PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
APAKAH INI, SESUATU YANG KEBETULAN?


__ADS_3

“Kira-kira aku harus pilih yang mana, Daff?”


Aku mengetik pesan untuk Daffa, kemudian buru-buru kuhapus. Seharusnya aku ingat bahwa kami sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Sial, hatiku masih saja ingin mengetahui kabar terkini tentang si cecunguk Daffa.


Mungkin, karena dulu kalau ada apa-apa aku sering minta pendapatnya. Biasanya dia akan memberi beberapa alasan, jika pilih ini begini, jika pilih itu begitu. Meskipun pada akhirnya dia akan mengiyakan saja apa pun yang aku pilih.


Sekarang, mengetahui jika Daffa berkata begitu pada ayah. Seketika membuatku yakin kalau yang dikatakan di telepon tempo waktu, bukan hanya isapan jempol belaka. Aku harus sadar diri, kalau sebenarnya aku sudah di lepeh. Huff.


Aku tidak tahu, apakah ini membuatku lega atau malah sebaliknya. Tetapi mungkin semacam penjernihan bahwa kami memang sudah bukan sepasang kekasih lagi, kalimat ini harus ditegaskan. Kalau perlu harus


dimasukkan dalam headline, jika seorang penulis yang berinisial Mheta bukan lagi kekasih dari seekor Daffa.


Tapi tunggu dulu, bukankah kami memang bukan sepasang kekasih? Setidaknya aku dan Daffa memang belum pernah berikrar mengucapkan kata I LOVE YOU atau apalah itu. Tapi kenapa tiba-tiba Daffa bilang waktu itu kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi? Ini aku yang **** apa Daffa yang terlalu pintar? Mengingat kejadian di telepon waktu itu, memang membuat dadaku sedikit sesak.


Kami bersama sejak kecil. Saling menjaga agar tidak melebihi batas satu sama lain. Saling menjaga agar tidak menyinggung satu sama lain. Dan mungkin saking menjaganya, Daffalah yang selama ini selalu mengalah. Sebelum terjadi perang dunia ke tiga kemarin, dia tidak pernah berkata “tidak” untuk sesuatu yang aku yakini.


Memang harus ku akui, kalau selama ini aku belum pernah bertemu dengan seseorang yang seperti Daffa. Dimataku, dia sosok sempurna setelah ayah. Dan orang-orang disekitar, menganggap kami adalah tetangga yang


mempunyai masadepan bersama. Tetangga macam apa kalian? Menerka-nerka masa depanku dengan Daffa. Asal kalian tahu, dia sudah membuatku ingin mencabuti setiap kenangan yang terukir dengannya.


Tapi bisa jadi, karena anggapan-anggapan itu, yang secara langsung ataupun tidak langsung juga membentuk menjadi semacam keadaan bahwa kami saling ada, dan saling membutuhkan. Hingga setelah dewasa aku baru


menyadari bahwa diantara kami bukan lagi dua anak kecil yang harus terus bersama. Bukan lagi dua remaja yang berbagi cerita dan sepotong hati satu sama lain, huuhhff. Karena ada sesuatu diatara aku dan dia, yang tidak perlu


dikatakan. Entah bagaimana kami bisa saling memahami.


Mungkin hal-hal itulah yang membuat hatiku terluka oleh kata-katanya. Setelah bertahun-tahun bersama. Kemudian mendapati kenyataan bahwa aku dan Daffa seolah menjadi sangat berjarak. Aku yang tak memahaminya? Dia


yang tak memahamiku? Atau kami yang tidak mau lagi berusaha untuk saling memahami?. Entahlah, yang jelas kini aku dan Daffa benar-benar bubar.


Seharusnya kami tetap baik-baik saja, terlepas dari jalan apa pun yang aku pilih. Jalan apa yang dia pilih. Seharusnya kami tetap memiliki hari-hari kami untuk selalu bersama, jangan hanya karena sebuah perbedaan, hilang semua kebersamaan selama bertahun-tahun. Tapi, ternyata tidak semudah itu. Kami justru saling melukai.


Entahlah…

__ADS_1


Jadi begini, kenapa aku meminta pendapat Daffa. Aku diterima sebagai salah satu tenaga medis di rumah sakit kemarin. Meski tidak menyangka pengumuman secepat ini. tentu saja aku gembira, dari empat yang dipanggil


wawancara hanya aku yang diterima.


Masalahnya adalah, ini pertengahan bulan. Aku tidak mungkin keluar begitu saja dari toko material. Karena dulu peraturan awal masuk, gaji tidak akan cair jika mundur mendadak sebelum memenuhi satu bulan. Sementara


gaji dari tenaga medis akan diterima pada bulan berikutnya di tanggal awal pertama masuk.


Aku disini sebagai perantau. Aku butuh makan selama satu bulan kedepan, bahkan butuh biaya trasnsport juga untuk menuju tempat kerja. Kalaupun aku harus pindah kost dekat dengan rumah sakit, belum tentu mendapat harga yang semurah di sini. Maaf, mungkin kalian berfikir jika aku ini orangnya pelit.


Aku merenung lama perihal itu. Dan satu-satunya pilihan yang masuk akal adalah, aku terpaksa melepas pekerjaanku di toko material, dan mau tidak mau harus membuka tabungan, hasil dari menulis.


****


Selamat datang hari yang sibuk.


Minggu pertama bekerja di rumah sakit, aku mendapat jam dinas pagi. Menempuh sebagian jarak dengn jalan kaki. Kupikir ini bisa mendapat dua manfaat sekaligus. Pertama aku jadi bisa olahraga. Dan yang kedua aku tentu bisa berhemat untuk satu kali naik angkutan umum.


Aku menyemangati diriku bahwa Stephen King juga terbiasa jalan pagi. Aku menyukai udara yang masih bersih. Juga sinar matahari yang menyepuh segala dengan lembut.


Oh, ya di rumah sakit aku bekerja sebagai dokter umum di bagian ruang UGD. Yang harus kalian tahu juga, aku ketempat kerja membawa sebuah botol bekas mizone dengan sebuah gambar bibir tersenyum. Dan ku kasih tulisan “semangat untuk kita, pengelana” sepertinya aku sudah mulai gila. Apalagi botol tersebut tak kuisi air. Sampai ada salah satu perawat yang bertugas di ruang UGD, menanyakan perihal botol bekas berwarna biru tersebut.


“Dok, itu botol lucu banget, pakai ada tulisannya segala. Apa Dokter belinya dulu sama Manager mizone? Atau jangan-jangan Dokter dikasih mizone sama Li Min Ho?”


“Li Min Ho siapa?” dahiku sedikit mengkerut. Karena aku memang tidak hafal sama nama-nama orang aneh.


“Aktor Korea yang tampannya sejagat raya.”


“Oh, ya? Aku baru tahu, kalau dia tampan, sebab selama ini lelaki tampan yang pernah aku jumpai hanya ada satu.” Jawabku sambil memandangi botol kosong yang sengaja aku taruh disudut meja kerja.


“Siapa, Dok? Pacarnya ya?”


“Bukan.”

__ADS_1


“Terus siapa?”


“Ayahku.”


Dua pekan kerja dengan setengah perjalanan berjalan kaki, membuatku seperti orang paling sibuk seantero. Aku tidak sempat membaca buku. aku membuka laptop hanya sekedar untuk membuat artikel yang wajib kusetor.


Jadi karena ini hari libur, selepas subuh, aku memutuskan untuk membayar secara tunai tidurku yang kurasa masih kurang. Tapi aku ingat nasehat ayah yang selalu berpesan jangan tidur habis subuh. Akhirya kuputuskan membuka facebook.


Ada beberapa notifikasi, diantaranya dari grup sastra minggu. Salah satu grup yang menjadi pusat bertukar informasi berbagai media dari seluruh Indonesia. Seketika aku berdebar. Tulisanku yang mana yang dimuat?


“Selamat Mheta, cerpenmu seorang bermantel basal yang tengah mencabuti kenangan dari kepalanya dimuat di****.”


Alhamdulilah, sekonyong-konyong aku merasa melayang. Itu salah satu media impianku. Berkali-kali aku mengirim ke sana selama tiga tahun belum pernah dimuat. Dan kali ini hanya butuh waktu dua minggu untuk tayang di halaman koran itu.


Kantuk dan lelahku hilang seketika. Ini benar-benar kejutan yang luar biasa. Berkali-kali aku mengucap hamdalah. Aku menuju web surat kabar tersebut, dan mengunduh epaper-nya.


Aku masih membalas beberapa komentar dan ucapan selamat yang masuk. Ada yang bertanya berapa lama kirim. Ada yang bertanya apakah dikabari atau tidak saat akan dimuat, dan tentu saja ada yang bertanya alamat email. Hal-hal begini sudah biasa, dan kami sering berbagi.


Seperti saat ini, satu pesan masuk inbox. Saat melihat siapa pengirimnya, seketika aku melempar ponselku. Aku mengucek mata untuk memastikan tidak salah baca sebelum kembali mengambil benda itu. Untung saja jatuhnya dikasur. Coba kalau kelantai, bisa hancur luluh lantah ponselku.


Fuih!


Pesan itu dari Pengelana. Dengan menahan napas, aku membukanya.


“Hei, harusnya kamu bilang pada saya kalau mau dijadikan cerpen. Kalau saya nggak terima bagaimana? Saya bisa menuntut kamu, lho. Dan kamu nggak dapat mengelak, misalnya dengan mengatakan nggak bisa menghubungi saya, karena saya meninggalkan nomor ponsel. Saya yakin, nomornya masih kamu simpan


dibuku kamu.”


“Terus satu lagi, kenapa di ending cerita tidak kamu tulis kalau Pengelana meninggalkan nomor ponselnya? Kalau mau bikin cerita jangan nanggung dong.”


Seketika aku membungkam mulut. Dia juga melampiran foto halaman cerpenku. Aku sedang duduk, tapi kedua lulutku gemetar dan mendadak merasa mual. Oh, Tuhan. Jadi akun yang aku temukan kemarin tiu benar-benar


Pengelana? Mampuslah aku.

__ADS_1


Koran yang sekarang memuat cerpenku adalah salah satu media yang diikuti akunnya. Harusnya ini sesuatu yang wajar. Namun, tetap saja rasanya sangat mengejutkan. Sempit sekali dunia ini.


Harus kubalas apa????


__ADS_2