PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
PESAN DARI NOMOR ASING


__ADS_3

“Menikah dengan siapa?” suaraku parau.


“kamu ingat pemuda yang menunggu ibunya dirumah sakit?”


Rasyid? Tidak mungkin ibu menikahkanku dengan pemuda yang sama sekali tidakku kenal. Bahkan aku sudah lupa wajah pemuda itu. Tapi, siapa lagi kalau bukan Rasyid. Waktu itu, di dalam kamar hanya ada dua pasien, yaitu ibu dan ibunya Rasyid.


“Rasyid?”


Ibu tersenyum dan mengangguk, “benar.”


“Maksud Ibu? Mheta nikah sama dia?” ada rasa sakit yang mengiris dibagian jatungku.


“Dia pemuda baik, shaleh, bahkan dia sayang terhadap orang tuanya.” Ibu terlihat bersemangat menceritakan perihal pemuda itu.


Seperti ada yang menyumbat didalam kerongkonganku, kenapa ibu ingin menjodohkanku dengan laki-laki asing itu? Bukankah lebih baik jika ibu menjodohkanku dengan Daffa? Karena ibu dan almarhum ayah dari dulu selalu


mendukung Daffa setiap kali mendekatiku? Kenapa sekarang ibu lebih memilih orang asing? Apa yang merasuki ibu?


“Jadi, berkas ini yang mengirim, Rasyid?” tanyaku.


“Bukan, ini yang mengirim ibunya. Bu Hari.”


Ya Tuhan, ini bukan di era Siti Nurbaya, kan?


“Ibu kenal dekat dengan ibunya Rasyid?”


“Kami sering berbincang melalui telepon. Bahkan pas kamu ke Malang dulu untuk berkemas, Ibu dan Ayah Rasyid kesini.”


Aku tercekat, mataku terbelalak. “untuk apa?”


“Menanyakan perihal pernikahan kalian?”


Menanyakan perihal pernikahan? Jadi, untuk apa ibu masih menunggu persetujuan dariku. Jika sebenarnya kedua orang tua Rasyid saja sudah kerumah.


“Rasyid ikut?”


“Nggak, Rasyid lagi sekolah Diklapa dua, kata, Bu Hari.”


“Jadi, Rasyid nggak tahu, kalau dia mau dijodohin sama, Mheta?”


“Tahu, karena memang dia yang menginginkan kamu, untuk menjadi pendamping hidupnya.”


Oh Tuhan, berarti benar kata Daffa, jika selama ini dia sering menanyakan perihal aku kepadanya. Kenapa juga ibu baru bilang padaku, kalau ternyata pemuda yang ingin menikahiku adalah rasyid? Dan kenapa juga Rasyid memilihku untuk menjadi pendamping hidupnya? Bukankah dia seorang tentara? Kenapa harus aku yang nggak dikenalnya? Kenapa bukan yang lain. Tidak mungkin dia tidak mempunyai banyak teman wanita. Karena yang aku tahu dari teman-teman. Kalau seorang tentara memang suka gonta-ganti pacar.


“Terus…” aku diam sejenak. “Ibu menyetujuinya?” kataku sambil melihat berkas yang masih berada diatas kedua tangan ibu.


“Ibu setuju, tapi… semua keputusan kan ada ditangan kamu.”


“Kalau memang keputusan di tangan Mheta. Apapun keputusannya Ibu akan terima?”


Raut ibu berubah murung. Terlihat, dia sedang menggantungkan harapan kepadaku.


Aku tersenyum, “Bu, bukankah Ibu pernah bilang, sewaktu Mheta lulus SMA. Kalau menikah itu butuh pengenalan? Ibu juga bilang menikah itu bukan perkara main-main? Bahkan, Ibu selalu berpesan kepada Mheta, kalau menikah itu adalah menyatukan dua karakter yang berbeda menjadi satu-kesatuan untuk saling memahami, mengerti dan saling mengisi?”


Ya, Ibu memang selalu berpesan seperti itu kepadaku, disaat aku pulang dari merantau. Ibu dan almarhum ayah selalu berpesan agar aku mencari lelaki yang bisa menerima kekuranganku, bukan hanya kelebihanku. Bahkan,

__ADS_1


mereka selalu menyelipkan nama Daffa disetiap akhit pesannya. “carilah pemuda yang seperti Daffa, yang selalu mengalah demi kamu. Yang nggak pernah bikin kamu nangis.”


Ibu tersenyum renyah, “Justru karena itu, Ibu yakin sama Rasyid. Kalau dia itu pemuda yang baik untuk kamu. Ibunya sakit saja dia bela-belain ngerawat dan mengabaikan tugasnya. Apalagi kalau dia jadi suamimu. Ibu jamin, dia pasti baik untuk kamu, Mhet.”


“Begitu ya, Bu?” suaraku parau.


“Pelajari dulu berkas ini, setelah kamu ngerti. Kamu bilang sama Ibu.”


Aku mengangguk pelan, “ya.” Kataku setelah menerima tumpukan berkas tentang pengajuan nikah.


******


Pukul satu dini hari, mataku belum terpejam sama sekali. Ku buka laptop. Dan segera mengetik naskah yang belum aku pegang sama sekali seharian. Aku memutar lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Pengelana, untuk


menemaniku mengetik.


Ponselku berpedar, sebuah notifikasi masuk. Sebuah nomor asing masuk mengirim sebuah pesan singkat.


“Hei…”


Aku menautkan kedua alis. Jantungku sedikit berpacu kencang. Menerka-nerka, siapa yang mengirimiku pesan singkat tengah malam tersebut. Karena seingatku, aku tidak pernah memberikan nomor ponsel kepada orang asing. Kubiarkan pesan tersebut tanpa balasan. Menaruh kembali ponsel diujung meja. Aku kembali mengetik naskah.


“Ayu, kamu belum tidur? Atau kamu sudah bangun tidur?”


Pesan dari nomor asing itu masuk lagi.


Sekali, dua kali, tiga kali. Aku mencoba untuk mengenali siapa pengirim pesan itu. Tapi… lagi-lagi aku tidak bisa menebaknya. Pengelana tidak pernah memanggilku dengan sebutan Ayu. Lantas, siapa yang sedang mengirimiku pesan?


Aku menganjur napas panjang. Kupejamkan mata sebentar. Dan meregangkan otot-otot leher.


“Ayu… kenapa nggak balas?”


Dengan menahan napas, aku mulai mengetik. “maaf ini dengan siapa? Dapat nomor saya darimana?” tapi, buru-buruku hapus. Aku tidak mau membalasnya.


Kumatikan ponsel sesegera mungkin.


Selesai menulis naskah, akupun segera bergegas ke pancuran untuk menyiram wajah, tangan, sampai ke kaki.


Aku mengatupkan kedua jemari tanganku. Berdoa, memohon kesehatan untuk Ibu dan keluargaku. Mendoakan Pengelana, dan tak pernah lupa aku juda selalu mendoakan Dffa. Setalah berdoa, aku segera melipat mukena.


Lalu, merebahkan badan diatas kasur. Pandanganku mengedar keseluruh ruangan kamar. Lalu, mendapati tumpukan buku diatas meja rias yang belum terbungkus. “Pengelana, apa kamu baik-baik saja?” aku memikirkan pria beransel itu sampai tertidur pulas.


******


Kumandang adzan terdengar sayup-sayup dari masjid didapan gang rumahku. Aku segera bergegas. Setelah menyelesaikan sholat subuh, aku segera melenggang ke dapur. Menyiapkan sarapan untuk ibu. Kebiasaanku, semenjak kepulanganku dari kota Malang, aku berusaha membantu ibu didalam rumah, dari memasak hingga membereskan rumah.


Hari ini, aku ada jadwal pertemuan dengan Pak Camat dikantor kecamatan Muntilan. Untuk meneruskan pesan Pak camat terhadap Ibu, kalau aku masih diterima untuk menjadi dokter di puskesmas.


Setalah menyiapkan segala kebutuhan ibu, aku segera bersiap-seiap untuk pergi ke kantor Kecamatan.


Setalah rapi, aku duduk diatas kursi meja rias. Pandanganku menatap lekat berkas yang ibu kasih untukku. Belum aku baca sama sekali. Dadaku berdesir ketika memegang cover berkas tersebut.


Aku mengurungkan niatanku untuk membuka dan membacanya.


 Aku baru ingat, jika ponsel aku matikan dari semalam.

__ADS_1


Setelah membuka ponsel. Aku menunggu selama beberapa menit. Begitu banyak pesan masuk, dari nomor asing yang mengirimiku pesan.


“Ayu… kenapa tidak jadi mengirim balasan?”


“Ayu… kamu baik-baik saja, kan?”


“Hei… kenapa hp kamu malah tidak aktif.”


“Kamu tidak suka ya, saya mengganggumu?”


Lagi-lagi aku menautkan kedua alisku, akibat dari deretan pesan misterius itu. “siapa yang mengirim pesan padaku? Dan… siapa juga yang memanggilku dengan sebutan Ayu?”


Aku segera melihat foto profilnya. “kosong, tidak ada foto.”


Aku melihat nama pengguna. “Hamba Allah.”


Siapa dia?


Kulihat jam sudah merangkak diatas angka tujuh. Aku tak menghiraukan pesan tersebut. Aku segera melangkah ke parkiran. Untuk memanaskan motor, untuk pergi ke kantor Kecamatan.


“Mheta…” suara ibu.


“Iya..” jawabku dari parkiran samping rumah.


“Kamu nggak sarapan dulu?” tanya ibu dari balik jendela.


“Nggak, Bu. Nanti saja sepulang dari kantor Kecamatan. Ibu sarapan saja dulu.” Kataku sembari memanaskan mesin motor. “Oh, ya. Hari ini, Ibu nggak usah ke sawah. Daffa tadi berpesan sama Mheta. Katanya hari ini dia


mau kekebun, nggak kesawah. Jadi, daripada nggak ketemu Daffa di sawah. Mending Ibu nggak usah kesawah. Apalagi Ibu kan baru sehat?”


Ibu tersenyum. “Oh gitu, iya deh.”


****


Setelah bertemu Pak Camat. Aku dimintanya untuk ke Puskesmas Muntilan, menemui kepala Puskesmas untuk memberikan sebuah amplop berwarna putih. Sebuah surat dari Pak Camat untuk kepala Puskesmas.


Setelah menyerahkan amplop tersebut, aku diminta oleh kepala puskesmas untuk datang lagi esok hari. Dengan membawa berkas lamaran kerja.


Setelah urusanku selesai. Aku segera pergi ke parkiran, untuk pulang.


“Mheta…”


Suara yang tidak asing memanggilku. “Daffa.. kok disini?” tanyaku.


“Iya, kebetulan saja lewat. Aku tadi dari koperasi.”


“Oh..” kataku, “sendiri?”


“Iya, kamu ngapain ke puskesmas? Bibi sehat ‘kan?”


“Aku kan dokter.” Kataku tertawa.


Daffa terdiam. Kedua alisnnya bertautan. “iya, tahu. tapi untuk apa ke puskesmas? Kamu kerja disini?”


Aku tersenyum, “belum sih. Tapi, Insya Allah.”

__ADS_1


__ADS_2