
“Baiklah, aku setuju.” Jawab Carissa tetap dengan muka datarnya.
“Kamu setuju? Kamu memaafkanku, Sayang? Kamu tidak akan pergi dariku, kan?”
“Aku tidak tahu dengan kata maaf, karena jujur saja hatiku masih sakit karena pengkhianatan darimu. Tapi aku setuju untuk tetap bersamamu, ini kulakukan semata-mata demi kedua keluarga yang menyayangiku. Bukan karenamu. Satu tahun! Hanya selama itu aku akan tetap mencoba menjadi istrimu.”
Tama merasakan hatinya terasa tertusuk oleh pisau yang tajam, kenyataan yang ia dapati jika istri yang dicintainya tidak lagi mau bertahan untuknya ternyata lebih menyakitkan dari apa yang ia bayangkan. Ada rasa bahagia saat akhirnya Carissa menyerah dan memilih untuk tetap bertahan, namun rasa sakit yang teramat besar ia rasakan saat mendengar jika Carissa bertahan hanya demi keluarganya.
“Apakah ini memang sefatal itu, Risa? Sehingga membuatmu harus mempertaruhkan pernikahan kita?” tanyanya dengan tatapan nanar.
“Sefatal ini? Jadi kamu membuat masalah ini seolah-olah masalah yang biasa saja, dan aku harus mentolerirnya, begitu?”
__ADS_1
“Tidak, aku tidak memintamu mentolerirnya, bahkan sejak awal aku bilang jangan, kamu hanya perlu marah dan melampiaskan semua kemarahanmu padaku, Risa. Lalu kembalilah padaku dengan seluruh hatimu. Seluruh dirimu yang mencintaiku.” Ucap Tama dengan keras.
“Hanya dengan begitu?”
“Ya! Hanya dengan begitu!” Tama menggenggam kedua tangan Carissa dengan paksa, “Kita baru saja beberapa minggu menikah, Risa. Jangan mempertaruhkan pernikahan kita hanya karena masalah ini, kamu tahu jika aku sangat men . . .”
“Hanya karena masalah ini?” Carissa meradang. Tama terlihat panik saat melihat ekspresi istrinya yang kini berubah.
“Jika kamu mengatakan ‘hanya karena masalah ini’, maka izinkan aku juga melakukannya.”
“A-apa maksudmu?”
__ADS_1
“Aku akan melakukannya yang sama persis dengan yang kamu lakukan, Mas. Setelah itu aku akan kembali padamu dan tidak akan mempermasalahkan lagi tentang pengkhianatanmu, bagaimana hah?”
Tama mencengkeram kedua lengan Carissa, “Kamu ingin bercinta dengan laki-laki lain, Risa?” tanyanya dengan marah.
“Bukankah itu yang kamu lakukan, Mas? Kamu melakukannya dan menganggap responku terlalu membesar-besarkan masalah, karena hanya masalah seperti ini katamu. Mata di balas mata, pengkhianatan dibalas pengkhianatan. Paling tidak aku sudah mengatakannya padamu terlebih dahulu dan bukannya diam-diam bermain di belakangmu.”
“Tidak, tidak, tidak, Risa. Itu tidak boleh dan tidak akan terjadi, kamu milikku, hanya milikku! Hanya aku yang boleh menyentuhmu! Tolong, Sayang. Jangan berkata hal mengerikan seperti itu.”
Carissa melepaskan cengkeraman Tama dengan paksa, “Egois sekali kamu.” Ucapnya dengan tersenyum sinis, “Lebih baik kamu memesan tiket untuk pulang ke Jakarta sekarang, Mas. Tak ada lagi yang tersisa di sini. Aku tak mau melanjutkan bulan madu kita.” Carissa pergi dan masuk kedalam kamar mandi.
Tama merutuki kesalahannya di masa lalu, tidak pernah ia bayangkan jika hatinya akan tertambat dengan erat kepada seseorang, jika ia mengetahuinya, maka ia tak akan pernah melakukan kesalahannya di masa lalu.
__ADS_1
Tama duduk dan meraup wajahnya dengan kasar, hatinya terasa panas, jiwanya merasakan emosi yang teramat besar saat Carissa mengatakan ingin melakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan, “Aku hanya mendengar kata-katanya, dan betapa marahnya diriku saat membayangkannya, berarti apa yang dirasakan Risa lebih menyakitkan dari ini.” Ucapnya lirih, “Apa yang harus ku lakukan untuk melunakkan hatimu kembali, Sayang? Apa yang harus ku lakukan?” Tama terlihat frustrasi dan tak tahu harus bagaimana lagi.