PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
Eps 81


__ADS_3

“Sudah siap, Sayang?” tanya Tama saat ia sudah menunggu di luar. Tama malam ini hanya menggunakan celana pendek berwarna putih dan juga kemeja pantai dengan warna cerah.


Carissa keluar kamar dengan menggunakan maxi dress berwarna merah maroon dengan corak sederhana berwarna navy, model V Neck, membuat bra pantai hitam itu mengintip diantara celah, lalu belahan rok di samping kanan dan kiri sukses meng-ekspos kaki jenjang cantik nan putih mulus.


“Sa-Sayang, bisakah kamu berganti baju dengan yang lebih tertutup. Paling tidak jangan ada belahannya, ya.” Pinta Tama.


“Kenapa? Ini kan baju pantai.”


“Ta-tapi, baiklah.” Akhirnya Tama mengalah karena ekspresi tak nyaman istrinya mulai terlihat.


Dengan di antar mobil dari hotel, Tama dan Carissa tiba di pesta yang sudah dipenuhi lautan orang. Tidak semua bisa masuk dan menembus pengawalan ketat pesta itu karena ini pesta tertutup, namun tetap saja cukup banyak yang datang.


Selama pesta, Carissa meliukkan tubuhnya dengan bebas di tengah alunan musik yang menggaung keras, dentuman musik membuat seisi pesta berteriak riuh dengan riang, dan baru kali ini Tama mengetahui jika istrinya bisa menikmati pesta semudah ini. Beberapa orang sibuk menari di tengah panggung, ada juga yang sedang menepi untuk bermesraan tanpa memperhatikan orang sekitar, sedangkan Tama sedang sibuk melindungi Carissa yang terlihat bebas tanpa beban.

__ADS_1


Gadis cantik itu melepaskan semua beban pikirannya dan menari dengan riang. Terlihat beberapa laki-laki yang mencoba mendekatinya, namun dengan sengit Tama memandang mereka tanpa berbicara, hanya dengan itu cukup membuat orang-orang itu mundur tanpa perlawanan. Sebenarnya banyak gadis yang tergiur dengan tubuh penuh otot milik Tama, namun pria beristri itu selalu menolak ajakan para gadis itu dengan menunjukkan cincin yang ada di jari manisnya sambil melotot dengan menakutkan.


Akhirnya Carissa mundur dari panggung dan memilih duduk di kursi yang kosong, dia terlihat bahagia dan sedang mengatur napasnya yang kelelahan.


“Aku mau ambil minum dulu, Mas.”


“Tunggu! Biar aku saja yang ambilkan, kamu di sini saja.” Tama khawatir jika Carissa salah ambil minuman, karena di pesta itu juga disediakan minuman keras.


“Iya, iya.”


Tama pergi dengan cepat untuk mengambil minuman dingin untuk istrinya, namun tak seperti dugaannya, ia cukup kesulitan kembali ke istrinya berada dengan cepat karena hadangan dari beberapa gadis yang berusaha merayunya. Dengan sedikit usaha, akhirnya Tama berhasil lolos dari gadis yang haus akan belaian semalam itu.


Namun sesampainya di sana, betapa terkejutnya ia saat tidak mendapati istrinya ditempat. Tama terus meneriakkan nama Carissa dan mencari istrinya dengan panik, hal itu cukup menyita perhatian semua orang. Musik sempat dihentikan sebentar atas permintaan Tama, walaupun ia menaiki panggung dan mencari keberadaan istrinya, ia tetap tidak menemukannya. Akhirnya pesta tetap dilanjutkan dan Tama keluar dari pesta itu.

__ADS_1


Menurut penjaga diluar, memang ada seorang gadis yang terlihat mabuk berat dan digendong keluar pesta dalam keadaan tidak sadarkan diri, ia juga memberikan ciri-ciri gadis itu yang memang mengarah ke Carissa. Tama mengumpulkan pengawalnya, Vian dan anak buahnya, malam ini sebenarnya Tama sengaja tidak membawa pengawalnya karena ia mengira semua akan baik-baik saja karena ada dirinya di dekat istrinya, namun ternyata perkiraannya salah besar, seseorang telah menculik Carissa.


“Kami akan menyisir jalan-jalan, Tuan.”


“Tidak perlu, aku yakin sebentar lagi orang itu akan menghubungiku. Lacak telepon itu dan dengan cepat temukan keberadaan istriku. Aku rasa tahu siapa orangnya.”


“Baik, Pak.”


Tama memasuki mobil van hitam yang memang dibawa Vian, di dalam sudah tersedia alat pelacak yang akan digunakan untuk mencari tahu keberadaan istrinya. Sepuluh menit berlalu, dua puluh menit berlalu, belum ada panggilan. Tama terlihat semakin panik dan khawatir, Vian saja merasa heran karena baru kali ini tuannya itu merasakan ketakutan yang luar biasa, sebelum Tama semakin kehilangan akal, akhirnya ada sebuah telepon yang masuk kedalam telepon genggamnya.


“Hay, Tama.” ucap gadis itu dengan menggoda, dan dapat Tama ketahui secara pasti jika itu adalah suara Amelia.


“Dimana istriku!”

__ADS_1


__ADS_2