
Pemilik Hati (60)
" Ada apa?" tanya David melihat Syifa yang dari tadi mencuri-curi pandang ke arahnya.
Keduanya saat ini sedang menikmati sore hari di taman dengan aneka cemilan yang ada di atas meja.
Syifa memang lebih mudah lapar namun, lebih sering memakan makanan ringan dan buah-buahan ketimbang makanan berat.
" Mau sesuatu?" tanya David lembut sambil mengusap perut besar Syifa. Kebiasaan baru yang menyenangkan untuk David.
Apalagi hampir satu bulan ini ia benar-benar hanya fokus pada kesembuhannya dan kehamilan sang istri. Hingga ia akhirnya mulai bisa berjalan tanpa bantuan tongkat namun, hanya sebentar.
" Aku mau makan nasi goreng. Tapi, makan di tempat, boleh?," Syifa meminta izin.
David tersenyum. " Tentu. Mau makan dimana, Ay?,"
" Di dekat alun-alun." jawab Syifa sedikit ragu. Pasalnya, semenjak suaminya di rumah,mereka jarang keluar. Alasannya adalah karena David masih khawatir karena Andra masih berkeliaran. Namun, ia tak menceritakan secara jelas alasannya.
" Ya sudah,ayo bersiap-siap,"
Syifa yang antusias langsung beranjak. Ternyata tidak ada penolakan sama sekali. David sendiri mengiyakan keinginan Syifa karena merasa tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan. Apalagi sudah dua bulan lebih semenjak kecelakaan yang menimpanya, Andra tak pernah terlihat melakukan apapun lagi.
Bahkan, info terakhir yang ia dengar Andra sedang menemani Camelia ke luar negeri dalam rangka perjalanan bisnis.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama,Syifa dan David sampai di alun-alun. Mereka langsung menunjukkan penjual nasi goreng yang belum terlalu ramai pembeli karena hari masih sore.
Menjelang malam, barulah tempat itu penuh sesak oleh pembeli.
Walaupun hanya pedagang kaki lima, tapi rasa tak bisa di remehkan.
" Tambah lagi?," tanya David yang senang karena melihat istrinya tampak lahap memakan satu porsi nasi goreng spesial.
" Boleh?," Syifa merasa malu karena porsi makannya sangat banyak.
" Kenapa tidak boleh?," David malah balik bertanya. "Kamu makan untuk tiga Orang," kelakar David. Wajah Syifa memerah. Namun, tak membuatnya malu untuk kembali memesan.
Syifa pun kembali memesan nasi goreng namun,dengan menaikkan level pedasnya.
Walau sedikit tak terima karena level pedas ia dan sang suami memang berbeda. Syifa takut David melarang apalagi David tak menyukai makanan yang terlalu pedas.
Namun, akhirnya Syifa bernafas lega saat makanan yang ia inginkan bisa di nikmati.
" Mau langsung pulang? Atau mau ada yang di beli lagi?,"
" Mau itu" tunjuk Syifa pada gula-gula kapas yang berwarna-warni juga beraneka bentuk.
Setelah memastikan jalanan lengang, keduanya langsung menyebrang. Namun, entah dari mana datangnya tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju dengan kencang mengarah ke arah keduanya.
__ADS_1
Brakkk
" Kamu tidak apa-apa, Ay?," tanya David memastikan kondisi Syifa yang ia tarik hingga keduanya terjatuh ke arah trotoar.
Bersyukur David melihat keberadaan mobil yang sepertinya memang sengaja ingin menbrak mereka berdua.
Syifa hanya menggelengkan kepalanya. Ia yang memang jatuh menimpa tubuh David yang mendekapnya tidak merasakan sakit yang berarti.
" Kalian tidak apa-apa?" Orang-orang mulai mendatangi keduanya.
Mobil yang menabrak mereka pun hanya melaju begitu saja tanpa berniat berhenti. Bahkan sebagian orang berusaha mengejar mobil tersebut. Karena melarikan diri setelah menabrak.
" Darah ...!" seru seseorang membuat Syifa terkejut.
" Mas ...."
Syifa membulatkan matanya saat tangan suaminya yang sebelumnya memegang bagian belakang kepalanya terdapat noda darah
" Mas tidak apa-apa." Ucap David parau sebelum akhirnya kehilangan kesadarannya.
" Mas!!!"
" Panggil ambulans!!"
__ADS_1
TBC