PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
Eps 89


__ADS_3

“Bagaimana hasilnya?” tanya Mega saat Tama dan Baaas kembali.


“Kami akhirnya memutuskan untuk menerima permintaan mereka.” Jawab Bagas.


“Kenapa bisa begitu? Kenapa Pak Bagas tidak kekeh dengan proses hukum?”


“Mam, sabar dulu. Tama akan menjelaskannya.”


Mega, Siska, dan juga Carissa ikut duduk dan mendengarkan penjelasan Tama dengan serius.


“Hasil pemeriksaan Amelia memang menunjukkan jika ia mengalami gangguan jiwa. Karena hal itu dia tidak bisa melanjutkan proses hukumnya. Jadi keluarga besarnya tadi meminta maaf dan meminta izin untuk membawa Amelia ke rumah sakit jiwa untuk perawatan.”


“Bagaimana jika dia berhasil keluar dan mencari Carissa lagi?” cecar Mega lagi dengan khawatir.


“Tenang saja, Bu Mega. Mereka berjanji akan terus mengawasi perempuan gila itu dan memastikan tidak akan membiarkannya mendekati Tama dan Carissa lagi. Perjanjian itu juga tercatat secara hukum.” Tambah Bagas. “Aku juga tidak tahu kenapa dia begitu terobsesi dengan Tama.” gumam Bagas dengan suara pelan. Namun hal itu disadari oleh Tama dan Carissa yang akhirnya membuat kedua orang itu saling menatap dan akhirnya terdiam.


Mega dan juga Siska terlihat masih begitu khawatir, “Mam, Tante, sudah, jangan berlarut-larut. Mereka menjamin hal itu tidak akan terjadi lagi, jadi kita bisa tenang mulai sekarang, ya.” Carissa mencoba menenangkan.


“Kalian bertiga sudah makan?” tanya Bagas.


“Sudah, Mas.” Jawab Siska.


“Kalau begitu, ayo kita beristirahat. Tama sudah memesankan kita kamar di gedung utama. Sudah malam. Besok pagi kita bisa berkumpul dan sarapan bersama.”


“Tak bisakah kita menginap di sini saja, Mas?” tanya Siska.

__ADS_1


“Sis, kamu pernah muda bukan? Jangan mengganggu mereka.” Cegah Bagas.


“Baiklah.” Jawab Siska dengan lemas, sesungguhnya ia masih sangat rindu dengan keponakannya.


“Hati-hati, Mam, Pa dan Tante.” Carissa melambaikan tangannya. Ia dan Tama mengantarkan sampai teras kamar.


“Ayo kita masuk, udaranya mulai dingin.” Tama menggosok lengan istrinya.


“Mau jalan-jalan dulu, Mas?”


“Hm? Sekarang? Ini sudah malam, Sayang.”


“Sebentar saja, di sekitar pantai sini.”


“Baiklah kalau begitu.” Tama menuruti keinginan istrinya. Tama masuk sebentar kedalam kamar dan mengambil selimut kecil untuk menutupi tubuh Carissa dari terpaan angin.


“Apa yang kamu khawatirkan?”


“Aku hanya masih belum tenang, Mas. Aku masih merasa takut.”


“Tentang Amelia?”


Carissa mengangguk pelan, “Bagaimana jika hasil itu salah, bukan sebagai penyakit mental, namun sebagai psikopat yang terobsesi padamu, bisa saja suatu hari nanti dia akan datang dan mencelakakan kita. Tak masalah jika itu aku, tapi jika kamu, aku tak akan bisa . . .”


“Ssssstt! Jangan berkata seperti itu, apa maksudmu tidak masalah jika itu kamu, Sayang? Kamu tahu persis jika aku tak akan bisa hidup bila tidak bersama denganmu.” Tama menarik Carissa dalam pelukannya, “Aku pastikan jika kita semua akan baik-baik saja, mereka sudah berjanji akan menjaga perempuan itu seketat mungkin. Tidak ada alasan lain lagi untuk cemas, mengerti?” Tama mencubit hidung Carissa dengan gemas.

__ADS_1


“Baiklah. Aku percaya padamu.” Jawabnya dengan seutas senyum.


“Ada apa lagi? Kenapa masih begitu ekspresimu?”


“Tidak, tidak apa-apa.” Carissa memalingkan wajahnya.


“Ada apa? Apa masih ada yang membuatmu cemas? Katakan padaku sekarang.”


“Tidak. Lepaskan aku sekarang.”


“Tidak akan. Sebelum kamu mengatakannya.”


“Mas yakin mau tau?”


“Tentu saja. Aku tidak akan membiarkan istriku yang sangat kucintai merasa cemas seperti ini.”


“Kalau begitu, bisa menunduk sedikit? Aku akan membisikkannya.”


Tama membungkukkan tubuhnya agar Carissa bisa lebih dekat dengan wajahnya. Cup! Tama terkejut dan menegapkan tubuhnya sambil menyentuh lehernya yang telah dikecup oleh istrinya.


“Apa yang kamu lakukan, Sayang?” tanyanya dengan serius.


“Tidak apa-apa. Hanya ingin usil saja.” Jawab Carissa dengan tersenyum jahil kepada suaminya.


“Kamu kira aku tidak bisa melakukan apa-apa padamu di tempat ini?”

__ADS_1


“Tentu saja! Kita sedang ada diluar.”


“Kamu salah besar, Sayang.” Tama mendorong tubuh Carissa hingga membentur pohon kelapa yang cukup besar, dia bisa melihat istrinya menatapnya dengan tatapan tak percaya atas apa yang telah ia lakukan. “Kamu harus bertanggung jawab karena telah membangunkan binatang buasku.”


__ADS_2