
“Sejak kapan kamu menjadi orang yang puitis?” sembari menganjur napas, sebuah balasan segera ku kirim kepada Rasyid.
Terlihat, pemuda asing itu hanya membaca pesan dariku. Tanpa membalasnya.
Aku menaruh ponsel. Meneguk minumku hingga setengahnya, dan setelah itu aku kembali menulis pesan untuk Rasyid.
“Belajarlah sopan. Bukankah kamu seorang abdi Negara? Jika ada orang bertanya ada baiknya kalau dijawab…” aku mengirim dengan perasaan kesal.
“Sejak saya membaca sebuah novel yang berjudul, Selamat Tinggal Kenangan. ” Sebuah balasan dari Rasyid
yang membuat kedua mataku terbelalak. Darimana dia tahu perihal novel pertamaku yang sudah terbit tiga tahun yang lalu?
“Ooh…” aku membalas hanya dengan kalimat itu saja. kini, aku tidak peduli lagi. Tentang dia yang sudah tahu
hasil tulisan pertamaku itu.
“Karya kamu bagus, Dek. Dari pertama, Mas sudah mengidolakan penulis novel itu. Dulu, Mas berharap bisa
bertatap muka langsung dengan si penulis. Namun, ternyata rencana Allah itu lebih indah. Kini, Mas bukan hanya dipertemukan dengan penulis misterius itu. Tapi malah dikasih bonus, untuk menjadi pasangan hidupnya. Allah
itu Maha baik ya?” pesan Rasyid tiba-tiba masuk lagi, dibubuhi sebuah emoticon senyum.
Aku berulang menganjur napas panjang. Tanganku membuka lipatan jemari yang mulai berkeringat.
"Novel yang judul Esperansa juga bagus." Pesan Rasyid kembali masuk.
aku kembali menganjur napas, lalu membuangnya tak beraturan.
Jadi… pemuda itu memang sudah lama ingin berjumpa denganku? Pantas saja, sewaktu di rumah hijaunya kapan waktu. Aku menemukan sejumlah novel, dan diataranya ada novel karyaku. Salah satunya tentang kumpulan puisi Pengelana, yang sempat ku kasih secara cuma-cuma di rumah sakit tempo waktu.
Aku meninggalkan nama Rasyid begitu saja. Jika tadi, aku mengatakan padanya untuk membalas percakapan kami. Namun, kini aku malah memilih untuk tidak membalasnya lagi.
*****
Waktu terus berjalan, hari terus berganti. Kemarin, tidak mungkin dapat kita ulang kembali ‘ka? Begitu juga
dengan kisah-kisah Pengelana.
Sudah beberapa hari, semenjak aku mengirim sebuah balasan pesan untuknya tentang pernikahanku. Pengelana
tidak pernah lagi mengirimiku pesan, atau hanya sekedar menyapaku.
Sejenak napasku terhenti, ketika ku tatap sebuah botol yang masih setia bertengger di atas nakas. Ada yang memanas dikedua sisi mataku.
*****
Pernah kau dengar suara dari tempat yang jauh.
Kau hafal alamatnya, tapi kau tidak bisa benar-benar kesana.
Ia memanggil-manggilmu pulang.
Tapi, kau tak pernah benar-benar bisa datang.
Sebab...
Sebab ia tinggal di masa silam.
#Muntilan14Juli…
Sebuah sajak yang ku beri judul Suara dari tempat yang jauh. Ku unggah kesebuah Grup Literasi di akun fb.
Lima menit setelah ku unggah status tersebut, terlihat ada puluhan like dan emoticon berbentuk hati memenuhi sajakku.
*****
Hari ini adalah hari terakhirku mengabdikan diri di Puskesmas Muntilan. Sebelum pada akhirnya, aku harus
mengundurkan diri karena permintaan dari ibu.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan, ibu menyuruhku untuk segera berhanti bekerja. Semua disebabkan oleh hari pernikahanku dengan pemuda asing akan segera di gelar dalam waktu beberapa hari kedepan.
Lalu, setelah menikah. Ibu sudah memohon kepadaku. Agar aku ikut pulang kerumah hijau pemuda tersebut. Katanya, agar aku bisa mengabdikan diri untuk suami.
Mungkin, dari sekarang aku harus belajar menerima. Menerima tentang penerimaan seluas-luasnya.
*****
Opera senja, terlihat berangkat dari serambi pagi. Menuju beranda sore, dibayang-bayang pesta matahari yang sudah pulang. Cahaya jingga pelan-pelan memudar, lampu-lampu kuning menyala. Seumpama bulan dan bintang yang tunduk penuh kepatuhan pada sang malam.
Aku baru saja memasuki beranda rumah dengan mengendari sepeda motor. Terlihat seorang pemuda duduk diserambi dengan pandangan tertunduk.
Pemuda yang tak asing lagi bagiku. Pemuda yang dulu pernah berulang-kali menyeka air mataku. Pemuda yang hampir tak pernah berkata tidak untukku.
“Hei… tumben malam-malam kesini?” sapaku.
Daffa tersenyum, “iya, mau pamit…”
Kedua alisku bertautan, “pamit?” kataku menegaskan, bahwa aku memang tidak salah dengar.
“Iya.”
“Pamit kemana?” ada yang mengalir hangat didalam dadaku, ketika Daffa mengatakan kata iya.
Daffa tersenyum datar, “Korea.” Katanya.
“Apa…” aku menganjur napas, “kamu pasti becanda ‘kan?” tubuhku bergetar, ketika Daffa terlihat menggeleng, meng-iyakan jika dirinya memang benar-benar akan meninggalkan Kota Magelang, untuk pergi ke sebuah Negara yang pernah ia singgahi tempo waktu. “Nggak bisa ya, kalau ke Korea nya nunggu aku habis nikah? Kan udah kurang berapa hari, Daff..” sambungku dengan suara yang mendadak parau.
Daffa menggelengkan kepala. “Mana Bibi…” tanyanya.
"Tapi kamu bilang mau memastikan kebahagianku dulu 'kan? Kok sekarang kamu malah mau pergi? Mendadak lagi?"
"Maafkan aku, tapi aku yakin. Kalau kamu pasti akan bahagia sama Rasyid." Katanya tersenyum. "Tolong panggilin Bibi, aku sekalian mau pamit," tukasnya.
Aku tercekat. Mataku benar-benar memanas. Dengan berat langkah, aku menyusuri ruangan rumah. Mengedar pandang untuk mencari keberadaan Ibu.
ada Daffa di luar.”
Ibu menghentikan aktifitasnya, lalu duduk di bibir dipan.
“kok tumben, Daffa kesini magrib-magrib gini?” katanya, kedua alis Ibu terlihat saling bertautan.
“Mau pamit, katanya.”
“Pamit? Pamit gimana maksud kamu?”
“Ibu temui saja dia, Mheta mau sholat dulu.”
Ini adalah kali ke dua, aku menangis karena kelakuan seoarang Daffa, setelah sbelumnya kami sempat berselisih tegang. Lalu, kami memutuskan untuk tidak lagi menjadi seseorang yang dekat satu sama lain.
Aku berfkir, jika Daffa tidak akan pernah lagi berubah kepadaku, setelah kami saling tegur sapa di rumah sakit tempo waktu. Aku tidak pernah berfikir, jika Daffa saat ini benar-benar akan pergi meninggalkanku ke Korea.
Aku begitu benci dengan kata perpisahan, walau itu hanya sebuah perpisahan sementara.
Aku pergi ke pancuran, membasuh muka. Sekejap aku terdiam, mencoba untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi kepadaku. Terlebih tentang perasaan kehilangan. ketika Daffa bilang akan pergi ke Korea.
*****
Kamu yang selalu merasa sendiri,
Kamu yang selalu jatuhkan air mata ke bumi,
Kamu yang selalu tenggelam dalam kelam,
Menunggu kebaikan datang dari pagi ke malam,
Hanya sebuah harapan, yang kamu dapatkan.
Lagi dan lagi, kamu hanya mendapatkan kesendirian.
__ADS_1
Tak seperti biasa, Daffa mengunggah sebuah status di story wa nya. Sebuah sajak yang mungkin
ditujukan untuk seseorang atau mungkin untuknya sendiri? Entahlah.
*****
Cahaya mentari menyibak langit yang begitu anggun. Kicauan burung tak bertuan mengalun indah dengan irama nada semilir angin sepoi-sepoi.
Detak jam dinding menuju pada pukul delapan pagi sekitar sepuluh menit yang lalu. Aku teringat, jika hari ini adalah hari dimana Daffa akan melenggangkan langkahnya menuju sebuah bandara untuk segera pergi ke sebuah Negara.
"Nadia?" Sekelebat nama tersebut membayangi pikiranku. Akankah Daffa benar-benar menemui gadis berdarah Bugis itu di Korea? Atau...
Aku segera berjingkat dari posisiku duduk di bale bambu belakang rumah. Menyisir pematang untuk segera menemui teman kecilku itu dirumahnya.
“Bi… Daffa mana?” tanyaku setelah memberi salam kepada Ibu Daffa. Beliau terlihat sedang sibuk memasukkan barang-barang ke dalam bagasi mobil. Dengan tatapan sinis, Ibu Daffa menjawab. Jika Daffa sedang pergi keluar sebentar untuk membeli sesuatu.
Aku terhenyak melihat tatapan sinis yang perlihatkan oleh Ibu Daffa padaku.
“Bibi kenapa?” tanyaku. "Daffa pergi ke Korea nya, kapan?" aku melanjutkan pertanyaan.
“Nggak apa-apa…” katanya dengan nada datar. Sedang kedua tangannya masih saja sibuk dengan barang-barang.
“Mheta ada salah sama Bibi?” aku berusaha menyelidik, berharap jika pertanyaanku tersebut tidak menyinggung hatinya.
Ibu Daffa menghentikan aktifitasnya. Lalu, menatap kedua mataku lekat-lekat.
“Bibi kecewa sama kamu dan Ibu mu.”
Aku tersirap. Kedua alisku saling bertautan. Mencoba untuk mencerna kata-kata Ibu Daffa.
“Maafkan atas sikap Mheta dan Ibu, jika selama ini banyak menyusahkan Bibi, Paman dan…”
“Dan hati Daffa! Kamu telah menyakiti hati Daffa!” belum sempat aku menyelesaikan kalimat. Ibu Daffa tiba-tiba memotongnya. Suaranya terdengar tegas, bahkan cenderung marah.
Aku membungkam mulut dengan kedua tangan. Ada yang menyumbat dibagian isi tengah dada. Sedang mataku mulai memanas, pandanganpun sedikit memudar.
“Kenapa? Kenapa kamu diam? Kamu benar-benar keterlaluan, Mheta.” Kali ini Ibu Daffa benar-benar marah padaku. “Apa kurang pengorbanan Daffa selama ini terhadapmu? Sehingga dengan sadarnya kamu menyakiti hatinya?” air mata Ibu Daffa mengucur dengan derasnya.
Aku tercekat, kedua belah pipiku telah basah dengan air mata. Ada yang menyumbat di kerongkongan, rasanya sakit. Ketika aku akan mengucapkan sesuatu.
“Kamu tahu? Jika kepargian Daffa waktu itu, di sebabkan oleh sikapmu yang keras kepala?” Ibu Daffa masih menjelaskan, aku diam dengan tangisan.
“—dan sepulangnya dia dari Korea, dia ingin memperkenalkan seorang gadis bernama Nadia? Kamu
tahu itu, hmm!”
Aku hanya mengangguk pelan.
“Bibi tidak menyetujuinya, sebab Bibi tahu jika Daffa hanya mencintaimu.” Ibu Daffa membuang napas secara liar, "Bibi nggak mau nyakitin hati anak orang, Mheta."
“Maafkan Mheta dan Ibu, Bi?” suaraku parau.
“Maaf katamu!” Ibu Daffa kembali menatap kedua mataku lekat-lekat. “Seumur hidupku, tidak akan pernah memaafkanmu, apalagi Ibumu.”
Begitu hancur rasanya hatiku, ketika Ibu Daffa melontarkan kalimat tersebut. Sebuah tali persaudaraan yang tak sedarah itu, kini di ambang kehancuran. Hanya karena sebuah keinginan yang tak terkabul.
“Sudah, Bu… nggak usah dibahas. Aku dan Mheta memang tidak berjodoh.” Suara Daffa tiba-tiba menjadi penengah diantara ketegangan kami berdua.
“Daffa__” suaraku parau.
“Kamu pulang saja, Mhet. Aku akan berangkat sebentar lagi. Maafkan atas sikap Ibu, aku harap kamu nggak
mengambil hati semua perkataan Ibu barusan.”
“Cukup Daffa! Sudah cukup kamu selama ini mengalah demi gadis tidak tahu diri itu!” Ibu Daffa kembali menukaskan kata yang benar-benar menegaskan. “Selama ini, anakku sudah banyak mengalah untukmu. Bahkan almarhum Ayahmu saja selalu meyuruh Daffa untuk selalu mengikuti keinginannya.”
“Sudah, Bu! Daffa nggak ngerasa sakit hati Mheta mau menikah. Bahkan kepergian Daffa kali ini nggak ada hubungannya dengan Mheta." Daffa mencoba untuk membelaku. Aku hapal sekali bagaimana sikap Daffa ketika ada seseorang yang mencoba untuk menyakiti hatiku. "Kamu pulang saja, Mhet. Aku akan selalu mendoakan kebahagianmu dengan Rasyid. Pulanglah.” Pandangan Daffa mulai berkaca-kaca.
Aku menatap kedua mata Daffa dengan begitu lekat. Berharap jika kesalah pahaman antara Ibu Daffa denganku serta Ibu, akan segera usai sebelum hari pernikahanku dengan Rasyid di gelar.
__ADS_1