
Setelah ganti baju warna hijau, rok dan jilbab yang juga berwarna senada. Sembari menunggu Desi, aku melirik sebuah kotak kecil berwarna biru, yang sengaja kutaruh diatas meja samping tv. Kotak pemberian Pengelana
semalam. Aku membukanya dengan berlahan, terdapat secarik kertas dengan tulisan.
Kamu adalah teka-teki yang belum sempat aku pecahkan.
Namun, setiap harinya aku selalu menunggu kepingan-kepingan jawaban.
Sebuah kunci darimu, adalah yang mampu menjawab semua pertanyaan.
“Teka-teki?” Aku tercekat, berulang kali membaca tulisan Pengelana. Mencari apa maksud dari tulisannya tersebut.
Ada sebuah cincin disana. Didalam kotak berwarna biru. Seketika kuraih ponsel dalam tas berwarna hitam, yang telah di sediakan oleh Rasyid. Mencari nama Pengelana, aku harus menanyakan semua tentang pemberian dan isi dari secarik kertas itu.
“Hai…boleh saya tahu? apa maksudmu memberi saya cincin dan secarik kertas ini?” aku mengirim pesan kepada Pengelana, kusertakan foto cincin dan tulisan di secarik kertas tersebut.
Lima menit, sepuluh menit, bahkan sampai Desi datang menjemputku dirumah Rasyid. Pesan itu belum juga dibaca oleh Pengelana. Akhirnya aku memutuskan untuk menaruh kembali ponsel kedalam tas hitam.
“Mbak Ayu, sudah siap?” Desi tersenyum menyambutku di depan pintu.
Aku mengangguk, “sudah. Kantornya nggak jauh tho?”
“Nggak kok Mbak. Ini kan perumahan perwira. Nah nanti kita keluar jalan raya bentar, terus kita masuk lagi lewat pos satu." Desi menganjur napas. "Dari pos satu deket kok, Mbak. Ke kantor kompi, kan?” Desi menerangkan, seraya membubuhkan pertanyaan padaku.
Aku mengangkat kedua bahu. “nggak tahu, dia hanya berpesan katanya ditunggu dikantor, gitu.”
“Ooh… yasudah ayo saya anter, Mbak. Pasti ditunggu di kompi. Soalnya ‘kan ini hari minggu. Kalau kantor libur, kecuali kompi kayanya tadi lagi ada korve.”
Aku tersenyum, “Ooh…gitu?” kataku sembari menaiki motor yang dikendarai Desi.
******
Tidak butuh waktu lama untuk sampai kantor Rasyid. Hanya dalam waktu lima menit aku sudah berdiri didepan kantor dengan tulisan ‘Ruang DanKi.’
Desi segera meniggalkanku, ketika dirinya telah melihat seorang pria berpakaian PDL lengkap dengan memakai baret dikepalanya.
Mengapa yang nampak seakan begitu menyakitkan hati? Sedangkan yang tak nampak terasa mendamaikan jiwaku? Bak perahu kertas yang tumbuh seribu.
Pria dengan seragam lengkap itu tersenyum padaku, akupun membalas dengan senyuman pias. “apakah dia, Rasyid?” sungguh aku telah lupa dengan sosok yang bernama Rasyid. Bahkan foto yang terpajang dirumah hijau yang aku tempati semalam, sangat berbeda dengan sosok yang tengah berdiri tepat dihadapanku.
“Hei… kok melamun?” ucap Pria itu, mengagetkanku.
“Eh… a..anu…” aku bahkan kebingungan harus berkata apa. Semua kata-kataku yang telah ku persiapkan jauh sebelum berlenggang ke Jakarta, serasa buyar.
“Anu apa? Ini saya Rasyid.” Katanya dengan tersenyum. “Ayo, kita berangkat.”
Ada getaran-getaran yang susah untuk diartikan didalam hati. Lututku serasa tidak sanggup untuk menyanggah kubuh. Keseimbanganku sedikit pudar.
__ADS_1
Rasyid melangkah kesebalah kantor kompi, menyalakan mesin mobil. Lalu, segera menghampiriku yang tengah berdiri bak orang sawan, didepan kantor.
“Dek, ayo berangkat?” ternyata dia sudah berdiri dihadapanku lagi. Meraih tas persit yang kubawa.
“Haah…” aku ternganga. “ka-mu…kamu panggil apa?” kataku sembari berjalan menuju mobil.
Rasyid menggeleng sambil tersenyum, “udah, kayanya kamu masih belum bangun.” Katanya.
“Maksudmu?” aku tidak boleh kelihatan seperti orang bingun. Aku harus menjaga sikap. Seperti yang sudah kurencakan. Aku harus angkuh kepadanya.
Rasyid tidak menjawab. Dia menancapkan gas mobilnya. Beberapa menit kami melintasi gerbang pos satu lagi. Lalu, setelah itu. Rasyid membelokkan mobilnya tepat di gang menuju rumahnya.
“Ayo turun…” ajak Rasyid.
Aku terbelalak. Tenggorokanku serasa tersumpal bongkahan batu besar.
“Ayo, Komandan udah nunggu kita lho.” Ucapnya lagi. Akupun segera turun dari mobil.
Ya, Tuhan… kalau memang rumah komandan tidak jauh dari rumahnya. Untuk apa aku harus menemui pria itu di kantor? Bukankah lebih baik jika tadi dia menjemputku langsung kerumah hijaunya itu?
“Ini rumahnya?” kataku datar.
“Iya, ayo masuk.”
*****
“Siap, benar Bapak.” Aku menjawab sesui pesan Rasyid, sebelum sampai rumah tersebut. Jika aku ditanya oleh komandan, harus membubuhkan kalimat ‘siap’ sebelum meneruskan kalimat.
“Sudah berapa lama kenal Lettu Rasyid?” ya Tuhan… pertanyaan macam apa itu? Perihal ini Rasyid tidak memberitahuku. Aku menoleh kearahnya. Berharap dia yang akan menjawab. Karena tidak mungkin aku menjawab jika kita kenal secara tidak sengaja, bahkan sampai saat ini, kami juga belum saling kenal.
Rasyid menjelaskan kepada komandannya, jika kami kenal belum lama. Lalu, dia mengatakan jika di jodohkan oleh kedua orang tua kami masing-masing.
Setelah mengajukan beberapa pertanyaan kepada kami, komandan Rasyid memberi beberapa nasehat serta pesan kepada kami.
Lalu, setelah memberi beberapa nasehat serta pesan, komandan yang bernama Letkol. Guruh tersebut, bertanya kapan kami akan menggelar pernikahan.
“Siap, ijin Komandan. Insya Allah setelah selesai mengajukan nikah kantor. Kami akan segera menikah.” Rasyid menjawab. Jawaban Rasyid membuatku tercengang. Seperti ada yang menyumpal di dalam dadaku.
“Ooh… sudah sampai mana pengajuan kalian? Kamu ‘kan sekolah, Syid?” tanya Letkol Guruh.
“Siap, ijin. Baru menghadap Komandan hari ini. Insya Allah hari rabu saya menghadap Bintal.” Jawab Rasyid tegas. Percakapan mereka berdua sungguh membuatku ikut tegang.
“Nama kamu siapa tadi?” Letkol Guruh bertanya padaku.
“Siap, ijin. Ayu Andira.”
“Profesi kamu dokter, ya?” Letkol Guruh diam sejenak, menatap kami secara bergantian. “Setelah calon suamimu sekolah Diklapa dua. Mungkin setelah kalian menikah, tepatnya. Rasyid akan segera ditugaskan ke Congo selama sebelas bulan. Kamu sudah tahu ya, Syid?” Letkol Guruh tersenyum.
__ADS_1
“Siap, ijin. Sudah Komandan.”
“Apa kamu sudah siap jika ditinggal sewaktu-waktu untuk sebuah tugas, Yu?” Letkol Guruh kembali melempar pertanyaan padaku.
Apa? Tugas ke Congo sebelas bulan? Terus untuk apa dia mengajakku menikah. Jika sehabis menikah harus ditinggal ke belahan bumi yang lain? “Siap. Mohon ijin Bapak, isnya Allah saya sudah siap.” Aku menjawab
sekenanya.
“Bagus. Karena memang itulah tugas seorang istri prajurit. Mendorong suami dalam tugasnya. Sekalipun ke medan perang.” Letkol Guruh tersenyum padaku.
Dengan perasaan kesal, aku mencoba untuk tersenyum semanis mungkin dihadapan Letkol Guruh.
*****
Sepulang dari rumah Letkol Guruh. Rasyid mengemudikan mobilnya menuju rumah hijau. Hatiku bertanya-tanya, apakah hari ini, dia akan tidur dirumahnya? Oh Tuhan… jika benar, matilah aku.
Aku harus tidur dimana sekarang? Di Jakarta aku tidak punya saudara, bahkan tidak kenal siapa-siapa. Pernah aku punya teman di Jakarta. Tapi, rumahnya pasti jauh, sebab yang aku ingat temanku ber alamat di jakarta barat. Sedangkan saat ini aku di Jakarta timur. Belum lagi aku sudah kehilangan kontak dengan temanku tersebut. Tamatlah riwayatku. Ibu benar-benar tega, membiarkan anak gadisnya sengsara disini.
“Kenapa, Dek?” tanya Rasyid. Sepertinya, bukan indra pendengaranku yang salah. Sedari tadi Rasyid memanggilku dengan sebutan ‘Dek.’
Aku masih enggan menjawab pertanyaannya. Hatiku masih bertanya-tanya. Apakah dia benar-benar akan tinggal satu rumah denganku malam ini?
“Sudah jam empat.” Rasyid melirik jam tangannya. “Mas harus segera balik ke Bogor.” Katanya, “Oh ya, tadi Mas juga udah telepon Ibu. Mas minta ijin sama beliau. Kalau kamu harus disini dulu. Sebab rabu sampai jumat kita
akan menghadap Bintal dan tes kesehatan.” Kali ini Rasyid benar-benar menegaskan. Jika dirinya memang memanggilku ‘Dek,’ dan seperti menggaris bawahi juga. Jika aku harus memanggilnya dengan sebutan ‘Mas.’
“Tapi…” aku menelan ludah yang mulai mengering. “Saya kerja.” Kataku.
Aku memang bekerja, bukan? Itu bukan sekedar alasanku. aku juga baru bekerja di Puskesmas. Jika harus ijin. Sepertinya hanya akan mempermalukan Pak Camat, yang sudah memberikan kepercayaannya kepadaku.
“Ibu sudah minta ijin sama Puskesmas tempat kamu kerja. Jadi, nggak usah dipikirkan. Lagian, sehabis nikah nanti. Kamu juga akan tinggal disini?” sergahnya.
“Nggak… saya nggak mau tinggal disini. Ibu dirumah sendirian.” Tukasku.
Rasyid terseyum. “Ibu juga setuju jika kamu tinggal disini.”
“Hei… bukankah tadi Komandanmu bilang. Kalau habis nikah, kamu akan ditugaskan ke Congo? Terus, saya disini ngapain?” kataku ketus.
“Dek… sabar ya? Jangan pakai urat. Cukup baso aja yang pake urat. Calon istri Mas. Pakai hati aja.” Katanya sembari tersenyum.
“Nggak lucu..” kataku dengan memayunkan bibir.
Rasyid masuk rumah, menuju kamarnya.
Astaga… dikamar itu ada sebuah kotak biru dari Pengelana, bagaimana jika Rasyid membukanya?
“Dek…” Rasyid memanggilku dari dalam kamar.
__ADS_1
Habislah riwayatku.