PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
Eps 65


__ADS_3

Carissa mulai hari ini akan memilih untuk tidak mempercayai semua ucapan yang keluar dari bibir Tama. Saat pergumulan yang mereka lalui berdua sudah tak terhitung lagi di malam itu, Tama berjanji akan menyudahinya tepat sebelum jam lima pagi. Namun baru saja tertidur satu jam, Carissa secara samar merasakan ada yang sedang menggerayangi tubuhnya. Dan karena sentuhan itu, membuat Carissa itu akhirnya mendesah secara perlahan.


“Hhhhh . . . aaahhh, cukup, Mas. Jangan lagi, biarkan aku tidur.”


“Hmm? Tidurlah, Sayang. Aku tidak memintamu untuk bangun.” Jawabnya dengan acuh dan tetap terfokus merangsang tubuh istrinya yang sangat kelelahan itu.


“Bagaimana aku bisa tidur jika kamu begini, ahhhh! Cukup, Mas.”Carissa dengan susah payah bangun dari tidurnya dan duduk dengan menahan nyeri tubuhnya. Dia memukul tubuh suaminya yang sudah bergairah lagi itu, “Kamu sudah berjanji padaku untuk membiarkanku tidur, Mas.”


“Aku melakukannya, kan?”


“Tapi kamu masih saja memprovokasi tubuhku. Capek, Mas. Lelah banget. Dan ini masih nyeri, bengkak tahu!” tunjuknya ke arah bagian intim tubuhnya.


“Apa perlu kita periksa?”


“Cukup biarkan aku istrirahat satu hari ini, dan jangan menggangguku!” Carissa mengeluh dengan sebal.


“Maafkan aku, Sayang.” Tama memeluk istrinya. “Aku tak bisa mengendalikannya, aku benar-benar binatang buas.”


“Ya, kamu binatang! Binatang buas yang menyiksaku.” Geramnya. Carissa memukul Tama lagi dengan pelan, lalu menunjuk benda yang sudah menegang dibawah sana, “Dan kamu! Jika kamu tidak menyimpannya baik-baik, Mas, jangan salahkan aku jika sudah menggila dan mematahkannya tanpa sengaja!” ancam Carissa membuat Tama menelan ludah dengan kepayahan.


“Tidurlah, tidurlah.” Tama memposisikan tubuh Carissa dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal. Lalu, ia merasa bersalah saat melihat Carissa dengan mudah langsung tertidur nyenyak. “Dia sangat kelelahan, ini semua adalah salahku.” Sesalnya. Tama memilih untuk mengguyur badannya dengan air dingin, lalu menyusul tidur kembali di sisi istrinya dan menyembunyikan tubuh kecil itu dalam pelukannya.


***

__ADS_1


“Sayang? Bangun. Kita harus ke bandara sekarang.”


“Euhh . . . jam berapa ini, Mas?”


“Ini sudah jam enam.”


“Enam sore?”


“Enam pagi, Risa.”


“Apa!!!” Carissa langsung meloncat dari tempat tidurnya dan membuka gorden kamar hotel, dan benar saja, ia bisa melihat jika matahari mulai menampakkan sinarnya.


“Bagaimana bisa aku tertidur begitu lama?”


“Kenapa nggak membangunkanku, Mas?” sesalnya saat menghambur kepelukan suaminya.


“Aku tak tega, kamu terlihat sangat kelelahan.”


“Salah siapa, coba?”


“Iya, iya, salahku. Kamu lapar?”


Carissa mengangguk dengan manja, “Iya, aku lapar.”

__ADS_1


“Imutnya! Ternyata ia bisa membuat ekspresi seperti ini.” Bisiknya dalam hati. Carissa heran karena suaminya hanya tersenyum sambil memandangnya, “Kenapa, Mas? Pasti wajahku jelek banget, ya?”


Mengecup kening dengan mesra, “Enggak, kok. Kamu masih cantik. Sekarang ayo kita bersiap, setelah itu sarapan, lalu dua jam lagi kita akan ke bandara.”


“Hm? Ngapain ke bandara?”


“Kamu lupa?” Tama menjentik kening istrinya itu, “Mam dan nenek kan akan pergi ke Amerika.”


“Oh, iya! Aku benar-benar lupa, Mas. Tapi koper besar itu untuk apa, Mas.” Ia menunjuk dua koper yang sudah siap dengan berbagai isinya.


“Setelah mengantar nenek dan mam, kita bisa langsung pergi untuk bulan madu.”


“Hah??? Ta-tapi aku belum menemui papaku dan tanteku lagi, Mas, setelah pesta malam itu.”


“Tenang saja, aku sudah bicara dengan papa pagi tadi.”


“Memangnya kita mau kemana?”


“Terserah mau ke mana saja, toh hasilnya akan sama saja. Aku akan membuatmu tetap berada di dalam kamar.”


Carissa menelan ludahnya dengan susah payah dan melepaskan pelukannya, Tama yang merasa aneh, langsung menarik tubuh kecil itu kembali dan memeluknya lebih erat.


“Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba menjauh, hm?”

__ADS_1


__ADS_2