
“Kamu baik-baik saja, Sayang? Maafkan aku, aku kelepasan.”
“Kamu selalu meminta maaf setelah melakukan hal yang berlebihan, dan bukannya mencegah agar tidak terulang kembali, kamu malah akan mengulanginya lagi.” Jawab Carissa sebal. Saat ini ia sedang mengobati kedua telapak tangan Tama yang kembali berdarah dan memperban ulang luka itu.
“Kamu marah padaku? Kamu kecewa?”
“Jika aku kecewa tentang itu, aku sudah meninggalkanmu dari hari pertama sejak malam pertama kita.”
“Maaf, Sayang. Entah kenapa setiap menyentuhmu, rasanya sulit sekali mengendalikan diri. Aku memang binatang!” ucap Tama dengan sendu.
Carissa menyentuh pipi Tama dengan lembut, lalu mengecup bibir suaminya dengan singkat “Bagaimana bisa kamu menyebut dirimu seperti itu, Mas. Kamu manusia, bukan binatang.”
“Aku sadar jika aku seorang manusia, tapi dibawah ini ada binatang buas yang siap menerkammu kapanpun. Lihatlah.” Tama mengarahkan tangan Carissa untuk menyentuh adik kecilnya, “Bahkan hanya dengan kecupan singkatmu tadi, ia sudah sekeras ini.”
“Mas Tama! bagaimana bisa . . . i-itu . . .”
“Inilah yang terjadi padaku setiap kali mendapat sentuhan darimu.”
“Kalau begitu, mulailah menjaga jarak dariku.” Perintah Carissa dengan kesal.
“Mana bisa begitu!” Tama langsung menarik istrinya dan membawanya kedalam pelukannya, “Mana bisa aku jauh-jauh darimu. Aku akan kehabisan napas jika kamu menjaga jarak dariku.” Ucap Tama dengan manja.
“Menjauh dariku! Jangan menempel padaku seperti ini! Lukamu nanti berdarah lagi.” Carissa kesusahan mendorong wajah Tama yang kini sudah sibuk mengecup kembali lehernya.
“Kalau begitu, batalkan dulu perintahmu. Aku tak akan berhenti jika kamu tidak mencabut perkataanmu tadi.”
“Iya, iya, kamu tidak harus menjaga jarak, Mas. Udah, ahhh . . .!” dorong Carissa dengan kuat. Tama akhirnya melepaskan targetnya dan tersenyum tanpa dosa. “Lepaskan pelukanmu, Mas.”
__ADS_1
Tama menggelengkan kepalanya, “Tidak! Sebelum kamu menciumku.”
“Mas, udah ah. Aku lapar, nih. Kita belum sarapan. Makan dulu, yuk.”
“Cium dulu!” pintanya sambil mengerucutkan bibirnya.
Carissa tertawa saat melihat tingkah suaminya yang kekanak-kanakan, “Kenapa kamu seperti ini? Kenapa jadi manja banget, sih?”
“Aku akan menjadi kekanak-kanakan setiap bersama denganmu.” Tama terus mengisyaratkan untuk meminta cium sebelum melepaskan istrinya, ia tetap mengerucutkan bibirnya dan membuat ekspresi menggemaskan.
“Baiklah-baiklah.” Carissa mengikuti keinginan suaminya dan mencium bibir Tama dengan geram. “Sudah puas, Tuan?”
“Kalau kamu menanyakan tentang kepuasan, aku akan meminta untuk . . .”
“Cukup!” Carissa menempelkan jarinya untuk membungkam bibir Tama, “Jangan dilanjutkan. Ayo kita makan dulu, Mas. Aku lapar.”
Carissa memesan makanan dan meminta pihak hotel mengantarkannya ke kamar mereka. Setelah pesanan datang, ia dan suaminya makan dengan tenang dengan membuka tikar ditepi pantai dan dibawah pohon kelapa yang teduh. Carissa menyuapi Tama dengan sabar karena tangan Tama masih terluka.
Vian dan seluruh pengawal yang berjaga di sekitar mereka turut bahagia melihat tuan dan nyonya mereka bisa tersenyum bahagia lagi.
***
Malam ini, ruang tamu di kamar hotel Tama dan Carissa terlihat ramai. Mega datang dari Amerika saat mendengar kabar dari Allen, Bagas dan juga Siska turut datang bersama dengan Mega yang terlebih dahulu menghubungi.
“Bagaimana keadaan kalian?” tanya Mega saat ia baru saja duduk di ruang itu.
“Kami baik-baik saja, Mam. Hanya saja tangan Mas Tama masih belum sembuh total karena sempat menahan pisau yang di tujukan padaku.”
__ADS_1
“Astaga, Ca.” Siska memeluk keponakannya dengan sedih, “Kenapa ada musibah seperti ini di saat bulan madu kalian? Untung saja kamu tidak apa-apa, Sayang.”
“Terima kasih, Tama. Sudah melindungi Carissa dari bahaya.” Ucap Bagas.
“Jangan berterima kasih, Pa. Itu sudah kewajiban Tama. Tama adalah suami Carissa.”
Seisi ruangan itu memandang Tama dengan perasaan penuh syukur dan juga terima kasih atas tindakannya yang dengan mudah mempertaruhkan nyawanya demi istri yang dicintainya.
“Kenapa kalian tidak langsung kembali ke Jakarta saja?” tanya Bagas.
“Iya, kenapa tidak ke Jakarta saja? Mam takut jika kalian masih dalam bahaya selama tinggal di sini.”
“Kami masih ingin berada di sini, Mam, Pa, sampai jadwal bulan madu kami selesai, untuk keamanan, Vian sudah memperketat pengawalan dan menambah penjagaan.”
“Lalu bagaimana dengan perempuan gila itu?” tanya Mega.
“Sekarang sedang dalam proses hukum. Pak Firman sebentar lagi juga akan sampai, ia akan memberikan laporan dengan kelanjutan kasus ini.
Sambil menunggu pengacara keluarga itu datang, mereka mengobrol dengan ringan sambil menanyakan beberapa hal penyebab terjadinya penculikan itu. Carissa juga sempat melakukan panggilan video dengan nenek Lita yang masih berada di Amerika.
Tepat pukul empat sore, Pak Firman tiba di kamar hotel tempat Tama dan Carissa tinggal.
“Silahkan masuk, Pak.” Tama mempersilahkan.
“Maaf Pak Tama, saya harus memberitahukan kabar yang kurang menyenangkan.”
Semua wajah di ruangan itu turut menegang karena Firman langsung mengungkapkan maksud kedatangannya.
__ADS_1