
Pemilik Hati (56)
" Aku serius dengan ucapanku. Menikahlah denganku dan buat aku mencintaimu,"
Hana masih bungkam. Ia tak tahu harus menanggapi seperti apa.
Farhan bukan tak menyadari bahwa perempuan di depannya ini memiliki perasaan padanya. Namun, ia tak mau peduli karena ia hanya ingin bisa rujuk dengan Syifa yang bahkan kini sulit untuk ia gapai.
Berkali-kali bersikap bodoh dengan harapan masih ada cinta di hati mantan istrinya itu nyatanya hanya berbuah kekecewaan.
Apalagi ultimatum dari sang ibu yang melarangnya mengganggu hubungan Syifa membuatnya tak bisa lagi melangkah.
Lagipula ibu mana yang rela anaknya menjadi duri di pernikahan orang lain. Orang yang bahkan memiliki posisi sama di hatinya. Sama-sama anak yang ia sayangi walaupun tidak terlahir dari rahimnya.
Farhan hanya berusaha menghadirkan cinta yang lain agar ia tak lagi fokus pada masa lalu.
" Tapi, aku ingin menikah sekali seumur hidup pak."
" Siapa yang mengajakmu menikah untuk berpisah?,"
Hana memang akan memikirkan ajakan sang atasan jika dalam keadaan sadar. Namun, ia juga tak ingin jika pernikahannya di jadikan ajang pelarian karena cinta Farhan yang tak sampai.
Menurutnya akan sulit jika ia menikah dengan laki-laki yang belum selesai dengan masa lalunya.
Sedikit banyak ia tahu kisah cinta sang atasan.
" Aku tahu kamu sulit untuk percaya. Tapi, tak bisakah kita mencoba menjalaninya?"
" Pernikahan bukan ajang coba-coba, Pak."
" Ayo makan dulu. Aku tak memaksamu untuk menjawab sekarang."
Hana pun akhirnya makan dengan pikirannya yang tak tenang. Ini sangat mengejutkan. Ajakan menikah dari atasnya yang selama ini ia sukai diam-diam. Namun, apa ia bisa menerima jika ia hanya dijadikan pelarian?
" Akan Aku buktikan aku serius dengan ucapanku. Besok setelah bekerja kita akan menemui kakakmu sebelum kita menemui orang tuamu," putus Farhan meninggalkan Hana
" Aku belum menyetujuinya, Pak."
" Aku tarik kata-kataku yang tak memaksamu menjawab sekarang." ucapnya
" Pak .."
" Kabarkan saja pada kakakmu bahwa kita akan mengunjunginya "
...******...
Hana langsung menelpon kakaknya dan mengabarkan bahwa ia dalam perjalanan ke rumahnya dengan atasannya.
__ADS_1
Ridwan sang kakak terkejut apalagi saat mengetahui tujuan kedatangan keduanya.
Hana hanya menutup telinga saat kakak laki-lakinya itu menceramahinya.
" Apa dia ada di rumah?," tanya Farhan yang saat itu sedang mengemudikan mobil.
" Ada," jawab Hana singkat.
Hana tak lagi bisa menahan sang atasan yang ternyata benar-benar mengajaknya menemui kakaknya.
Hana awalnya mengira perkataan Farhan kemarin hanya gurauan. Namun, nyatanya sungguhan.
Ia pikir ucapan itu hanya efek alkohol yang masih membuat atasannya itu belum sepenuhnya sadar. Karena itu ia tak jadi menghubungi kakaknya karena khawatir ucapan Farhan hanya sekedar ucapan belaka.
semoga kak Ridwan tidak memarahiku.
...******...
" David!," seru suster yang menemani Dokter melakukan pemeriksaan ke kamar rawat David.
Hari ini adalah hari pertama bagi Winda bekerja sebagai perawat di rumah sakit tempat David di rawat. Ia terkejut saat melihat kondisi David yang masih berbalut perban.
Ia tak menyangka pasien Dokter Juna yang di operasi tempo hari adalah David.
David terkejut saat mendengar suara yang ia kenal.
" Anda mengenalnya, sus?,"
" Oh," Dokter Juna hanya manggut-manggut dan tak ingin bertanya lebih.
Mereka pun melakukan pemeriksaan pada David.
Rangga yang baru masuk ke ruang rawat David pun terkejut saat melihat keberadaan Winda disana.
Namun, ia bersyukur Winda bersikap profesional dan tidak banyak bertanya.
Hingga saat malam tiba, Winda yang sudah habis jam kerjanya langsung mendatangi kamar tempat David di rawat.
Rangga yang membuka pintu langsung keluar tanpa membiarkan Winda masuk. Sementara di dalam, David sedang melakukan video call dengan Syifa.
" Ada apa kamu kemari?,"
" Hanya ingin menjenguk David. Apa salah?," jawab Winda yang tak suka dengan sikap dingin Rangga padanya.
" Kamu yakin? Tidak ada niat lain?," Rangga bukan orang yang bisa dengan mudah di bodohi.
" Kalau aku ingin Kembali dekat dengan David apa masalahmu?,"
__ADS_1
" Tentu saja masalah bagiku. Aku takkan membiarkan sahabatku masuk ke dalam perangkap mu,"
" Apa maksudmu?,"
" Tidak ada,"
" Ingat! Aku berpisah dengan David karena David selingkuh. Bukan karena kesalahanku." Ia tak terima Rangga menuduhnya yang tidak-tidak.
Rangga tersenyum sinis.
" Perselingkuhan yang David lakukan dulu, hanyalah kebetulan yang kamu manfaatkan agar bisa pergi bebas dengan seseorang."
Deg
" Jangan kamu kira aku tak tahu,"
Winda menatap tajam Rangga yang acuh menghadapinya.
" Kau pikir David akan percaya? Dia lebih percaya padaku. Dia cinta padaku."
" Itu dulu. Buktikan saja kalau kamu tak percaya,"
Rangga menggeser posisinya dan membiarkan Winda masuk.
" Ay, kalau aku pulang nanti, kita menginap di apartemen ya," ajak David tanpa menghiraukan seseorang yang masuk ke dalam kamar rawatnya.
Ia pikir itu hanya Rangga.
" Kenapa?,"
" Aku ingin menjenguk baby twins tanpa gangguan," ucap David tersenyum.
" Mas...." Syifa malu.
" Aku merindukanmu, Ay. Sangat."
" Aku juga, Bi. Cepatlah pulang."
" Iya, insya Allah secepatnya aku akan pulang. Sudah malam. Tidurlah!,"
" Mas juga,"
" Assalamu'alaikum, istriku Sayang,"
" Wa'alaikumsalam, suamiku."
Deg
__ADS_1
Winda mematung ditempatnya. Ia tak salah dengar kan? David sudah menikah.
TBC