PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
LELAKI DI STASIUN ITU, APA KABAR?


__ADS_3

“Mheta…”


Tanganku menahan gagang pintu.


“Apa?”


“Makasih.” Daffa menyodorkan kembali botol lotion, dia tidak turun dari kursi, hingga aku berbalik lagi.


“Apa rencanamu setelah ini?” tayanya setelah botol lotion pindah ke tanganku.


Aku menatap Daffa sejenak. Meyakinkan kalau dia bertanya padaku.


“Mmm..”


Daffa menggeser selimut yang tadi kutaruh begitu saja didekatnya, sehingga menyisakan kursi kosong. Aku duduk  di sana.


“Setelah Bibi pulang, apa kamu akan kembali ke Malang?”


Aku tertawa tanpa suara. “Pertanyaanmu aneh.”


“Aku serius.”


“Aku mendapat cuti selama tiga minggu, dan ini sudah masuk hari ke sepuluh aku cuti. Mungkin setelah habis cuti, aku akan kembali ke Malang. Tapi, aku kesana untuk mengajukan surat pengunduran diri. Setelah kepergian Ayah, aku tidak bisa meninggalkan ibu sendiri. Mungkin aku akan mencari kerja di area Magelang saja. Di sini juga banyak rumah sakit, kok.”


“Aku percaya kamu anak baik,” Daffa menahan tawa.


Aku menekuk bibir.


“Kalau gitu tidurlah,” kata Daffa lagi.


“Tadi manggil, sekarang nyuruh tidur. Dasar aneh.”


“Kalau kamu belum balik ke Malang, itu artinya masih banyak waktu untuk bicara.”


“Bicara? Memangnya kamu mau bicara apa?”


Daffa diam sejenak. “Nggak keberatan kita bicara sekarang?”


“Dari kemarin, bukannya kamu yang selalu menghindari


pembicaraan?” aku balik bertanya.


“Karena aku sedang berfikir dari mana untuk memulainya.” Kata Daffa.


Aku menahan ludah. “Apakah begitu rumit?”


“Tidak juga.”


Aku diam, menunggu Daffa melanjutkan kelimatnya.


“Lelaki di stasiun itu, apa kabar?”


Penggelana? Aku sama sekali tidak menyangka kalau Daffa akan bertanya perihal dia.


“Sejauh apa hubungan kalian?”


Aku megnhirup udara, menghembuskan pelan. “Dia teman bicara yang baik,” kataku. “Itu pertemuan pertama kami. Aku sedang memikirkan perdebatan kita, lalu tahu-tahu dia duduk di sampingku. Bicara perihal betapa deras hujan hari itu…”


Daffa tidak menyahut. Aku ingat dia pernah membahas itu di telepon.


“Berapa lama kamu melihat kami?” Tanyaku.


“Sejak dia datang dari arah lain, dan mengangsurkan sebotol minuman padamu.”


Aku tersenyum, “bahkan aku sempat curiga padanya.”


Lalu, aku terbayang kembali bagaimana Pengelana sibuk dengan minumannya. Sementara aku mematung dengan sebotol mizone di tangan. Aku masih ingat caranya meyakinkanku bahwa itu hanya sebotol minuman biasa. Aku mencertikatannya pada Daffa.


“Setelah itu?” tanya Daffa.


Aku kembali tersenyum, “dia pergi lebih dulu. Tapi kemudian balik lagi.”


Aku ingat bagaimana Pengelana mengejutkanku. ‘harusnya kamu bilang kalau ada yang ketinggalan!’ “Rokoknya ketinggalan.”


“Kamu yakin memang rokoknya ketinggalan?”


Aku menatapa Daffa dengan sedikit bertaut. “Maksudmu, apa?”


“Lelaki punya banyak alasan.”


“Kamu pikir dia pura-pura ketinggalan biar balik lagi?”


“Nggak usah tinggi gitu nadanya, Mhet. Apa yang dilakukan saat dia balik?”


“Mmm… menulis nomor hpnya, di bukuku.”


Spontan Daffa terbahak.


“Apanya yang lucu?”

__ADS_1


“Kamu menghubunginya?” tanya Daffa.


“Enak aja! Enggaklah! Perempuan macam apa aku?”


Daffa masih terkekeh. “Lalu bagaimana kalian bisa terhubung?”


Ingatanku mundur, pada hari-hari aku sibuk mencari nama Pengelana di media sosial. Tetapi, aku tidak cerita ke Daffa perihal itu semua. Teringat juga bagaimana aku memutuskan untuk menulis cerpen tentang Pengelana. Dan masih jelas bagaimana chat pertamanya yang membuatku terkejut.


“Kamu juga memberi nomormu?”


“Nggaklah. Kamu tahu aku, perihal nomor nggak semudah itu untuk membagi ke orang asing.”


Waktu itu Pengelana juga tidak bertanya nomorku. Aku masih ingat betapa tergesa-gesa dia, bahkan menyebut bama sambil berlari karena kereta benar-benar akan berangkat.


“Jadi?”


“Dia yang menemukanku.” Aku tersenyum lebar. “Aku juga kaget. Rasanya nggak percaya.”


Daffa diam. Menatapku. Seolah ingin memastikan kalau aku tidak bercanda.


“Gimana bisa?”


“Dia menemukanku di facebook.”


Akhirnya aku cerita pada Daffa, bagaimana aku memutuskan menulis cerpen tentang lelaki bermanter basah yang duduk disampingku. Cerpen kemudian tanpa aku duga bisa menembus salah satu media impianku.


Daffa mengangguk mendengar ceritaku. Untuk beberapa saat dia tidak bicara. Seperti ada yang dipikirkan.


“Kamu menyukainya?”


Pertanyaan Daffa membuat tenggorokanku seoalah disumpal sarang laba-laba.


Aku membuang pandang ke kejauhan. “Dia sudah punya kekasih.”


“Mheta, aku tanya. Apa kamu menyukainya?”


“Aku bilang dia sudah punya kekasih.” Aku diam sejenak. Menelan sesuatu yang terasa menyumbat tenggorokan. “Dia teman yang baik. Aku berharap dia selalu bahagia.” Aku mengucapkan kalimat itu sambil memandang lantai. Ujung kakiku, mengusap-usap tali sandal yang baik-baik saja.


Lalu kami saling diam. Angin malam menerpa lembut, sedikit memberi kesegaran pada cuaca yang panas.


Aku menoleh pada Daffa, saat kurasakan dia sedang menataku.


“Kamu baik-baik saja?” ranya Daffa.


Aku mengangguk.


“Sekali.”


Aku ingat, pertama kalinya Pengelana membuatku sedih, adalah saat dia mengatakan bahwa suatu saat akan melupakanku.


“Pernah membuatmu menangis?”


“Sekali juga.”


Tentu saja peristiwa operasi Pengelana, tidak akan pernah terlupakan dalam hidupku. Itu saat yang menakutkanku. Dan aku menangisinya diam-diam. Aku takut biusnya tidak bekerja dengan baik. Aku takut saat dibius total dia tidak bangun lagi. Itu waktu sangat mengerikan bagiku. Bahkan ketika suatu hari, setelah dia sehat dan mengirim foto dalam kamar rumah sakit, aku kira dia sakit lagi. Ternyata hanya sedang menjenguk temannya.


“Jadi, selebihnya dia membuatmu tertawa.”


Aku tertawa kecil. “Ya dia lucu dan cerdas. Meskipun dia mengaku tidak bisa melucu untuk merayu?”


“Dia merayumu?”


“Tentu saja tidak. Akubelajar banyak hal dari dirinya.” Dia juga memberiku banyak inspirasi dalam menulis. Kalimat yang baru saja, hanya aku ucapkan dalam hati.


Kami kembali saling diam.


“Apa kamu pernah menyukai seseorang melebihi sukamu padanya?”


“Apa?” pertanyaan ini, lagi-lagi tidak kuduga.


“Jawab?”


“Daffa! Kan, jelas ku katakan, dia sudah punya kekasih, dan aku memanggilnya teman baik.”


Daffa menatapku. “Yakin?”


“Jangan melihatku begitu!” aku mengambil selimut yang teronggok di kursi yang memisahkan kami. Menyampirkan kekepala hingga menutupi wajah.


“Kamu itu katanya penulis, masa pertanyaan begitu saja nggak paham.”


“Jangan menyindirku! Aku ini seorang dokter.”


“Aku tanya apa, kamu jawab apa.”


“Kamu tanyanya yang aneh-aneh gitu sih.”


“Aku dapat satu pelajaran dari kepergianku kemarin,” kata Daffa. “Bahwa ada hal-hal di dunia ini yang nggak bisa kita paksakan. Kita hidup dengan pilihan kita sendiri. Bukan dengan anggapan orang lain. Kita nggak perlu memaksakan diri menjadi seperti kata orang-orang.”


“Kamu ngomong apa sih?” sejujurnya aku terkejut karena tiba-tiba Dafafa bicara seperti itu.

__ADS_1


“Harus ku ulang?”


“Apa yang terjadi disana?” entah mengapa aku merasa telah terjadi sesuatu pada Daffa. Dia bukan petualang. Maksudku, sebelum dia pergi, kempung halaman, lahan pertanian, tanaman-tanaman, adalah segalanya bagi dia. Itu juga yang menjadi alasannya mundur kuliah.


“Nggak adil, kalau aku sudah cerita tapi kamu malah nggak cerita.”


“Hanya sebuah renungan.” Daffa melempar pandangannya kebawah, ke jalan menuju parkir.


“Tapi, aku yakin lebih dari itu.” Kataku.


Daffa diam. Seorang penjaga pasien kamar lain lewat dengan termos dan selimut di tangan. Kami mengagguk. Lalu seorang lagi lewat dan kami kembali mengangguk, bertukar senyum.


“Bagaimana kamu yakin, lelaki itu orang baik?”


“Astaga Daffa…” aku memiringkan kepala sambil menatapnya. “kenapa kembali ke dia lagi?”


“Aku hanya tanya. Kan kamu memanggilnya taman baik.”


Aku menaikkan kaki ke kursi dan memeluk kedua lutut. Selimut masih tersampir dipundakku.


“Karena dia memang baik.”


“Bagaimana kamu bisa yakin?”


“Aku tidak tahu… ya, yakin saja.”


Aku memang tidak pernah tahu, Pengelana bahkan pernah bilang padaku kalau teman-temannya mengatakan dia itu sosok aneh yang menyebalkan. Aku tidak setuju dengan pendapat itu. Seseorang kadang terlihat aneh di mata orang lain itu hal yang biasa. Tetapi kata Pengelana, ‘kamu bisa mengatakan begitu karena kita tidak bertemu dalam keseharian.’ Lalu kubilang kepadanya. ‘kalau begitu tidak usah bertemu, biar tetap begitu.’ Dan ternyata, kesempatan pertemuan kami di Tangerang pun tidak terwujud.


“Dulu, teman-teman kamu yang laki-laki, nggak pernah kamu panggil teman baik saat bercerita padaku.”


Aku tertawa, itu zaman SMP dan SMA. Sering aku sekedar cerita pada Daffa tentang teman-teman sekolahku. Karena sebenarnya aku memang tidak mudah dekat dengan lawan jenis. Maksudku, hati kecilku akan membandingkan laki-laki itu dengan Daffa. Aku merasa tidak ada yang mengenal baik dan buruk sepserti Daffa mengenalku.


“Konon, katanya, kalau ada seseoarang yang bisa membuatmu tertawa, itu artinya kamu menyukainya. Kalau seseorang bisa membuatmu menangis artinya kamu mencintainya.”


“Ih! Aku menurunkan kedua kakiku, “teori darimana itu?”


Daffa tertawa, “aku hanya pernah membaca.”


“Aku nggak percaya!”


“Tapi, aku percaya.” Kata Daffa.


Aku menyangga dagu, memikirkan kalimat Daffa. Benarkah apa yang dikatakan?


“Mheta, kalau seseorang itu baik dan bisa membuatmu bahagia, aku akan mendukungmu.”


Daffa terdengar serius. Aku mencoba mencari kesungguhannya.


“Ngomong apa kamu?”


“Aku sungguh-sungguh,” kat Daffa. “karena kamu nggak pernah menceritakan seseorang seperti kamu menceritakan pemuda itu.


“Daffa! Kamu lupa atau gimana sih? Dia sudah punya kekasih. Dan aku memanggilnya teman baik.”


“Kalau aku yang punya kekasih, kamu mau memanggilku apa?”


Aku ternganga menatap Daffa. Apakah dia serius? Kenapa seperti ada yang menyumbat dalam hatiku?


“Nggak usah bengong gitu,” Daffa pura-pura melempariku headset.


“Siapa?” tanyaku.


“Mheta..Mheta.. kamu kebiasaan, ditanya malah balik nanya.”


“Ya, aku akan tetap memanggilmu Daffa.”


Daffa tertawa, “curang.”


Aku ikut tertawa. Tapi kemudian diam, ingat sesuatu. Aku menoleh ke Daffa, dan bertanya serius, “apakah sewaktu di Korea?”


Daffa tertawa, tapi aku merasa ada yang disembunyikan di


balilk tawanya.


“Cuma seandainya, dan ternyata kamu curang, hanya memanggilku ‘Daffa,’ lagian mana mungkin ada orang Korea yang mau sama aku. Kata Daffa. “Sudah. Tidur. Tidur.”


“Kamu yang curang, giliran waktunya cerita malah nyuruh tidur.” Aku menekuk bibir.


“Besok-besoklah, kamu masih ada waktu ‘kan? Cutimu masih lumayan panjang.”


Dan benar saja, Daffa tidak mau melanjutkan cerita. Dia memasang headset di telinganya, dan merebut selimut dariku. “Pergilah, biar aku bisa meluruskan kaki,” ucapnya.


Begitu aku berdiri, dia menyelonjorkan kakinya ke kursi dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Aku masuk kamar. Duduk di samping ibu yang terlelap. Kemudian berfikir tentang perubahan sikap Daffa. Benarkah kepergiannya telah memberi pelajaran?


Renungan?


Terus kenapa dia tanya-tanya perihal Pengelana?

__ADS_1


__ADS_2