
Seusai pesta pernikahanku dengan Rasyid digelar, kami berdua
pulang kerumah orang tuanya yang tak begitu jauh dari daerah Cijantung. Hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit,untuk menempuh perjalanan.
Di dalam mobil Alpard berwarna putih, aku membuang pandang ke arah luar kaca jendela mobil tersebut. Melihat rentetan lampu yang seakan saling berlarian mengejarku.
Aku masih tak habis pikir, kenapa Pengelana bisa datang diacara pernikahanku dengan Rasyid? Apa sebenarnya hubungan mereka? Benarkah hanya sebatas sahabat? Bagaimana jika ternyata mereka adalah saudara jauh, misalnya?
Aku menganjur napas dalam-dalam, lalu membuangnya dengan sedikit liar.
“Setelah ini apa rencanamu,” di tengah hening, aku mencoba
bermonolog untuk mencairkan suasana.
Terlihat dengan jelas, Rasyid yang duduk disampingku begitu
canggung dan kaku. Sorot matanya fokus pada bagian kaki yang bergelayut diatas jog mobil mewah milik orang tuanya, yang saat ini telah sah menjadi mertuaku tentunya.
“Maksud kamu apa, Dek?” selorohnya, wajah yang tegang itu,
kini melihat kearahku.
“Kurang jelas, ya?” kataku mengembus napas liar. “Pernikahan
kita kan sudah selesai di gelar. Terus rencanamu kedepan apa?” tukasku sedikit kesal.
“Seperti yang sudah Mas katakan kepada penghulu tadi, yang
disaksikan oleh para saksi, wali serta tamu undangan.” Tukas Rasyid.
Jawabannya benar-benar tidak memuaskan hatiku.
Lama kupandangi hena yang tersusun rapi dan indah dibagian
punggung tanganku, sembari mencari pertanyaan lain yang bisa membuatnya mati kutu.
*****
Kuseka butiran keringat yang bersarang di pori-pori hidung,
pelipis dan juga leherku. Butiran sebesar biji jagung itu sudah melunturkan riasan tebal di wajahku. Belum lagi keringat di bagian punggung yang telah membuat gaun pengantin pembelian Rasyid terasa lembab. Padahal daritadi aku tidak kepanasan, bahkan di dalam mobil tadi aku sudah mencoba memosisikan diri senyaman mungkin. Tak peduli dengan Rasyid yang duduk mematung disampingku.
Lalu, kenapa aku masih bisa kepasanasan seperti ini?
Rasyid terlihat keluar dari kamar mandi, mengenakan kaos berwarna abu-abu serta celana pendek berwarna gelap.
“Mandi dulu sana, Dek. Sepertinya kamu kelelahan.” Selorohnya, Rasyid menyodorkan handuk berwarna putih padaku.
Kini aku baru tahu. kenapa bisa kepanasan walau sebenarnya sedang berada di ruang ber Ac.
Tubuhku merasakan panas-dingin, kedua lututku gemetar hebat.
Rahangku gemeretak. “Tuhan… aku belum siap menjadi istri seutuhnya untuk Rasyid.” Monologku dalam hati.
Buru-buru aku berhambur kearah kamar mandi, mencari cara bagaimana agar kiranya kami tidak melakukan hubungan layaknya suami istri.
“Jadilah istri shalehah,” kata-kata Ibu terngiang di telingaku.
Persetan dengan kata-kata itu, aku memang tidak pernah menginginkan untuk menjadi istri Rasyid. Jadi, untuk apa aku harus menjadi istri shalehah?
Tapi, bagaimana dengan almarhum Ayah?
Bagaimana ini.
****
“Tidurlah… kamu butuh istirahat.” Ucap Rasyid. Ketika mendapatiku keluar dari kamar mandi, yang hampir memakan waktu dua jam.
“I-iya…” jawabku lirih.
Keheningan kamar tercipta seketika, hanya terdengar detak jam, menandakan jika benda itu dalam keadaan menyala.
Aku sengaja memposisikan tidur dengan memunggungi Rasyid. Padahal sebenarnya itu sangat di benci dalam agama, tidur dengan cara memunggungi suami.
__ADS_1
Tapi, bagaimana lagi? Aku takut, aku canggung, aku marah, bahkan aku benci dengan suamiku sendiri.
“Apa kamu sudah tidur?” kataku lirih, memecah keheningan malam.
“Nggak…” jawab Rasyid. Jika terdengar dari suaranya. Sepertinya dia memosisikan diri menghadap kearah punggungku.
Akupun bergegas duduk dibibir kasur, dengan posisi tetap membelakanginya.
“Aku ingin tanya sama kamu. Jawab jujur.” Sergahku.
“Tanya apa?” kini Rasyid mulai berjingkat dari posisi tidur, mendekatiku yang sedang duduk dan menatap jari-jari kaki yang menggantung.
“Kenapa kamu menikahiku? Kita ‘kan nggak saling kenal?”
Rasyid tersenyum enggan menjawab. Tiba-tiba dia melayangkan sebuah kecupan hangat di keningku.
“Tidurlah, setelah masa cutiku habis. Kita akan tinggal di asrama.” Tukasnya, kini Rasyid meninggalkanku yang masih mematung akibat kecupan yang baru saja ia layangkan.
“Kamu mau kemana?”
“Tolong jangan panggil aku, dengan sebutan kamu. Aku ini
suamimu Dek, sudah seharusnya kamu panggil aku Mas. Tidurlah, Mas nggak akan mengganggumu.” Tukas Rasyid sembari menutup daun pintu kamar. Ia berlalu begitu saja tanpa memberi jawaban apa-apa.
Aku tertunduk layu setelah mendengar kata-kata Rasyid
sebelum keluar dari dalam kamar. Kejengkelan hatiku tiba-tiba mengendur, berubah menjadi sendu. Terlebih, pesan ibu terus saja menari-nari dalam otak kecilku. Kata-kata Rasyid telah membuat hatiku yang panas tadi cair. Jadilah air mataku menetes.
Jika boleh aku protes kepada Tuhan. Mungkin aku akan memprotes-Nya karena sudah memainkan tiga hati sekaligus untukku.
Aiirmataku mulai mengering tepat di pukul tiga dini hari. Aku berjingkat dari posisi tidur ke arah kamar mandi. Mencuci muka untuk menghilangkan hadast kecil.
Aku tidak ingin terlalu lama bermain-main dengan panasnya
hati. Siapalah diriku? Hingga dengan bangganya ingin memprotes Tuhan.
Setelah menyelesaikan sholat malam. Aku masih bersimpuh
Aku masih bertanya-tanya kepada sang Empunya hati dan cinta.
Siapa sebenarnya pemilik hatiku setelah Nya?
Ponsel yang kutaruh diatas kasur, tiba-tiba berpedar. Sebuah pesan masuk.
Aku segera membuka pesan tersebut.
Alisku saling bertautan, ketika kulihat pesan itu dari Pengelana.
“Kamu lihat tadi? Betapa sebenarnya saya sedang bernyanyi
untuk kepatah hatian?”
Pesan macam apa itu? Aku menganjur napas, “apa maksudmu?”
“Selamat menempuh hidup baru. Itu maksud saya, M.”
Aku membaca sekali lagi pesan dari Pengelana.
“Jangan ganggu saya lagi. Kamu tahu ‘kan? Saya ini sudah sah menjadi istri orang?”
Pengelana off, tak ada jawaban yang berarti darinya.
Siapa sebenarnya laki-laki itu?
*****
Aku masih mencari cara untuk berdelibrasi dengan hatiku sendiri. Mencari kemufakatan dengan logika. Walaupun sebenarnya sangat susah untuk berdamai.
Tiga hari sudah ku jalani sebagai istri sah dari seorang Rasyid.
Tak ada kejadian yang istimewa bagi kami berdua. Rasa canggung dan kaku, masih terlihat jelas diantara kami berdua. Terlebih diriku.
Setelah semalam kami berunding. Hari ini aku dan Rasyid
__ADS_1
memutuskan untuk pulang ke rumah hijaunya. Dia masih mengantongi surat cuti hingga enam hari kedepan. Masih ada waktu untuk kami saling membicarakan perihal hati masing-masing.
*****
‘Jika cinta adalah api, lalu ke manakah kudapatkan mata air
yang akan membasuh luka-lukaku?’
Mataku membulat, membaca sebuah story whatsapp Daffa.
Beberapa hari yang lalu, aku sempat berjanji pada diriku
sendiri. Jika aku akan menghubunginya seusai pesta pernikahanku digelar. Namun, ternyata aku lupa. Mungkin, akibat banyaknya yang kupikirkan, salah satunya tentang Pengelana.
Aku meminta ijin kepada Rasyid yang tengah asik merapikan
tempat tidur, untuk kami tempati malam ini. suamiku tersebut tersenyum renyah. Dia bahkan tak memberi sebuah kesan penolakan ketika aku menyebut nama Daffa.
Mungkin, karena selama ini dia banyak tanya tentangku kepada
teman kecilku itu. Entahlah.
Tiga kali panggilan tak ada yang di jawab oleh Daffa. Hatiku bergumam, “apakah dia sedang bersama, Nadia?”
Kudengar dari balik pintu kamar, suara Rasyid sedang
bercakap dengan seseorang melalui ponsel. Akupun segera masuk untuk sekedar menguping pembicaraannya yang tak ku tahu dengan siapa dia sedang berinterasksi.
“Ini ada disini, bentar ya…” tiba-tiba Rasyid berjalan ke arahku, memberikan ponselnya padaku.
“Siapa?” aku bertanya sembari menautkan kedua alis.
“Daffa… katanya tadi kamu telepon. Tapi dia nggak mau angkat, takut nggak ada Mas, katanya.”
Aku bisa bernapas lega. Ku kira Pengelana lah yang menelpon
Rasyid.
Daffa mengucapkan selamat menempuh hidup baru untuk ku dan
Rasyid. Suaranya terdengar renyah, mungkin jika saat ini Daffa ada disini. Dia sedang tersenyum bahagia.
Aku mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepadanya, atas
apa yang telah dilakukan selama belasan tahun bersamaku. Menjadi pendengar setia, menjadi super hero ku, bahkan aku juga meminta maaf karena selama ini banyak merepotkannya.
Lama kami bercakap-cakap, hingga keriuhan tercipta didalam
kamar yang berukuran tak seberapa lebar tersebut. Aku sengaja membesarkan suara ponsel. Agar Rasyid tak menaruh curiga terhadap kami.
Sebenarnya ada yang ingin ku tanyakan kepada Daffa, perihal
stastusnya tadi. Bukan, bukan hanya perihal status. Namun, aku juga ingin bertanya tentang keadaan Bibi kepadanya. Tapi, aku tidak mau mengusik keceriaannya hari ini. Karena bagiku, mendengarnya tertawa saja sudah cukup menenangkan hati.
Di akhir percakapan kami, Daffa berpesan padaku. Agar aku
menjadi istri yang menyenangkan suami. Tak jauh berbeda dengan pesan Ibu ketika aku akan melakukan prosesi ijab qabul.
Lalu, setelah mengucapkan salam, dia memintaku untuk segera
memberinya keponakan yang sholih dan ganteng.
“Daffa itu baik banget lho, Dek…” tiba-tiba Rasyid melempar
kata kearahku.
“Darimana Mas tahu?” semenjak kejadian malam lalu, aku
memutuskan untuk belajar memanggil Rasyid dengan sebutan ‘Mas’.
“Ya tahu lah… kalau bukan karena dia, mungkin kita nggak akan sampai menikah.”
Aku hanya tersenyum datar.
__ADS_1