
Pesta pernikahan tengah berlangsung. Pesta yang penuh kebahagiaan itu dihadiri sebagian besar oleh keluarga. Hanya sedikit tamu undangan luar karena tempat pelaksanaan yang memang cukup jauh.
“Ada yang kamu inginkan, Sayang?” Tama menemani Carissa kembali setelah ia mengantarkan neneknya kembali ke kamar.
“Bagaimana dengan Nenek?”
“Nenek baik-baik saja, nenek hanya kelelahan. Bagaimana denganmu? Jika kamu juga merasa lelah, kita bisa kembali ke kamar sekarang.”
“Sebentar lagi. Aku sedang menikmati pestanya. Lihatlah, Mas.” Carissa menunjuk ke arah Allen berada.
“Padahal aku sudah memperingatinya.”
“Siapa tahu gadis itu akan menjadi jodohnya.”
“Kamu jangan salah kira. Lira itu juga sama dengan Allen, dia suka bermain-main dengan banyak pria.”
“Oh! Benarkah?”
“Ya. Mereka akan cocok menjadi pasangan ranjang satu malam. Dulu, dia bahkan pernah mencoba merayuku.”
“Apa?” Carissa berdiri dan hendak mendekati Lira.
“Tunggu! Mau kemana kamu, Sayang?”
“Aku ingin bertanya kenapa dia menggoda suamiku.”
__ADS_1
Tama tertawa geli, “Kenapa Mas tertawa? Apa yang lucu?”
“Kamu yang lucu, Risa. Aku mengatakannya dulu. Jauh sebelum aku mengenalmu. Kira-kira saat awal aku memegang kendali perusahaan. Dia memang mengincar laki-laki kaya.”
“Bukankah dia juga masih sepupumu?”
“Dia sepupu jauh. Jadi tidak masalah jika misalkan aku mempunyai hubungan dengannya. Kemarilah.” Tama menarik pelan tangan Carissa.
Carissa kembali duduk dan bersandar di pundak suaminya, “Aku pasti terlihat bodoh. Dengan mudahnya tersulut amarah.”
“Tidak, kamu sungguh menggemaskan. Aku senang kamu cemburu.”
“Kamu senang?”
“Tentu saja. Selama ini hanya aku yang merasa cemburu karena banyak sekali laki-laki yang mengerubungimu seperti lalat.”
“Ya. Dan aku bersyukur karena hal itu.” cup! Tama mengecup bibir merah istrinya. Hal itu cukup bisa membuat ibu hamil itu merona. “Mau berdansa?” ajak Tama saat lantunan lagu lembut mulai mengayun.
“Tentu saja.”
Semua orang berdansa dengan anggun, tubuh mereka bergerak secara ringan mengikuti alunan lagu. Tak ada kesedihan dan hanya kebahagiaan yang melingkupi tempat itu, kecuali dengan seseorang yang sejak awal pesta di mulai terus memperhatikan dari kejauhan. Di matanya terpancar kemarahan dan kebencian dikarenakan seseorang yang terus tersenyum bahagia.
“Harusnya aku yang ada di pelukanmu saat ini, harusnya hanya padaku senyum itu kamu tunjukkan, harusnya hanya denganku kamu menghabiskan malam-malammu.” Perempuan itu terus menggumam sendirian.
“Harusnya saat itu aku menyiramnya dengan air panas, atau sekalian saja aku jatuhkan saja biar j*lang itu keguguran.” Ucapnya dengan marah.
__ADS_1
“Tindakan Nona kemarin cukup berbahaya.”
“Aku tidak bisa menahan emosiku saat aku mendengar mereka mengumumkan kehamilan perempuan j*lang itu dengan penuh kebahagiaan. Aku sangat membencinya.”
“Untung saja mereka tidak memberikan hukuman kepada kita, jika kita di hukum, maka Nona tidak akan bisa melanjutkan rencana Nona Amelia.”
“Kris, menurutmu apa yang harus ku lakukan? Lihatlah wajah pria yang sangat ku cintai itu, dia tersenyum begitu lebar. Apakah benar-benar tidak ada kesempatan untukku?”
“I-itu . . .”
“Berikan jawaban yang jujur padaku, Kris. Apakah aku masih bisa mendapatkannya?”
“Tuan Tama terlihat sangat mencintai istrinya, Nona.”
Amelia diam-diam menitihkan air mata, hatinya terasa begitu sakit, dia sadar jika tidak akan bisa mendapatkan Tama, namun otaknya tetap menolak dan tubuhnya tetap ingin memiliki pria terlarang itu.
“Lakukan satu hal untukku, Kris.”
“Apa itu, Nona?”
Amelia membisikkan sesuatu kepada Kris Danu, laki-laki itu sempat terkejut namun akhirnya ia memilih untuk mengatur ekspresinya kembali.
“Apa Nona yakin? Ini suatu hal yang sangat besar.”
“Aku yakin, Kris. Untuk yang terakhir kali, aku harus membawanya bersamaku. Jadi tolong aku untuk kali ini saja.”
__ADS_1
Matahari perlahan bergerak turun meninggalkan matahari senja yang terlihat begitu cantik dan membawa suasana romantis. Pesta pernikahan telah usai ditandai dengan ucapan terima kasih dari kedua pengantin. Semua tamu perlahan mulai berkurang dan kembali ke tujuan masing-masing, begitu pula dengan Tama dan Carissa, mereka kembali menuju kamar untuk beristirahat.