
“Huek!”
Tama dengan cepat memberikan istrinya selembar tisu untuk menampung makanan yang tak jadi masuk kedalam mulut Carissa. “Kamu baik-baik saja, Sayang. Apa makanannya tak enak? Amis? Mau ganti dengan yang lain?”
Rasa mualnya kini bertambah dengan rasa pusing di kepalanya, “Enggak tau nih, Mas. Tiba-tiba aja mual.”
Tama mencoba udang tepung menteganya, dan ia tidak menemukan rasa yang aneh dalam makanan tersebut. “Makanan ini baik-baik saja, atau kamu alergi seafood kah, Sayang?”
Carissa menggelengkan kepalanya, “Aku tidak ada alergi, Mas. Tidak mungkin juga, sebelumnya aku baik-baik saja makan makanan seafood, kan?”
“Berdirilah, aku akan menggendongmu.” Tama mengangkat tubuh Carissa dan membaringkannya di atas tempat tidur. “Tunggu, sebentar. Aku akan memanggil dokter Andi.”
“Tak perlu, Mas. Mungkin aku hanya kelelahan dan stres dengan persiapan butikku. Aku akan beristirahat sebentar dan saat aku bangun, semuanya akan baik-baik saja.”
“Kamu yakin? Wajah kamu pucat loh sekarang?”
“Aku yakin, Mas. Bisa minta tolong ambilkan minyak kayu putih?”
“Tunggu.” Tama mencarinya di dalam laci nakas, saat ia menemukannya, ia buru-buru memberikannya kepada istrinya. “Apa tidak panas?” ia sedikit khawatir karena Carissa mengusapkannya dibawah hidung.
__ADS_1
“Tak apa, Mas. Ini cukup mengurangi mual-ku.”
“Kalau begitu, tidurlah.” Tama menutupi tubuh Carissa dengan selimut.
Carissa mencoba menutup kedua matanya dan akhirnya terlelap berkat belaian lembut suaminya yang mengusap rambutnya. Tama terlihat keluar kamar dan menuju ruang kerjanya, lalu kembali membawa beberapa laporan. Ia menarik kursi tunggal yang ada di kamarnya, lalu duduk di dekat tempat tidur. Ia ingin menyelesaikan pekerjaannya untuk besok, ia takut jika istrinya belum sehat, jadi ia bisa berlibur untuk menjaga istrinya yang sedang sakit.
Sesekali Tama mendekati Carissa dan menembakkan termogan di keningnya, lalu mencoba menyentuh dengan tangannya sendiri untuk memastikan jika alat itu tidak rusak, suhu badannya normal, ia lega melihatnya. “Apakah aku harus memanggil dokter Andi saja, ya? Tapi tadi Risa mengatakan jika tidak perlu. Jangan sakit, Sayang. Aku sangat sedih melihatmu begini.” Gumam Tama dengan suara lirih. Tanpa sadar ia membelai pipi lembut milik perempuan yang di cintainya.
“Mas?” panggil Carissa.
“Ya, Sayang, aku di sini. Apa aku membangunkanmu? Maafkan aku. Sekarang tidurlah lagi.”
“Tidak, aku sudah tidak apa-apa.” Carissa bangun dari tidurnya lalu memeluk suaminya. “Lapar.” Ucapnya dengan manja.
Carissa mengangguk, “Mau soto. Soto betawi.” Ucapnya dengan senyum lebar.
“Mau makan keluar, atau mau suruh Bik Menok untuk memasakkannya, hm?”
“Bik Menok aja.” Carissa beringsut naik ke atas pangkuan Tama dan mengalungkan kedua tangannya.
__ADS_1
Tama terheran-heran, kenapa istrinya menjadi manja seperti ini setelah bangun tidur, “Hm?” dibantu dengan tatapan matanya, Tama mencoba mencari jawaban atas yang dilakukan oleh istrinya saat ini.
“Hanya ingin manja saja denganmu, Mas. Tidak boleh?” Carissa melekatkan tubuhnya, ia dengan jelas bisa merasakan suara detak jantung Tama.
“Tentu saja boleh. Hanya saja sedikit terkejut dengan sifat manjamu yang tiba-tiba ini.”
“Jika aku terus manja padamu, kamu pasti akan kesusahan, Mas.”
“Tidak. Kamu tidak akan menyusahkanku, Sayang. Bersikaplah manja padaku terus menerus. Aku tak akan kesusahan hanya karena itu.”
Carissa memandangi suaminya lekat-lekat, dan mendekatkan wajahnya, “Kalau begitu, aku tidak akan sungkan.” Carissa mencium Tama dan melu*mat bibir panas itu. Laki-laki tampan itu sempat terkejut, namun akhirnya ia memilih untuk membalas setiap kecupan yang istrinya lakukan.
Ciuman keduanya terasa intim, kini ciuman itu semakin bergairah, Carissa menyisipkan tangannya kedalam kaos yang Tama pakai. Dengan lembut ia membelai punggung besar Tama. Kini, Carissa mengubah tujuan dari ciumannya, perempuan cantik itu sedang mencicipi leher jenjang milik suaminya.
Tama menikmati sensasinya, namun saat tangan Carissa mulai menjalar ke bawah perutnya, ia dengan cepat mencegahnya. “Cukup, Risa. Jangan lebih dari ini, kalau lebih dari ini, aku tidak akan bisa mengendalikan diriku.”
“Sejak kapan Mas Tama mengendalikan diri kalau masalah ini, hm?”
“Ya, maafkan aku untuk yang sudah berlalu. Tapi kali ini, jangan. Kamu sedang sakit, Sayang. Aku akan menjadi suami yang bejat jika melakukannya kepada istri yang sedang sakit.”
__ADS_1
“Aku baik-baik saja, kok. Jangan khawatir.” Tangan Carissa memulai aksinya kembali.
“Tidak, Sayang.” Tama mengecup kening istrinya dan menurunkan Carissa dari pangkuannya. “Aku akan meminta Bik Menok untuk memasak, tunggu di sini dengan patuh, ok!” pintanya. Ia bisa melihat jika saat ini istrinya sedang cemberut padanya, dan hal itu sangat imut di matanya.