PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
SEHARI SEBELUM PERNIKAHAN


__ADS_3

Awan menggantung rendah. Matahari senja bersinar terang keemasan. Angin bertiup sejuk dan pelan. Pohon-pohon tabebuya digoyangkan angin, sehingga sebagian daun dan bunganya gugur berserakan di pinggir jalan. Aku terburu-buru menuntaskan mandi sore, sebelum pada akhirnya menemui Rasyid.


Pemuda yang akan segera menjadi imamku tersebut, mengirimiku pesan singkat sekitar lima belas menit yang lalu. Entah apa yang akan disampaikan padaku, yang jelas isi pesan tersebut menyuruhku untuk segera menemuinya.


Angin menghempas pepohonan tabebuya ke kiri dan ke kanan, seperti sekawan anak adam yang duduk berjajar menikmati lantunan lagu Dealova. Daun-daunnya berguguran seperti pasrah pada angin. Menyepuh jalan-jalan dan butir-butir bumi surga.


Aku menyusuri ruang tamu kediaman orang tua Rasyid yang berada di kawasan Kalibata, untuk menemui putra kedua dari Ibu Srie Wahyuni tersebut. Terlihat, Rasyid buru-buru keluar pintu kamar dan sepintas menyapaku, "Dek... nanti Mas mau ngomong sama kamu. Sekarang Mas lagi ada urusan bentar."


Aku menautkan kedua alis, karena merasa tidak mengerti apa yang disampaikan oleh Rasyid.


"Memangnya mau ngomong apa? Bukannya sudah jelas kalau besok kita akan menikah!" sergahku. Aku berjalan dibelakang pemuda tersebut.


Rasyid menghentikan langkahnya, lalu menoleh sepintas padaku. "Sebenarnya nggak ada yang ingin Mas sampaikan sama kamu. Hanya ingin ngobrol saja, biar besok Mas nggak tegang ketika Ijab."


"Kamu aneh... Apa kamu nggak ngerti ya? Kalau mau nikah tuh harus dipingit! Kita nggak boleh saling ketemu sebelum ijab selesai diucapkan!" tukasku ketus.

__ADS_1


"Ooh... Begitu? Ya maaf, kalau gitu Mas nggak jadi ngajak ngobrol. Yasudah Mas mau keluar bentar. Mau jemput teman Mas."


Aku hanya memicingkan bibir, tanpa menjawab lagi.


****


Suara denting ponselku tak habis berbunyi. Banyak pesan yang masuk. Ada sebelas pesan. Diantaranya dari Rini sahabatku ketika di Kota Malang dan dari Daffa teman kecilku. Pesan lainnya dari kawan-kawan satu almamater dan kawan-kawan semasa putih abu-abu. Semuanya, tak lain untuk mengucapkan selamat menempuh hidup baru. Kecuali Rini.


Pesan dari Rini, membuatku sedikit ternganga. Ia mengomeliku, sebab aku akan menikah dengan orang yang sama sekali tidak aku inginkan dalam hidup.


"Harusnya kamu bisa menolak keinginan Ibumu, Mheta. Kamu harus tahu, menikah itu bukan perkara mudah. Bukan bersifat main-main. Apalagi, kamu nggak cinta dan sayang sama laki-laki itu."


Belum sempat aku mengetik balasan untuk Rini. Gadis itu mengirim pesan yang membuatku seperti menyunggi kesalahan yang teramat besar.


Rini benar, tidak seharusnya aku menuruti keinginan Ibu kala itu. Tapi, semua sudah sia-sia bukan? Pernikahanku sudah didepan mata. Bahkan hanya menunggu beberpa jam saja.

__ADS_1


"Ya... tapi aku berharap kamu akan mendoakan kebahagiaanku, Rini.." aku mengirim pesan tersebut kepada sahabatku.


Beberapa saat kemudian, Rini langsung membalas pesan dariku.


"Aku pasti mendoakanmu, Mheta. Tapi maaf, aku nggak bisa hadir ke acara pernikahanmu besok. Aku lagi banyak urusan."


Balasan macam apa itu? Ada yang menusuk dalam relung hati. Tak berdarah, tapi rasanya sakit. Ketika ku baca berulang kali pesan dari Rini. Dia tidak bisa datang karena banyak urusan.


Aku tidak menjawab pesan dari Rini lagi. Ku tinggalkan nama tersebut dengan menganjur napas panjang.


Belum sempat kumatikan pedar ponsel, pesan dari Rini lagi-lagi menelusup masuk begitu saja.


"Dulu, kamu menyukai seseorang yang belum pernah kamu tahu latar belakangnya. Bahkan, kamu hanya berjumpa satu kali. Sampai-sampai botol sampah saja kamu simpan. Semoga, kali ini kamu juga akan seperti itu, Mhet. Menyayangi suamimu, seperti saat kamu menyimpan botol mizone dulu. Maaf ya, aku nggak bisa datang ke acara pernikahanmu besok. Semoga kamu bahagia dengan pilihan Ibumu."


Hatiku berdesir hangat, ketika mengingat kembali kenangan saat awal pertama bertemu dengan laki-laki bermantel basah, membawakanku sebotol mizone di tengah derasnya alam.

__ADS_1


"Aamiin... terimakasih, Rini." Aku hanya mengirim balasan itu saja kepada Rini.


Aku tahu, jika sebenarnya Rini sedang marah terhadapku. Tapi, semua juga sia-sia. Sengaja atau tidak. Rencanakan atau bukan. Semua yang ku jalani adalah ketetapan Tuhan, yang memang sudah seharusnya aku jalani.


__ADS_2