
Delapan belas jam itu telah berlalu. Setelah semalam menghabiskan waktu di hotel Aston. Kini tiba saatnya Rasyid bersiap-siap untuk sebuah penugasan dari kesatuan. Mataku terasa sembab. Ada yang mencuat, terasa hangat dari relung hati, ketika melihat sebuah koper berukuran raksasa bersandar di samping kursi kayu jati di dalam rumah.
Rasyid sedang asik berjongkok dan melilitkan tali sepatunya. Dadaku benar-benar berdegup kencang. Perasaan yang selama sebulan terakhir ini ku simpan,rasanya ingin sekali mengungkapkannya. Tapi tidak. Aku belum punya keberanian yang benar-benar bulat untuk menyatakan sebuah perasaan kepada sumiku tersebut.
Setelah semua siap, aku langsung meraih koper Rasyid, untuk segera ku masukkan kedalam bagasi mobil. Awalnya, ajudan Rasyid ingin mengangkat koper tersebut untuk dimasukkan kedalam bagasi. Namun, aku sekonyong-konyong meraihnya untuk ku masukkan sendiri. Entah kenapa? Mungkin perasaanku saat ini sedang melankolis. Bukannya memang harus demikian?
Aku berdoa, semoga siksaan hati ini akan segera berakhir setelah kepulangan Rasyid dari Congo nanti.
Setelah sampai di bandara Soekarno Hatta, bola mataku bekerja lebih keras, berharap tak akan ada yang namanya drama mewek-mewekan sebelum keberangkatannya.
Kondisiku yang tidak begitu bugar membuat manik Rasyid menelisik.
“Kamu baik-baik saja ‘kan, Dek?”
__ADS_1
Aku mengulum senyum seikhlas mungkin, walau sebenarnya ingin sekali menyeret makhluk ciptaan Tuhan tersebut pulang ke rumah. “Iya, Ayu baik-baik saja. Mas Rasyid hati-hati.. kalau udah sampai atau transit kabarin ya?” aah.. kali ini nulir-bulir bening terasa mengalir hangat dikedua pipiku.
Rasyid tak menjawab. Bukan, dia bukan tak menjawab. Namun, lelaki itu lebih memilih menjawab dengan sebuah pelukan yang cukup erat. Sesekali menganggukkan kepalanya yang benar-benar plontos.
Banyak nasehat sebelum keberangkatannya, bahkan Rasyid memintaku agar selalu menjaga kesehatan. Mengingat cuaca saat ini memang tidak bisa di prediksi. Tapi, tak seharusnya juga dia mengkhawatirkan kondisiku bukan? Aku adalah seoarang tenaga medis. Tahu betul apa yang harus ku lakukan ketika tubuh merasa ingin tumbang. Seharusnya aku yang mengucapkan kalimat agar dia baik-baik saja dan selalu
mejaga stamina selama di Negeri orang. Tapi, entahlah.
*****
berkulit khas Negara tersebut.
Omong-omong, Rasyid tak hanya pergi seorang diri. Ada beberapa kawannya yang juga ikut dalam penugasan tersebut.
__ADS_1
Setelah pesawat yang di tumpangi Rasyid berangkat. Aku tak lantas langsung pulang. Aku sengaja berlama-lama duduk di pelataran bandara. Masih berusaha mengedar pandang ke langit yang sedikit mengantung dengan warna agak coklat. Setalah bosan duduk di pelataran, menyaksikan mobil-mobil lalu-lalang. Akhirnya aku
memutuskan untuk pulang kerumah bersama sopir yang kebetulan juga bertugas sebagai ajudan Rasyid.
“Jaga kesehatan. Porsi makan di tambah ya… Jadi pas jemput Mas pulang, biar Mas mu ini pangling.”
Kata-kata Rasyid sebelum keberangkatannya tadi, kembali terngiang. Aku mengulas senyum. Tetiba, rasa rindu yang memburu dalam hati seakan melompat mencari sosok tersebut di kabin pesawat yang ditumpangi oleh Rasyid.
“Tenang Mheta, suamimu baru juga berangkat. Belum juga dua jam.” Aku harus mampu menaklukkan hati kecilku bukan? Sekuat-kuat tenaga tentunya. Kutarik napas dalam-dalam, lalu kuembuskan. Semoga Allah akan selalu melindungi suamiku.
Aku mengambil posisi duduk ternyaman dalam mobil warna hitam legam ini. kupastikan lagi, jika tasku tidak ketinggalan di bandara. Jalanan di sekelilingku terpantau cukup padat merayap. Hingga membutku ingin memejamkan mata barang sejenak. Terlihat, matahari masih tampak malu-malu di balik awan. Namun, udara ibu Kota tak pernah terasa sejuk. Polusi masih saja membalut di sepanjang jalan. Mataku
benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Mungkin akibat pikiranku terlalu lelah memikirkan suami.
__ADS_1
Aku berusaha terus terjaga, tapi tubuhku terus menuntut untuk terlelap. Suara kebisingan lalu-lalang kendaraan mulai terdengar agak samar, dan aku menyerah pada lelah.