
Senyum cerah Carissa telah hilang dan berganti dengan kekecewaan, perempuan cantik itu melepaskan genggaman tangannya dengan lemas, “Baiklah kalau begitu. Kukira ucapanmu tadi sungguh-sungguh. Tapi ternyata aku yang terlalu memasukkannya ke dalam hati.” Carissa berjalan menuju kamar mandi dengan menunduk.
“Sial!” umpatnya dalam hati. Ia berjalan menyusul Carissa langsung mengangkat tubuh perempuan yang saat ini terkejut karena tindakannya.
“Mas? Apa yang kamu lakukan?”
“Kamu harus bertanggung jawab karena menunjukkan ekspresi seperti itu padaku.”
“Apa!”
Tama mendorong pintu kamar mandi dengan kasar, karena tangannya tengah sibuk memegang erat tubuh istrinya, dan bibirnya saat ini sedang mencumbu dengan damba. Sudah lama ia menahannya, kali ini ia sudah kehilangan akal sehatnya, dan tak bisa mengendalikannya.
Tama menurunkan tubuh Carissa dengan perlahan, dan menghidupkan kran air untuk mengisi bathtub yang berukuran cukup besar itu. Selama menunggu air terisi, Tama kembali fokus untuk mencium bibir merah yang sudah mulai sedikit membengkak itu. Tama mendudukkan Carissa di atas lemari yang tingginya hanya sebatas pinggangnya saja. Memudahkannya untuk terus mencumbu dan menyentuh tubuh Carissa.
“Mas?” panggilnya di sela-sela napas yang menggebu.
“Ya, Sayang.”
__ADS_1
“Aku menginginkanmu, aku sangat menginginkanmu.”
“Aku juga, Risa. Rasanya aku akan menggila jika tidak menyentuhmu lebih lama dari ini.”
“Aaakhh!” Carissa menggeliat saat Tama menyapu habis leher putihnya dan tangan besar itu menyelinap di balik bajunya dan meremas dadanya.
“Aku tidak bisa menahannya lagi, Risa. Bolehkah?”
Carissa mengangguk pelan, “Lakukan, Mas. Karena aku juga menginginkan dirimu.”
“Tapi . . . bagaimana dengan anak kita di dalam?”
“Terima kasih, Sayang.” Tama melepaskan semua pakaian yang Carissa kenakan. Lalu ia melepaskan sendiri baju yang menempel di tubuhnya.
Carissa bisa dengan jelas melihat, jika benda dibawah itu sudah menegang dan mengeras, dalam hatinya ia merasa senang karena ia juga merindukan benda itu memasuki dirinya.
“Emmmpp!” Carissa mendes*h karena Tama sudah menyapu bersih pu**ng nya dengan lidah. Lidah itu menari-nari di atas pu**ng yang sudah menegang.
__ADS_1
“Arrgghhh! Mas Tama!” teriaknya. Sedikit membungkuk, kini lidah panas itu sudah beralih ke atas daerah tersensitifnya. Carissa menggenggam rambut Tama dan tanpa sadar ia sedikit menekan kepala Tama karena gelanyar kenikmatan sampai kepadanya.
Tama mengangkat kepalanya saat memastikan Carissa telah mencapai apa yang di carinya, “Tunggu! Itu . . . aakhhh, akhhh!” Tama memasukkan dua jarinya kedalam milik Carissa. Awalnya perlahan-lahan, namun semakin lama Tama menambahkan ritme pergerakan tangannya.
“Aku rasa dengan ini saja, Sayang. Lebih baik kita tidak melakukannya terlalu jauh.”
“Tidak! Tidak cukup! Aku mau itu. Aku menginginkannya.”
“Apa! Aarrgghhh!” Tama menggeram saat Carissa berhasil menyentuh benda besar miliknya. Dengan tetap bercumbu, Carissa mengurut benda tegang itu.
“Aku ingin dirimu sepenuhnya, Mas. Sepenuhnya.” Ucapnya memberikan perintah.
Tama terlihat berfikir sejenak, lalu ia memilih untuk menyerah karena tak mampu lagi menahannya, “Baiklah Ratuku, sesuai perintah.”
Tama menarik pinggang Carissa agar lebih dekat dengannya dan mengangkat satu kaki seksi itu, ia bisa melihat ekspresi Carissa yang sudah tak sabar saat ia menggesekkan benda miliknya ke milik istrinya yang sudah basah.
“Aku akan memasukkannya. Aarggghh!” Tama menggeram karena akhirnya ia bisa merasakan lagi memasuki tempat favoritnya itu. “Aku akan pelan-pelan, Sayang.” Ucap Tama pada awalnya. Namun pada akhirnya, ia tak sadar jika sedikit demi sedikit menambah kecepatan gerakannya.
__ADS_1
Air di dalam bathtub telah meleber sampai keluar dan membasahi lantai, namun keduanya tak peduli karena mereka telah berpacu dengan kenikmatan dan melepaskan kerinduan yang mereka tahan selama ini.
“Oh, Risa. Kamu sungguh membuatku gila.” Lenguhnya sesaat setelah merasakan puncak kenikmatan bersama-sama.