
Tiba-tiba mereka berdua di kejutkan oleh suara tangisan dari dalam kamar, dari kaca kecil yang ada di pintu, Allen bisa melihat kedua perempuan berbeda umur itu saling memeluk dan menangis dengan miris.
''Tante Mega pasti sudah memberi tahu Risa tentang nenek Lita.''
''Cepat atau lambat, Kak Risa memang harus mengetahuinya.''
''Namun kondisinya saat ini sedang tidak baik. Dia hampir saja juga kehilangan bayi yang ada di dalam kandungannya.''
''Apa Kak Allen mempunyai perasaan dengan Kak Risa? Kakak terlihat begitu khawatir.''
''Aku sudah menganggapnya sebagai adik perempuanku, Lira. Dan kami juga pernah tinggal di atap yang sama untuk beberapa bulan, dia juga istri sahabat baikku, itulah kenapa aku juga sangat mengkhawatirkannya.''
''Maaf, Kak. Di tengah suasana seperti ini aku malah . . .'' Lira merasa jika ucapannya memperburuk keadaan.
''Tak apa, Lira. Aku tidak akan marah padamu.'' Allen menghembuskan nafas beratnya, ''Hanya dalam sekejap, mereka kehilangan kedua orang yang sangat mereka sayangi dan cintai.'' Allen merasa hatinya hancur melihat setiap air mata yang menetes di wajah cantik kedua perempuan itu.
Mega terlihat memeluk Carissa yang masih terbaring lemah di atas tempat tidurnya, ia juga merasakan sesak dan kehilangan yang teramat dalam, namun ia tetap harus menguatkan menantunya yang saat ini sedang mengandung satu-satunya peninggalan putra kandungnya.
__ADS_1
''Lalu, bagaimana dengan jenazah nenek Lita sekarang?''
''Nenek masih ada di ruangan jenazah, dan akan di terbangkan ke Jakarta besok pagi. Om Bagas, papa Risa juga sudah mengatur penerbangan dengan pesawat pribadi besok pagi, beliau akan menjemput kita, juga akan membawa nenek.''
''Kak Allen, beristirahatlah dulu. Dari tadi kamu bahkan belum minum air sama sekali. Atau mau aku ambilkan air minum?''
''Tidak, aku bisa mengambilnya sendiri. Terima kasih, Lira.''
Allen berjalan dengan gontai, baru saja ia melangkahkan kakinya beberapa langkah, handphonenya berdering dan ada nama Vian di balik layarnya.
''Ya, Vian.''
''Apa! A-apa yang baru saja kamu katakan?''
''Tuan Tama masih hidup, Tuan. Sekarang sedang di evakuasi, dan sebentar lagi akan menuju rumah sakit dengan ambulance.''
''Ba-bagaimana keadaannya?''
__ADS_1
''Tadi saya mendengar dari dokter yang ikut ke lokasi, jika terdapat beberapa tulang yang patah, tapi saya tidak mengetahui detailnya.'' Vian berusaha menjelaskan.
''Jadi, a-apa Tama benar-benar masih hidup?'' tanya Allen yang seakan tak percaya dengan mukjizat yang baru saja ia dengar.
''Benar, Tuan. Saat kami membantu evakuasi, hanya ada satu kerangka manusia yang di temukan di puing-puing mobil yang terbakar, jadi kami mencari di sekitar, kelihatannya Tuan Tama sempat melompat keluar mobil sebelum mobil menyentuh daratan.''
''Benarkah?'' kaki Allen terasa lemas, dia terjatuh terduduk karena perasaan yang bercampur aduk.
''Ada apa Kak Allen?'' Lira berlari menghampiri Allen.
''Tama...Tama masih hidup, Lira.'' Allen berdiri dan langsung berlari dengan tergesa-gesa masuk ke dalam ruang inap Mega dan Carissa.
Carissa dan Mega tampak bingung saat Allen buru-buru masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu. Kedua mata perempuan itu bengkak dengan wajah yang sembab.
''Risa! Tante! Tama masih hidup! Tama...dia masih hidup, sekarang sedang dalam perjalan ke sini.'' teriak Allen dengan menggebu-gebu. Dengan jelas ia bisa melihat ekspresi terkejut dari keduanya. Carissa saja sampai tak berkedip dengan tatapan penuh harap menatap dirinya.
''Benarkah, Kak Allen? Ma-mas Tama benar-benar masih hidup?''
__ADS_1
''Ya, Risa.'' Allen mendekati Carissa dan Mega yang juga merasakan hal yang sama dengan menantunya. ''Tama...dia masih hidup.''
Carissa menangis tak karuan di pelukan Allen, ''Syukurlah, syukurlah Mas Tama selamat.'' tangisnya terus berlanjut di susul oleh pelukan dari Mega.