PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
RASA ITU HADIR


__ADS_3

Irama guntur menemani kilatan petir yang menari di kelabunya langit. Desau angin pun terdengar jelas di gendang telinga. Menggerakkan jilbab pelangi yang menutupi mahkotaku. Seakan bercanda bersama dalam gurauan peralihan cuaca yang tak bisa di terka.


Dua bulan sudah. Aku menjalani hidup bersama seorang Rasyid. Tak ada kejadian yang istimewa dua bulan ke belakang. Bahkan, Rasyid tak ingin


mengorek info tentang hubunganku bersama Pengelana. Dia memilih untuk diam, dan percaya dengan cerita kilatku sewaktu pulang dari bandara tempo dulu. Ia benar-benar seakan telah menutup telinga rapat-rapat perihal Pengelana.


Aku menikmati kedatangan awan kelam yang menggantung dan tampak mengancam di lantai tiga hotel Aston. Bangunan yang terletak di Jalan Simatupang Jakarta Selatan, ini memang tidak terlalu tinggi di bandingkan bangunan pencakar langit lainnya, tapi cukup untuk sekedar menjadi tempat menepi. Ya, menepi. Sebuah hobi baru beberapa bulan yang memberiku ruang bernapas dalam kesendirian. Menikmati senja.


Aku dan Rasyid memang lebih banyak menghabiskan waktu akhir pekan di hotel Aston. Bukan tanpa alasan. Sebab, hotel yang lumayan populer tersebut. Salah satu pemiliknya berasal dari keluarga besar Rasyid.


Jadi, tak ada salahnya, jika kami yang notabenenya masih tergolong sebagai pengantin baru ini. Lebih banyak menghabiskan waktu malam di


sebuah kamar hotel. Meski kali ini aku tidak beruntung, sudah separuh hari matahari enggan memperlihatkan diri. Putihnya awan juga tampak lain hari ini, seperti susu yang di campur kopi. Mungkin sebentar lagi rintik hujan akan membasuh debu-debu jalanan ibu kota, atau bisa jadi gumpalan-gumpalan awan yang terlihat semakin menghitam itu jadi pertanda akan ada hujan besar malam ini.


Aku masih berdiri mematung di jendela kamar hotel. Pikiranku menerawang jauh. Sangat jauh hingga tanpa sekat dan batas. Sekelebat mata, aku menyaksikan sosok Pengelana dan Daffa tengah berlarian di ujung pupil mataku. Hingga membentul simpul senyum yang terurai dari kedua sudut bibirku.


“Kalian.. apa kabar?” gumamku.


Kuteguk habis air mineral yang isinya hanya tinggal setengah


botol saja. sebuah alas kertas plastik, sisa kue kesukaanku masih ada di dekat kakiku, karena jatuh ketika aku tengah fokus mengedar pandang ke arah luar jendela. camilan manis sore hari jadi semacam kewajiban buat hatiku yang sedang berantakan, mungkin? Tak banyak membantu, tapi sedikit memperbaiki mood yang mudah turun beberapa hari belakangan.


Ponsel disakuku bergetar. Nama Rasyid muncul di layar.


Setelah menjawab telepon dari Rasyid, akupun bertanya ada apa dia menelpon tengah sore begini. Apalagi kita berada di satu gedung yang


sama.


Ternyata, dia masih ngobrol dengan manager hotel ini. katanya, kalau aku mau dia akan menyuruh salah satu pegawai hotel untuk menjemputku, untuk menemani Rasyid ngobrol di lobby hotel. Aku bilang tidak usah, sebab aku masih ingin menikmati suasana sore yang diselimuti kabut tebal.


Setelah itu, aku memutus sambungan telepon.


Aku mendesah dan segera mengangkat serakan bekas kue yang berada di dekat kakiku. Lalu bejanjak.

__ADS_1


“Kenapa nggak mau nemani mas di lobby?” tiba-tiba Rasyid berdiri di hadapanku, saat aku baru saja berjalan menuju pintu.


Aku hanya membalas dengan senyuman basa-basi dan melewatinya. Sungguh perasaanku sedang amat tidak baik-baik saja.


“Kamu kenapa toh, Dek?” tanyanya di belakangku.


Sekali lagi, aku hanya melempar senyum pada suamiku tersebut.


“Apa ada yang salah dengan Mas mu ini?”


Aku tercekat, kata-kata yang baru saja di layangkan oleh Rasyid. Benar-benar menusuk jantungku. Jujur, tak butuh waktu lama, aku sudah menaruh benih-benih cinta terhadap Rasyid. Ketika benih-benih itu mulai ku semai dan kusiram. Kini, dia akan pergi meninggalkanku dalam waktu  sebelas bulan ke depan.


Mataku menelisik pada kedua indera penglihatannya, tatapanku mulai mengembun, dadaku berdesir hangat. “Ayu nggak tahu, apa yang sebenarnya Ayu rasain. Tapi, ketika Mas bilang akan pergi ke Congo selama sebelas bulan. Jujur, hati Ayu kacau.” Suaraku mulai terdengar parau, “Kenapa, setiap Ayu sudah merasa nyaman dengan seseorang, Ayu selalu ditinggalkan?”


Rasyid melayangkan pelukan hangat kepadaku. Hingga aku


merasa tenang. Tak ingin rasanya Rasyid melepaskan pelukannya, aku membalas pelukan itu seerat mungkin.


“Aku mencintaimu, Mas.” Runtukku dalam hati. Tak mungkin


“Mas, ke Congo cuma sebentar, sebelas bulan itu nggak lama kok?” bisiknya di telingaku. Lalu, aku merasakan ada sesuatu yang hangat merembas di sela-sela kain bermotif pelangi.


Rasanya tidak mungkin seorang Rasyid menangis. Ketika aku


melonggorkan pelukanku, Rasyid malah sebaliknya. Sepertinya dia tidak ingin terlihat cengeng dihadapanku. Karena yang selama ini aku tahu, Rasyid adalah laki-laki yang tegar. Bahkan, dua bulan kebelakang, aku sampai menemukan julukan yang pas untuk dia. Picolo. Ya, sebuah panggilan yang entah dari mana asalnya.


“Hari ini, Mas terakhir disini. Besok, Mas sudah harus pergi ke Congo. Jika kamu siap, Mas ingin sekali Dek membahagiakanmu sebelum keberangkatan Mas.” Monolognya lirih, tubuhnya masih mendekap hangat tubuhku.


Sebenarnya, aku tidak terlalu mengerti ke mana arah pembicaraan ini. jadi, aku hanya bisa jawab. “Ah, itu, iya, Mas…”


“Mas tahu, kamu belum bisa melupakan masalalumu. Tapi? Apa salah jika Mas meminta hak sebagai seorang suami?”


“Ayu siap, Mas.” Aku tidak mungkin membiarkan dosaku semakin menumpuk. Sudah cukup bagiku dua bulan kebelakang menjadi catatan dosa terburukku.

__ADS_1


Rasyid mengangguk-ngangguk. Wajahnya masih nampak serius. Kadang isi kepalanya adalah misteri. Setiap kali berhadapan dengannya, aku selalu dibuat sulit berkata-kata.


“Tapi, Mas bukan tipe suami yang suka memaksa istri, Sayang.”


Sambil memandang raut mukanya yang seketika terlihat tersenyum, aku hanya mengulum senyum kecil. Aku jadi sungkan, karena Rasyid


begitu sayang terhadapku.


“Mas Rasyid tenang aja, aku nggak ngerasa dipaksa, kok..”


Rasyid mendesah, “tapi… kedua bola mata kamu mengatakan kalau kamu belum siap, Sayang.”


Entah sejak kapan, panggilan ‘Dek’, kini semakin meningkat kepada kata ‘sayang’.


Dadaku langsung bergemuruh. Aku ingin protes, tapi sepertinya tak mungkin mengatakan apa yang sedang ku rasakan dalam hati.


“Sayang,” panggil Rasyid. Aku baru saja akan masuk kamar mandi. “Mas tahu, kamu sedang menyimpan banyak kekecewaan atau bahkan luka. Tapi, itu bukan suatu alasan untuk kamu juga berfikir jelek tentang Mas. Mungkin sekarang hingga kepulangan Mas dari Congo nanti. Adalah waktu terbaik untuk kamu dan Mas memikirkan masalah rumah tangga kita.”


Rasyid menutup kalimatnya dengan senyuman. Yang kubalas dengan senyuman dan terima kasih yang lemah.


“Mas sayang sama Ayu,” tukasnya. “Jika Mas nggak sayang sama Ayu, nggak mungkin Mas nikah sama Ayu.”


Aku buru-buru masuk dalam kamar mandi, membasuh muka serta


bagian-bagian tubuhku yang lain. Waktu telah menunjukkan pada angka enam sore, suara adzan pun terdengar dari kamar lantai tiga hotel Aston.


Gumpalan awan tak mampu lagi menampung hujan. Rinainya mulai


turun perlahan dan bertambah deras. Namun, aku bergeming, demi menikmati tetesan air dari langit itu lewat kaca kamar.


“Ayo kita sholat Sayang.” Suara Rasyid memecah lamunanku.


Akupun segera menutup gorden jendela, lalu berjingkat menuju

__ADS_1


tempat Rasyid berdiri untuk melaksnakan sholat magrib berjamaah.


__ADS_2