
Tubuhku terasa mengambang di awang-awang, kemudian melayang begitu saja menyapu gumpalan awan, bergerak seperti kapas putih yang terbang disapu angin. Ringkih dan ringan. Aku sedang berada di ketinggian, jauh dari pusat bumi. Aku bisa melihat pemandangan yang belum pernah terlihat sebelumnya, menyisir pantai, berlayar ke tengah laut, melintasi hijaunya pegunungan hingga berakhir di satu titik.
Di situlah aku berpijak sekarang, di rimbunnya padang ilalang. Aku hanya sendirian tanpa ada satu pun tanda kehidupan. Hanya ada sepoi angin yang menyapaku dan membelai rumpun ilalang di tengah teriknya matahari.
Kunikmati embusannya sambil berjalan di tengah jalan setapak kecil yang membagi dua petak padang ilalang. Tetiba, entah dari mana datangnya, dari kejauhan aku melihat sesuatu yang bergerak berlawanan arah denganku. Semakin kudekati, bayangan itu semakin jelas terlihat.
Sebuah benda hitam berbentuk tubuh manusia bergerak berlahan tanpa menoleh sedikit pun ke arahku. Aku berusaha melakukan berbagai macam cara untuk menarik perhatiannya, mencoba memanggil atau mengenalinya. Dia terus menjauh pergi dan hilang tanpa jejak. Aku masih saja terpaku. Sejenak, kutepis ragu dan menghindari prasangka tentang pertanda buruk yang akan terjadi dedepan sana.
Sebelum sempat aku mengayunkan kaki, langkahku terhenti begitu saja karena bayangannhitam itu kembali datang dan mengitari tempatku berdiri. Bayangan itu menjelma jadi sebuah kelompok, lama-kelamaan mereka mengurangi dan berusaha menggapai tubuhku. Aku berusaha mencari celah untuk menyelamatkan diri, hingga sebuah telapak tangan menjulur tepat dihadapanku. Aku terus meronta berusaha meraih
telapak tangan yang hendak menolongku. Terdengar suara dari pemilik telapak tangan itu sangat tidak asing di kedua telingaku. Lalu, aku tergaja.
****
Peluh bersimbah membasahi jilbab dan bajuku. Napas yang tersengal tak beraturan membuat bahuku naik turun dengan cepat. Mataku masih terasa berat, pusing di kepala juga belum sepenuhnya reda. Perlahan aku baru menyadari bahwa kejadian tadi hanyalah mimpi, syukurlah.
Aku berusaha bangkit dari ranjang dengan sekuat tenaga, memaksa tubuhku yang masih sempoyongan agar lekas berdiri. Baru kali ini aku tertidur dengan menenakan pakaian lengkap, bahkan kaos kakipun belum sempat ku lepas. Bau polusi di sepanjang jalan dari bandara hingga Cijantung masih melekat di sekujur tubuhku.
Aku mulai melepas jilbab yang basah karena keringat, lalu melangkah mendekati meja rias. Menelisik diri sendiri, apa yang sebenarnya terjadi dalam mimpiku barusan.
Kuamati ranjang yang tadi kutiduri. Kamar yang begitu sederhana dengan sentuhan warna putih ini benar-benar memberi kesan yang teramat biasa. Lagi-lagi, aku merasa ada yang menghangat di bagian tengah dadaku. Aliran darahku seperti berhenti seketika. Ketika aku mulai mengingat siapa yang sempat datang dalam mimpiku tadi.
Aku berusaha mencari ponsel yang tersimpan dalam tasku. Membuka kuncinya, lalu menggulirkan layar ke sebuah kontak atas nama Daffa.
Lama aku memandangi layar ponsel dengan sesekali menganjur napas panjang. Ada keinginan untuk menghubungi teman kecilku tersebut. Bertanya kabar, atau sekedar basa-basi tanya kapan pulang ke Indonesia?
Belum sempat ku pencet kontak atas nama Daffa. Terlihat sebuah pesan masuk melalui pplikasi wa. Benar saja, ternyata dengan secara tiba-tiba Daffa menanyakan kabar ku lewat pesan singkat.
Aku mengetuk-ngetuk ujung ponsel. Berkali-kali membaca pesan dari Daffa. Menimbang jawaban yang tepat untuk ku kirim padanya. Ada yang menyumbul dalam otakku. Kenapa dia bisa mengirim pesan secara bersamaan, ketika aku juga hendak menanyakan kabar tentangnya.
“Alhamdulillah baik.. kamu sendiri apa kabar?” setelah beberapa kali ku timbang-timbang. Akhirnya aku memutuskan untuk mengirim pesan tersebut kepada Daffa.
Hanya menunggu beberapa detik. Sebuah balasan dari Daffa terlihat di layar ponsel.
“Syukurlah kalau memang begitu. Entah Mhet, hari ini aku kepikiran kamu. Apa kamu bahagia dengan Rasyid?”
__ADS_1
Kedua alisku mulai bertautan. Mencoba membaca sekali lagi pesan dari Daffa. Kata ‘memikirkan kamu’ masih jelas bertengger di otakku. Belum sepenuhnya hilang. Apa maksud kamu? Itulah pertanyaan yang menjepit isi kepalaku.
Tapi, itu semua hanya monolog yang tak mungkin ku ketik, lalu mengirimkannya kepada Daffa.
“Bahagia.”
Sebuah jawaban singkat kupilih untuk segera kukirim kepada Daffa.
“Daffa, kamu belum menjawab pertanyaanku.. kamu apa kabar di sana?” tak ingin menduga-duga. Akhirnya pertanyaan perihal kabarnya ku kirim kembali. Kedua manikku fokus melihat kontak atas nama Daffa. Tetiba, Daffa offline.
Aku menganjur napas liar, “kebiasaan burukmu masih saja nggak ilang, Daf.” Gumamku setelah membuang napas secara kasar.
******
Menunggu balasan dari Daffa tentu bukanlah sesuatu yang kebiasaan. Terlebih perutku merasa lapar. Hingga memmbuat seluruh organ tubuhku mulai terganggu, terlebih isi dalam perut. Aku segera berjalan keluar kamar, membongkar isi dalam kulkas. Yang memang kebetulan sudah kami penuhi sebelum keberangkatan Rasyid ke
bandara tadi pagi. Merasa pusing melihat isi kulkas yang begitu banyak dengan bahan-bahan masakan. Akhirnya aku hanya meraih sebuah mie instan untuk segera ku masak.
Pikiranku menyeruak, tatkala melihat seisi dapur. Dimana aku yang biasanya tinggal nangkring di atas kursi meja makan, menunggu masakan suami datang. Kini, harus terbiasa untuk memasak makanan
“Ternyata aku membutuhkanmu, Mas.” Gumamku pada kompor.
******
Lamanya penerbangan Rasyid yang memakan waktu hingga 20 jam lebih. Mengakibatkan aku gelisah, sebab menunggu kabar darinya.
Pandanganku hampir tak pernah lepas dari benda pipih persegi panjang tersebut. Pikiranku menebak-nebak apakah dia sudah transi? Sebab tak ada kabar berarti darinya. Padahal aku sudah berpesan pada Rasyid, jika dia transit agar segera mengabariku.
Akupun serta-merta membuang napas begitu liar. Kedua sisi tanganku berusaha memijit-mijit kepala yang tak pusing sama sekali.
Dua jam.
Tiga jam.
Tiga jam setengah, aku mulai berselancar di aplikasi berbasis whatsapp. Mencari nama Rasyid. Berharap jika dia sedang online. Benar saja. tebakanku tak pernah meleset. Jika ku hitung dari perkiraan. Saat ini Rasyid tengah transit di Doha. Lalu, yang membuat aku sedikit geram kepadanya, adalah ketika aku melihat dia sedang online. Namun tak mengabariku. Manikku begitu fokus kedapa nama yang di
__ADS_1
bawahnya tertera kata online. Sengaja tak ku chat terlebih dulu, agar dia ber inisiatif untuk mengirim pesan terlebih dulu. Namun ternyata nihil. Aku menunggunya hingga tiga jam lebih. Dia sama sekali tak mengabariku.
Dari situ, pikiranku menerka dan menebak-nebak. Kenapa dia tak mengirimiku pesan atau menelponku barangkali?
“Mheta… minggu depan aku pulang ke Indonesia.” Pesan yang kuharap dari Rasyid, namun yang ku terima pesan dari Daffa.
Aku tak menjawab pesan tersebut. Namun, ada rasa penasaran dalam hati. Kenapa dia pulang mendadak? Bukankah waktu itu dia mengatakan padaku, jika akan memakan waktu yang cukup lama di Korea. Entahlah.
Baru saja ingin ku matikan ponsel. Sebuah pesan dari Daffa masuk lagi.
“Aku ingin memperpanjang visa.”
Kedua alisku bertautan. Perpanjang visa? Alasan yang benar-benar tidak masuk akal, dia baru saja ke Korea. Hitungan bulan. Tanpa sadar aku memicingkan senyum kepada layar ponsel.
“Mheta… di Indoneisa sudah hujan belum?” lagi-lagi Daffa mengirim pesan. Padahal dua pesan yang dikirimnya saja belum ku balas.
“Sudah..” jawabku singkat.
“Terus mana fotonya? Kan aku sudah berpesan kalau hujan pertama tolong fotokan.”
“Lagi sibuk, nggak sempat foto hujan.” Elakku.
Benar, Daffa memang pernah berpesan padaku. Jika hujan telah mengguyur Negara kami, dia memintaku untuk mengirimkan foto hujan kepadanya.
Daffa membalas hanya dengan emoticon berebentuk sedih.
“Kalau pulang kan juga tahu.” aku membalas emoticon tersebut.
“Ya
kan beda :( nanti judulnya nggak hujan pertama lagi dong.” Balasnya disertai emoticon sedih lagi.
Seketika aku mengulum senyum. Mengingat raut Daffa, yang jika cemberut. Dia akan terlihat sangat lucu.
Seperti yang sudah-sudah. Daffa selalu datang saat aku sedang membutuhkan hiburan. Dia selalu datang di saat yang begitu tepat. Saat aku mulai bersedih.
__ADS_1