PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
Eps 66


__ADS_3

Carissa menelan ludahnya dengan susah payah dan melepaskan pelukannya, Tama yang merasa aneh, langsung menarik tubuh kecil itu kembali dan memeluknya lebih erat.


“Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba menjauh, hm?”


Carissa memalingkan wajahnya, “A-aku hanya sedikit ngeri dengan perkataanmu barusan.”


Tama tertawa cekikikan, “Ada apa dengan istri pemberaniku? Menyelinap masuk ke kediamanku saja berani, apa karena itu saja kamu jadi takut padaku.”


“Habisnya!” Carissa memukul dada Tama dengan ringan, “Kamu membuatku tidur seperti orang pingsan setelah mengerjaiku habis-habisan.”


“Oh, ya? Bukannya kamu menikmatinya?” Tama mendekatkan bibirnya kearah telinga Carissa, “Kamu terlihat sangat puas, Sayang.”


“Ih, Mas Tama! Lepaskan! Aku mau mandi dulu.”


“Tunggu dulu!” cegahnya, “Jawab dulu pertanyaanku tadi.”


“Apa sih, Mas. Cepat lepaskan, mam dan nenek pasti khawatir jika kita tidak mengantar mereka.”


“Aku tak akan melepaskanmu jika tidak memberikan jawaban padaku. Aku tak masalah jika kita tidak mengantar mereka, aku bisa mengabari mam sekarang juga. Jadi? Mau menjawab? Atau kupaksa menjawab setelah merasakannya kembali? Apa kamu tahu, jika suamimu ini sudah bersabar saat kamu tertidur lelap, hm?”


“Tidak, tidak. Jangan lakukan itu sekarang. Aku akan menjawabnya, Mas.”


“Ok, lalu apa jawabannya?”

__ADS_1


“Aku, emmm . . . aku . . .” wajah Carissa kini sudah semerah tomat.


“Ya, kamu kenapa, Sayang.”


“Aku . . . menikmatinya, Mas.” Jawabnya cepat lalu kabur masuk kedalam kamar mandi. Tak lupa ia mengunci pintunya karena takut jika akan ada hewan buas yang akan masuk dan mengganggunya lagi.


Setelah bersiap, mereka berdua langsung menuju bandara karena Mega dan nenek Lita sudah menunggu.


“Halo Mam, Nenek.” Carissa menyapa mereka dan memeluk satu per satu.


“Halo, Sayang. Bagaimana kabarmu?” tanya Mega. Dia dan menantunya sudah cukup dekat terutama saat waktu yang mereka berdua habiskan bersama saat persiapan pernikahan.


“Risa baik-baik saja, Mam.”


“Ya, Risa. Kamu yakin baik-baik saja, Nak?” tambah nenek Lita.


“Risa hanya kecapekan saja kok, Ma. Risa juga baik-baik saja, Nek.” Jawabnya dengan senyuman tulus.


“Semua keperluan Nenek sudah di bawa? Obat-obatan terutama.”


“Sudah, Non. Semua keperluan Nyonya sudah saya bawa, terutama obat-obatan.” Jawab Bu Yanti.


Bu Yanti akan ikut ke Amerika untuk tetap melayani nenek Lita, terutama saat Mega harus ke rumah sakit untuk menemani suaminya, Bu Yanti bisa menemani nenek Lita saat di rumah.

__ADS_1


“Kalau begitu, kami berangkat ya, Risa.” Sekali lagi ia memeluk menantu kesayangannya itu.


“Hati-hati, Ma.”


“Tentu.” Kini ia beralih ke anak semata wayangnya, “Ingat! Jangan terlalu membuat Risa kelelahan, Tama. Kasihan dia, waktu kalian masih sangat panjang. Jangan berlaku kejam padanya.”


“Tidak akan, Mam. Tama sudah berjanji akan membuat Risa bahagia.”


“Bagus! Kamu memang anak mam dan ayah yang membanggakan.”


Setelah perpisahan yang penuh haru, mereka bertiga menghilang ditengah kerumunan orang yang juga bersiap menuju tujuan mereka. Tama merangkul tubuh istrinya yang terlihat masih memandang lurus kedepan.


“Jangan menangis. Aku tak akan tahan jika melihatmu menangis.”


Carissa buru-buru menghapus air mata yang akan menetes di ujung matanya, “Aku hanya sudah rindu, Mas.”


“Nanti kita bisa main ke sana kapan-kapan.”


Carissa mengangguk, “Ya, Mas.”


“Padahal baru kemarin kamu bertemu dengan Mam dan Nenek, sekarang sudah kangen aja. Dulu, pas lama tidak bertemu denganku, kenapa tidak menangis untukku?”


“Untuk apa aku menangis untukmu? Baru beberapa hari saja enggak ketemu, kamu sudah menyelinap masuk kedalam kamarku.”

__ADS_1


“Karena aku tak mampu hidup tanpamu.” Jawabnya sambil mengecup kening istrinya. “Jadi, sekarang kita mau kemana?”


__ADS_2