PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
Eps 80


__ADS_3

Allen berjalan dengan tenang di samping Carissa, terkadang ia mencuri pandang pada gadis yang pernah di sukainya itu.


“Tanyakan saja Kak, apa yang ingin Kak Allen tanyakan, jangan hanya memandangiku dalam diam.” Ucapnya sambil memandang Allen yang salah tingkah karena ketahuan.


“Emmm . . . kalian sudah baikan?”


“Seperti yang Kak Allen lihat, kami baik-baik saja.”


“Tapi, tadi kamu sempat menepis tangan Tama saat ia ingin menyentuhmu.”


“Apa kami terlihat tidak baik-baik saja?”


“Hm, kalian memang berbicara dengan baik, tapi tak sebaik seperti sebelumnya. Kalian hanya terlihat baik di permukaan saja. Maafkan aku jika ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian, tapi Tama benar-benar mencintaimu Risa. Dia berbuat seperti itu sebelum mengenalmu, dan dia melakukan itu hanya saat terlalu penat akan pekerjaan. Aku saja yang baru beberapa hari memegang kendali perusahaan rasanya mau gila, apa lagi Tama yang sejak dulu mengendalikan perusahaan besar dengan puluhan anak cabang.”


“Apa itu membenarkan semua tindakannya, Kak?”


“Tidak, Risa. Itu salah, tapi kamu juga tidak boleh langsung menghakiminya seperti itu. Marahlah sepuasmu lalu jika kamu memang masih memberikan waktu padanya, berikan juga kesempatan serta maaf untuknya.”


“Tapi Amelia berbeda, Kak. Mereka melakukan hubungan itu sebelum pernikahan kami berlangsung. Artinya dia sadar jika sudah mengkhianatiku.”


“Tama pasti sudah menjelaskannya padamu. Dan apa menurutmu Tama melakukannya dengan senang?”


“Tidak, dia terlihat marah.”

__ADS_1


“Kamu tahu itu.”


“Aku tahu itu, Kak. Tapi rasanya sungguh berat menerima seseorang yang selama ini selalu mengatakan jika aku yang pertama untuknya, namun kenyataannya . . .”


“Tapi pada kenyataannya kamu memang yang pertama untuknya, Risa. Dalam urusan hati dan segalanya. Tama tak pernah memandang seorang perempuan sebagai seseorang yang spesial, hanya kamu Risa. Tama mau melakukan segalanya dan berjuang.”


“Apa Mas Tama meminta Kak Allen untuk menjelaskannya padaku?”


“Tidak, dia tidak memintaku. Hanya saja dia terlihat kacau beberapa hari ini, ini bukan seperti Tama biasanya.”


“Jadi ini semua salahku?”


“Tidak, Risa, bukan begitu maksudku. Aku hanya . . .”


“Jangan pikirkan kebahagiaan orang lain, Risa. Pikirkan kebahagiaanmu terlebih dahulu. Aku tulus mengatakan itu, sebagai temanmu.”


“Terima kasih, Kak.”


“Sekalian saja aku berpamitan, nanti sore aku akan kembali ke Jakarta, aku sudah meninggalkan kantor selama tiga hari.”


“Terima kasih ya, Kak, sudah membantu Mas Tama.”


“Lihatlah! Kamu masih mencintainya, Risa. Kamu masih peduli pada laki-laki angkuh itu.”

__ADS_1


Carissa tersenyum dan melanjutkan perjalanan mereka diatas pasir putih dan ditemani deburan ombak.


“Allen sudah pergi?”


“Sudah, Kak Allen tadi juga sekalian berpamitan.”


“Apa saja yang kalian obrolkan?”


“Kami hanya membicarakan obrolan sederhana saja, hanya itu.”


“Sayang, maaf karena tidak bisa segera membawamu kembali ke Jakarta, aku . . . aku ingin lebih lama di sini bersamamu, apalagi baru kali ini aku mengambil masa cutiku. Tapi, jika kamu bosan berada di tempat ini, maukah kamu pindah ke vila yang lebih besar?”


“Tidak, aku menyukai tempat ini. Kamar ini juga besar, ada kamar tidur, ruang tamu didepan, dan saat keluar dari kamar, aku langsung bisa melihat pantai. Aku senang di sini.” Jawab Risa dengan datar.


“Kamu yakin tidak ingin pindah?”


“Tidak.”


“Malam nanti di dekat sini akan ada pesta tepi pantai. Mau datang dan ikut dalam pesta? Tak jauh, hanya 2 km dari tempat ini.”


“Tentu.”


Tama akhirnya duduk dengan diam sambil terus memandangi istrinya yang semakin lama semakin tidak peduli lagi dengannya.

__ADS_1


“Apa yang harus kulakukan, Risa? Apa yang harus ku lakukan agar mendapat perhatian darimu lagi?” keluhnya dalam hati.


__ADS_2