
Pagi-pagi sekali pintu kamar sudah diketuk. Seorang pekerja di rumah Eyang Utie, menyuruh kami berdua segera mengikutinya ke arah ruang makan, untuk menikmati santap pagi. Sebelum pada akhirnya aku dan Rasyid meneruskan langkah kerumah Ibu di Muntilan.
Rasyid memutuskan hanya meneguk tea tubruk manis serta memakan sebuah roti goreng. Dia sudah meminta maaf kepada Eyang, karena tidak memakan masakan dirumah. Rasyid ingin menikmati makan di perjalanan menuju Magelang.
Setelah semua barang bawaan kami beres masuk koper berwarna merah. Kini waktunya, aku beserta suamiku berpamitan kepada keluarga besar. Lalu, memesan taksi untuk menuju Magelang.
Sebenarnya, tadi PakDe menawarkan diri untuk mengantar kami. Namun, aku menolaknya secara halus. Karena Rasyid ingin mampir ke bunderan UGM. Biasanya Ahad pagi, di bunderan tersebut digelar banyak jajanan. Tempat yang tepat untuk mengisi perut sebelum ber aktifitas.
"Manten baru apa nggak capek? Pagi-pagi buta udah mau berangkat ke Muntilan?" Ucap Eyang kepada kami berdua. Yang membuat aku dan Rasyid saling bertatapan.
Aku terlengak, "ya nggak toh Eyang..."
"Tapi apa nggak kepagian?"
"Nggak," aku menggeleng, "soalnya Mheta udah kangen Ibu. Ya 'kan, Mas?" Tukasku sembari menoleh ke arah Rasyid kembali.
"Iya Eyang, dari semalam Dek Ayu sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Ibu." Sanggah Rasyid.
"Yasudah, hati-hati ya... Cah Bagus, Cah Ayu... Salam sama Ibumu." Tukas Eyang Utie sebelum kami berlalu masuk kedalam taksi yang sudah di pesan Rasyid, sekitar sepuluh menit yang lalu.
******
Hari sudah sore, ketika aku dan Rasyid sampai di kediaman Ibu. Mungkin, karena kami tadi terlalu banyak singgah di tempat-tampat yang belum pernah Rasyid kunjungi.
Ibu terlihat menyimpulkan senyum manisnya di beranda rumah. Menyambut kami yang baru turun dari taksi. Aku melangkahkan kaki yang kini terasa ringan. Masih tersisa bekas tangis di dalam hati. Ketika Ibu melepaskanku untuk seorang laki-laki yang kini telah sah menjadi pasangan halalku.
Segera ku raih tubuh Ibu, menenggelamkan bagian tubuh ini kedalam dekapan hangatnya. Seminggu lebih aku terpisah dengan Ibu. Sungguh rasa rindu itu benar-benar menghujam. Entah kenapa? Padahal aku sudah terbiasa hidup merantau jauh dari orang tua. Namun, kali ini aku benar-benar merasakan seperti belum pernah tinggal jauh terpisah dengan ibu. Apa mungkin karena setelah kepergian Ayah, aku enggan meninggalkan Ibu sendiri? Atau, karena aku sekarang berstatus istri orang. Bukan sebagai Mheta si gadis perantau yang ingin tahu segala hal yang di impikannya? Entahlah.
Lama. Lama sekali aku hanyut dalam pelukan wanita yang terlihat sedikit kerutan halus di kedua pelipis serta dahinya itu. Menumpahkan segala rasa rindu yang tertahan selama seminggu ini.
"Udah jangan nangis, malu dilihatin Suamimu..." seloroh Ibu, melonggarkan dekapan, lalu membasuh air mata yang menetes dikedua pipiku.
"Gimana perjalan kalian dari Jakarta, Jogja dan berakhir di Muntilan sini? Capek?" sambungnya.
Aku spontan menggeleng. "Kami malah seneng, betul 'kan, Mas?"
"Iya Bu. Kami menikmati perjalanan..."
"Kalian sudah makan? Ibu udah nyiapin makanan lho. Mau langsung makan...atau? Mau mandi dulu..." pandangan Ibu terlihat berbinar menatap kami secara bergantian.
Aku dan Rasyid menjawab secara serempak, jika kami memilih untuk membersihkan badan sebelum berlenggang ke ruang makan untuk menyantap hidangan yang telah di siapkan oleh Ibu.
******
"Jadi... dulu kalian seberapa dekat?"
__ADS_1
Pertanyaan macam apa itu?
Setelah masuk dalam kamar yang telah kutinggalkan selama seminggu kebelakang. Rasyid membuka obrolannya dengan bertanya mengenai Daffa padaku. Aku hanya menjawab sekenanya saja. Tak ingin rasanya, Rasyid mengetahui tentang kedekatan kami yang pernah di gadang-gadang oleh para tetangga akan berakhir di pelaminan.
"Bukannya Mas udah pernah tanya sama Daffa. Kami dulu seberapa dekat 'kan?" tukasku datar.
"Iya, tapi Daffa nggak pernah mau jawab. Dia hanya bilang kalau kamu baik. Itu saja."
Aku menghentikan aktifitas sebentar. Menaruh baju ganti diatas nakas. Menyampirkan handuk disisi pundak kanan. Lalu berjalan ke arah Rasyid yang sedang melihat-lihat koleksi buku yang tertata rapih di rak lemari. Dia terlihat ingin mengambil buku karya Seno Gumira A.
"Apapun yang di ceritakan oleh Daffa tentangku sama Mas. Ya itulah aku. Dan seperti itulah kedekatan kami. Jadi, nggak ada yang perlu di pertanyakan lagi." selorohku, sengaja sedikit ku tekankan. Agar Rasyid tahu, jika tidak ada yang perlu di bahas antara aku dan Daffa.
"Terus... Kamu tahu? Kenapa dia nggak datang ke acara pernikahan kita?"
Kali ini, pertanyaan Rasyid membuatku ingin menyumpal mulutnya dengan buku yang tengah ia pegang.
"Dia ada urusan..."
"Urusan? Apa urusannya menyangkut perihal hati?"
Aku menutup mulut dengan kedua tangan. Ada yang menghangat dibagian dada. Bukan sekedar menghangat, kali ini lebih pada kata panas. "Lalu, jika kamu tahu. Kenapa kamu tetap menikahiku?" Runtukku dalam hati.
Aku tidak menjawab. Memilih untuk melesatkan kaki menuju kamar mandi.
*****
Adzan Magrib menggema. Suara muazin itu memecah hiruk-pikuk seantero Kota Magelang. Rasyid mengarahkan pandangannya ke luar jendela. Ia menyibak tirai hingga dapat di saksikannya langit jingga yang sudah memudar.
Sampai selesai Adzan, posisi Rasyid masih bertengger di depan jendela. Tidak ada yang berubah sebelum atau sesudah adzan.
Semenjak ia melayangkan pertanyaan sore tadi, perihal Daffa. Rasyid begitu banyak menghabiskan waktu hanya untuk termangu sendiri. Bahkan, saat kami sedang menyantap hidangan yang telah di masak oleh Ibu. Sepertinya Rasyid tak bergairah untuk memakan masakan tersebut. Selepas makan. Ia berpamitan kepada Ibu, ingin beristirahat di kamar. Sedangkan aku sengaja, berbincang-bincang dengan ibu di beranda rumah. Sembari menikmati senja merah saga, sesekali diselingi suara merdu dari kambing-kambing yang kandangnya terletak di belakang rumah.
"Mas, ayo sholat?" ajakku kepada Rasyid. Mencoba untuk mencairkan suasana yang tercipta di antara kami berdua.
"Kamu sholat saja. Mas, mau sholat di mushollah." tukasnya sembari berlalu begitu saja.
*****
"Daffa? Apa kamu cerita tentang kita kepada Rasyid?" Sebuah pesan cepat-cepat ku kirim kepada nomor teman kecilku tersebut.
Centang satu.
Hatiku berdegam-degam, ada perasaan khawatir. Sesuatu akan terjadi kepadaku atau Daffa, mungkin? Aku tidak mengenal Rasyid, seperti apa dia sebenarnya? Waktu seminggu tidak akan pernah cukup untuk menyelami sifat seseorang, bukan?
Setelah menyelasaikan sholat, aku duduk di bibir dipan. Menatap ponsel yang bertengger diatas nakas. Berharap ponsel tersebut akan berpedar oleh pesan Daffa.
__ADS_1
Namun, nihil.
*****
Rasyid mengajakku duduk di beranda rumah. Tepat pukul sembilan malam, Ibu juga sudah berpamitan untuk istirahat terlebih dulu.
Entah kenapa, rasanya ada yang kurang pas di hati. Perasaanku mulai tidak nyaman, ketika di beranda hanya tinggal aku dan Rasyid.
Sorot matanya sesekali melihatku dengan penuh telisik. Bahkan, ia menyimpulkan senyum. Entah senyum itu benar tulus, atau malah sebaliknya.
"Kamu belum menjawab pertanyaan Mas, sore tadi?"
Dadaku tiba-tiba sesak.
Sungguh diluar dugaan. Awalnya aku mengira Rasyid akan melupakan perihal pertanyaannya padaku.
Rasyid tersenyum. Beberapa saat lalu aku melihat Rasyid termangu sejenak. Mungkin menahan perasaan atau sesuatu. Aku bisa mengerti, karena sepanjang pertanyaannya tentang Daffa, aku hanya menjawab sekenanya. Beda saat dia bertanya tentang kedekatan kami. Aku memilih diam.
"Sekedat apa?"
Rasyid mengulang pertanyaannya tadi sore.
Aku bingung harus jawab apa.
"Aku dan Daffa bersahabat sejak kami masih kecil. Dia adalah satu-satunya lelaki yang selama hidupku nggak pernah bilang 'tidak' untukku, setelah almarhum Ayah. Dia selalu berusaha menjadi orang terbaik di hadapanku. Sampai kami menginjak dewasa. Lalu, pada akhirnya kami harus saling meninggalkan. Karena kami telah menemukan masadepan masing-masing. Apa ada yang salah?" Aku buru-buru menganjur napas.
Rasyid terdiam, mungkin dia sedang mencerna kata-demi kata yang telah ku utarakan barusan.
"Tentang Mheta? Apa kamu lebih suka dipanggil dengan nama itu?" Rasyid terlihat membuang pandang ke arah langit yang kebetulan malam ini tak berbintang.
Aku mencoba untuk tersenyum, walau sebenarnya hati ini ingin sekali berontak.
"Kalau masalah Mheta... Itu terserah mereka, mau memanggilku dengan sebutan apa. Selagi mereka nyaman dan nggak merugikan." tukasku.
"Mas merasa kamu dan Daffa punya hubungan diluar persahabatan kalian." selorohnya, kali ini dia mengambil posisi berdiri, lalu menyenderkan setengah badannya di tiang beranda rumah.
"Jika memang kamu berfikir seperti itu? Lalu, kenapa kemarin-kemarin kamu masih kekeh mau menikahiku?" Runtukku spontan, dengan nada yang lebih meninggi.
"Mungkin, rasa ingin memiliki ini lebih kuat. Dari pada rasa ingin tahu tentang siapa orang yang dekat dengan kamu, Dek. Sudah malam, kita istiraht. Besok kan mau pulang Jakarta."
"Jika rasa ingin memilikimu lebih kuat dari pada rasa ingin tahumu, tentang siapa orang yang dekat denganku... Nggak seharusnya kamu menanyakan perihal Daffa saat ini!" aku menganjur napas, "Kami tidak pernah menjalin hubungan, kami hanya sebatas sahabat, tidak lebih. Bahkan dalam kamus hidupku, tidak ada istilah pacaran, kamu boleh tanya siapa saja yang kenal denganku, aku bukan perempuan yang suka gonta-ganti pacar. Itu yang harus kamu tahu!"
Kali ini aku benar-benar tidak bisa mengendalikan rasa marahku. Aku berlalu dari hadapan Rasyid menuju kamar.
Andai memang Rasyid mempercaiku, mungkin dia tidak akan pernah bertanya perihal masalaluku, bukan?
__ADS_1