PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
Eps 84


__ADS_3

“Bagaimana, Dok, kondisi suami saya?”


“Kondisi tangan Pak Tama cukup serius, Bu. Lukanya cukup dalam, tapi untung saja tidak merusak saraf penting. Saya sudah menyuntikkan antibiotik dan juga anti nyeri, di atas meja nakas, juga sudah saya tinggalkan anti nyeri yang bisa diminum jika lukanya terasa sakit. Jangan terkena air dulu untuk beberapa hari, ya. Tiga hari lagi, saya akan datang lagi untuk cek luka Pak Tama,”


“Lalu, bagaimana perut suami saya, Dok. Tadi sempat terhantam keras.”


“Perut Pak Tama baik-baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Dia sedang tidur di dalam karena obat yang saya suntikkan mengandung obat tidur. Jika tidak ada yang mau di tanyakan lagi, saya pamit undur diri.”


“Terima kasih, Dok.” Carissa mengantarkan dokter itu pergi.


“Silahkan beristirahat di dalam, Nyonya. Kami akan berjaga diluar.”


“Bagaimana dengan kepolisian?”


“Pengacara sudah membuat pengajuan penundaan dengan alasan Tuan Tama dan Nyonya harus melakukan pemeriksaan dengan dokter, namun besok kepolisian tetap akan ke sini untuk membuat BAP. Pengacara dari group Syahreza juga sudah berada di kepolisian saat ini.”


“Baiklah, terima kasih, Vian.”

__ADS_1


“Sama-sama, Nyonya. Silahkan beristirahat.”


Carissa berjalan memasuki kamarnya dengan hati yang remuk, untung saja Tama masih bisa selamat, ia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika saja terjadi sesuatu yang lebih parah terhadap suaminya. Ia sadar jika dirinya tak mampu kehilangan Tama.


Carissa memandangi wajah Tama yang saat ini tertidur pulas. Dengan perlahan ia menyentuh tangan yang tertutup perban, tangan yang biasanya menyentuhnya dan mengusapnya dengan hangat, kini terluka dan berdarah.


Di hatinya tersimpan perasaan penyesalan karena telah berbuat jahat kepada suaminya, namun itu semua adalah naluri alamiahnya sebagai seorang istri yang merasa terkhianati akan ulah suaminya. Kini Carissa ingin berdamai dengan dirinya dan memberikan maaf kepada Tama yang telah mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan dirinya tanpa keraguan sedikitpun.


“Maaf, Mas. Maafkan aku.” Isaknya dengan penuh sesal.


Keesokan paginya, Carissa terbangun karena suara Vian dari luar yang mengabarkan jika pihak kepolisian sudah berada diluar untuk meminta keterangan.


“Tidak, Mas. Jangan menunda lebih lama, biar lebih cepat masalah ini selesai.”


“Tubuhmu baik-baik saja?”


“Justru kamu yang lebih mengkhawatirkan, Mas. Aku baik-baik saja tanpa luka sedikitpun. Sini aku bantu mengganti bajumu.” Dengan telaten Carissa membantu Tama berganti baju, lalu mereka berdua keluar setelah mencuci muka.

__ADS_1


“Maaf mengganggu istirahatnya, Pak. Tapi kami harus cepat meminta keterangan.”


“Tidak, Pak, justru saya harus berterima kasih karena bantuan dari Bapak, bisa menyelamatkan istri saya dengan cepat.”


“Itu sudah kewajiban kami, Pak.”


Ditemani oleh Pak Firman, sang pengacara, Carissa dan Tama memberikan keterangan. Carissa menjelaskan dengan jelas bagaimana ia sampai kehilangan kesadaran. Malam itu saat gadis cantik itu sedang menunggu Tama mengambilkan minuman untuknya, tiba-tiba saja ada laki-laki asing yang duduk di sebelahnya dan langsung menyuntikkan sesuatu di tengkuk lehernya, hanya hitungan detik Carissa merasakan tubuhnya melayang lalu kehilangan kesadarannya, dan saat ia sadar, ia sudah berada di gudang terbengkalai dengan tangan dan kaki terikat. Carissa juga menjawab beberapa pertanyaan yang di ajukan dengan tenang. Kemudian, Tama juga memberikan keterangannya, ia menjelaskan semua dan menjelaskan jika penyebab Amelia bertindak seperti itu karena perempuan itu terobsesi padanya, Tama tak mau menjelaskan secara mendetail tentang hubungannya dengan Amelia, ia takut jika hal itu akan tersebar luas.


Setelah kurang lebih empat jam, Carissa dan Tama memberikan keterangan juga menjawab pertanyaan, akhirnya pihak kepolisian berpamitan dan berjanji akan menyelesaikan kasusnya dengan cepat karena bukti sudah lengkap. Tama menyerahkan kelanjutan kasusnya kepada pengacara yang sudah lama menangani Syahreza Group.


“Istirahatlah lagi, Mas. Aku akan memesan makanan dan minta di antar ke kamar.”


“Tidak, aku mau mandi saja.”


“Mandi? Ta-tapi tanganmu belum boleh terkena air, Mas.”


“Badanku rasanya lengket, Sayang. Sungguh tak nyaman.”

__ADS_1


“Ka-kalau begitu, mau kubantu? Aku akan membantumu untuk mandi, Mas, agar tanganmu tetap kering.” Carissa menawarkan diri dengan perasaan khawatir.


“Ya, inilah Risa-ku. Risa yang mencintaiku.” Gumamnya dalam hati dengan perasaan penuh kebahagiaan. Dia tidak keberatan terluka jika ternyata bisa mengembalikan hati Carissa padanya seutuhnya.


__ADS_2