” Sahutnya sambil memandang istrinya dengan mata yang nanar.
“Diamlah, aku sedang membersihkan tubuhmu, Mas.”
__ADS_1
“Bagaimana aku bisa menahannya jika kamu menyiksaku seperti ini dengan sengaja?”
“Kalau begitu, nikmati saja.” Perintahnya. Carissa tahu jika Tama saat ini sedang berusaha kuat menahan gairahnya, sesekali laki-laki itu mengeluarkan suara des*han kecil karena Carissa terus mengurut benda keras itu.