PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
PH 64 Tidak Boleh Pasrah


__ADS_3

Pemilik Hati (64)


David akhirnya hanya diam saat kedua orang tuanya berbicara panjang lebar. Ia akui, ia salah karena telah menutupi kondisinya dari keluarganya.


" Sampai kapan Mama akan terus bicara? Apa Mama tidak ingin aku beristirahat?," Sebenarnya ia merasa semakin pusing saat sang ibu terus menasehatinya.


Flower akhirnya tersadar. Ia seharusnya memberi ketenangan dan membiarkan anaknya istirahat. Namun, rasa khawatir bercampur kesal sudah terlanjur menguasainya.


Flower menghela nafas. " Maaf, Mama sangat khawatir."


"Kita akan mengikuti saran dokter. Kamu akan secepatnya di operasi setelah kondisimu memungkinkan untuk melakukan penerbangan," ucap Ayah David


" Penerbangan?"


" Kita akan melakukan pengobatan terbaik ke rumah sakit tempat Bibimu tinggal. Singapura," tambah Ayah David.


" Tapi, Pah..."


" Tidak ada penolakan. Keputusan Papa tidak bisa di ganggu gugat,"


David diam. Keputusan ayahnya sudah tak akan lagi bisa berubah.

__ADS_1


" Kami pulang dulu, Fa. Kalau ada apa-apa langsung hubungi Papa,"


" Iya, Pah."


" Kamu yakin tidak ingin ditemani, Fa?," Syifa hanya menggelengkan kepalanya.


Ia ingin berbicara dengan sang suami. Akan sangat canggung jika ada orang lain di antara mereka.


" Ya sudah. Bantu Mama meyakinkan David, ya," Bisik Flower saat ia memeluk menantunya.


" Iya, Ma." Syifa tersenyum.


" Ay, Mas tak ingin melakukan operasi," ucapnya yang ternyata masih pada pendiriannya.


" Kenapa?," tanya Syifa yang ingin tahu alasan itu dari sang suami langsung agar ia bisa membuat suaminya justru menjadi mau untuk di operasi.


" Operasi tidak menjamin mas akan sembuh. Bahkan presentase keberhasilannya kecil," de_sahnya.


" Mas tak ingin sembuh dan menemaniku membesarkan anak-anak kita?,"


" Bukan begitu," David tak ingin istrinya salah paham. " Tapi, akan lebih baik jika mas menemanimu di akhir kehamilan ini. Bagaimana kalau mas malah tidak selamat saat operasi nanti? Atau mas malah koma hingga melewatkan menemanimu lahiran nanti," Baru kali ini David merasa tak percaya diri. Merasa hidupnya tingga hitungan waktu saja.

__ADS_1


Syifa menggenggam tangan suaminya. "Kenapa mas merisaukan apa yang belum terjadi?. Kita memang tak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Namun, kita tidak boleh pasrah atas keadaan. Kita justru harus memaksimalkan ikhtiar kita."


" Kalau gagal?,"


" Bagaimana kalau berhasil?," Syifa balik bertanya hingga membuat suaminya bungkam.


" Semua yang telah terjadi, sedang terjadi dan bahkan yang akan terjadi sudah tercatat di lauhul Mahfudz. Namun, bukan berarti kita hanya diam karena berfikir sejauh apapun usaha kita akan sia-sia. Bukankah Rasulullah pernah bersabda bahwa Tiada yang bisa mengubah takdir selain doa dan tiada yang bisa memanjangkan umur kecuali perbuatan baik.” David diam mencoba mencerna apa yang akan di sampaikan oleh sang istri.


" Kalau mas hanya diam saja dan menikmati hari-hari yang menurut mas akan segera berakhir, itu artinya mas pasrah. Sedang kita masih bisa berikhtiar untuk kesembuhan mas. Di saat banyak orang yang justru tidak punya kesempatan untuk bisa sembuh karena keterbatasan biaya, mas di beri kemudahan. Lalu kenapa tidak memanfaatkan itu semua?


Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Mungkin mas berfikir akan lebih dulu meninggalkan kami karena kondisi mas sekarang. Padahal bisa jadi kami yang sehat yang lebih dulu pergi,"


David diam, ia membenarkan apa yang dikatakan istrinya.


" Ayo berusaha semaksimal mungkin. Soal hasilnya seperti apa, kita serahkan kepada Allah. Dia Yang Maha Tahu apa yang terbaik untuk kita. Mas mau kan?,"


David diam tidak langsung menjawab. " Tapi, aku ingin melakukan sesuatu sebelum pergi ke Singapura."


Syifa tersenyum. Dari apa yang dikatakan suaminya, itu artinya ia mau melakukan operasi. " Alhamdulillah. Mas mau melakukan apa memangnya?,"


TBC

__ADS_1


__ADS_2