PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
20 MARET


__ADS_3

Untuk waktu yang lama, aku dan Daffa saling diam. Demi menghindari kekakuan, aku memperhatikan wajah ibu. Berharap ibu bangun. Minta minum, minta pindah posisi atau apa saja yang membuatku punya alasan untuk


bergerak.


Seharusnya kami bisa berbincang dengan lancar, seperti dulu-dulu. Saling berbagi cerita. Atau harusnya langsung saja memintanya berkisah selama dia pergi? Aku dan Daffa tidak pernah secanggung ini sejak kecil. Dan seketika aku ingat percakapan kami di telepon tidak begitu baik.


“Dokternya sudah visit?” Akhirnya Daffa memecah keheningan.


“Sudah…”


“Aku sangat kaget waktu dapat kabar, jika Paman meninggal akibat dari kecelakaan.”


Aku berpaling dari ibu, dan menemukan kesedihan yang mendalam dari tatapan Daffa.


“Jadi benar, Bibi yang menyuruhmu pulang?”


“Iya.”


“Jadi sebenarnya belum ingin pulang?” tanyaku.


“Mungkin sama sepertimu yang belum mau pulang.”


“Kamu menyindirku?”


“Syukurlah kalau merasa.”


Syukurlah kalau merasa? Dia pulang karena disuruh. Jadi…


“Jadi sebenarnya kamu ke Korea ngapain?” Aku masih ingin tahu alasan Daffa pergi.


“Sudah kubilang, sama sepertimu di Malang ngapain?”


“Terus kenapa nggak pernah kasih kabar?”


“Kamu kan nggak nanya?”


“Aku kan sudah tanya panjang lebar waktu kamu berangkat. Kamu hanya jawab, aamiin, gitu aja.”


“Ya kan itu doa.”


“Terus pas sudah sampai Korea sana, kenapa nggak kasih kabar juga?”


“Aku nggak tahu, jika kamu masih butuh akan kabarku.”


Percakapan kami terhenti saat suara roda mendekati ruangan. Seorang perawat membuka pintu, melangkah masuk, mengucapkan permisi sambil mengangguk padaku. Disusul perawat lain yang mendorong ranjang pasien.


Kesibukan di sebelah untuk beberapa saat menghentikan perbincanganku dengan Daffa. Tak lama berselang ibu bangun. Minta minum. Kemudian menyapa Daffa, bertanya kapan datang dan sebagainya.


Aku punya alasan untuk berdiri saat ponselku berbunyi. Notifikasi email. Dari panitia acara festival, mengucapkan ikut berbela sungkawa atas meninggalnya ayahku dan memaklumi ketidakdatanganku. Kemudian aku diminta alamat untuk mengirim buku.


Saat hendak duduk lagi di kursi, seorang perawat masuk, memberikan resep yang harus ku ambil di apotek. Aku pamit pada Daffa, dia bilang akan menemani ibu.


Begitu sampai di lantai satu, aku baru ingat ponselku ketinggalan. Jadi aku berbalilk lagi untuk mengambilnya. Ibu bertanya kenapa kembali, tetepi Daffa tidak komentar apa-apa saat aku mencabut ponsel dari charger.


Antrean di apotek cukup panjang. Seluruh tempat duduk terisi penuh. Meski ber-AC tetapi ruangan terasa pengap, campuran aroma obat dan keringat. Aku berdiri beberapa menit, sebelum mendapat kursi kosong. Empat puluh sembilan menit kemudian baru dipanggil.


Aku segera kembali kekamar, dan minta maaf pada ibu Daffa karena telah menunggu lama.


“Kamu pulanglah dulu, biar Bibi jaga ibumu.” Kata ibu Daffa setelah aku menaruh obat di atas nakas.


“Beneran, Bi? Soalnya Mheta mau mandi dulu dirumah, sekalian bawa baju ganti untuk ibu.”


“Iya, sana pulang dulu.”


“Tapi… Mheta jadi merepotkan Bik Sum.”


“Nggak ada repot, sudah sana biar diantar Daffa.”


Kalimat itu membuat aku dan Daffa spontan saling lempar pandang.


“Mmm… tapi, Bi..” Tentu saja tidak mungkin aku berboncengan dengan Daffa.


Daffa menatapku sejenak, sebelum merogoh sakunya. Dia mengeluarkan kunci dan STNK, “nih,” kemudian menaruh di depanku.

__ADS_1


“Gimana tho?” Tanya ibu Daffa bergantian menatap kami.


“Dia kan nggak suka dibonceng, Bu.” Sahut Daffa.


Setelah mengucapkan terimakasih, aku pamit pada mereka. Tentu saja sebelumnya aku bicara dengan ibu. Apa saja yang harus aku lakukan dirumah. Perlu dibawakan apa dan sebagainya.


Aku menuju parkiran dengan perasaan lega. Tapi sayangnya motor Daffa tidak bisa kutemukan. Aku mengitari barisan motor dengan sedikit kesal. Harusnya aku tanya, dia parkir disebelah mana. Saat aku yakin motor memang


tidak ada, ponselku berbunyi.


Nama Daffa dilayar.


“Motornya dimana?” tanyaku.


“Lihat keatas.”


Aku mendongak. Menaungi mataku dengan tangan kanan.


“Ke sini. Balkon.”


Aku berputar, dan baru sadar tempatku berdiri dengan mudah bisa terlihat dari ujung balkon kamar. Daffa berdiri disana.


Daffa menjulurkan tangan, dan memberi isyarat kalau aku harus berputar. Aku berjalan sesuai petunjuknya.


“Barisan kedua dari bawah pohon,” ucapnya lagi.


“Oooh…”


Aku menempuh perjalanan sekitar empat puluh menit. Menyusuri jalanan kota, kebarat arah Tidar. Aku berbelok dari jalan kota tersebut. Ke haluan beraspal tipis, sebelum menyusuri gang berbatu yang membelah persawahan.


Rumahku di kaki perbukitan tak jauh dari kota Magelang.


Aku segera memarkir motor di halaman. Di bawah pohon mangga. Udara khas segera menyergapku. Aroma jerami dan rumut basah. Dihalaman samping, terlihat Bapak Daffa sedang memberi makan kambing-kambing almarhum ayah. Aku menyapa, mengucapkan terimakasih dan minta maaf karena telah merepotkan.


Diruang tamu, mataku memanas melihat masih ada beberapa pelayat yang sedang berbincang dengan Pak Lek dan Bibiku. Seharusnya dikursi kayu berwarna coklat mengkilat itu, ayah duduk sambil mengisap rokok. Tapi


semua kini hanya tinggal kenangan.


“Ini Ayu putri Pak Latif, ya?” seorang pelayat menyapaku, setelah aku bersalaman dengannya.


“Katanya kamu sekarang sudah jadi dokter? Dinas dimana, Nduk?”


Pak Lek menjawab sambil menepuk punggungku dengan lembut, “dirumah sakit Malang.”


“Wah.. kamu hebat Nduk. Kamu harus buktikan sama mendiang ayahmu, kalau kamu menjadi dokter yang bisa diandalkan.” Ada letupan hangat didalam dadaku. Mengingat almarhum ayah yang selama ini mengidam-idamkan aku bisa menjadi seorang dokter yang cekatan.


“Terimakasih Bu Dhe.” Tukasku, lalu berjalan menuju kearah kamar ibu.


Airmataku bercucuran saat membuka lemari ibu, karena yang bertengger pertama kali adalah pakaian almarhum ayah. Aroma khas ayah yang selalu kucium, saat memeluknya sebelum berangkat merantau dan saat pulang dari


rantau.


“Ayah… Mheta kangen.” Suaraku serak, sembari memeluk sebuah baju safari milik ayah.


Aku menghirup udara dalam-dalam, ingin rasanya aku berlari dari kenyataan terpahit dalam hidup ini. kupeluk baju ayah selama mungkin, sebelum aku kembali kerumah sakit.


****


Satu jam kemudian, aku sudah meyusuri lorong rumah sakit menuju kamar ibu.


“Bibi mana?” tanyaku, begitu menemui Daffa sendirian.


“Pulang bareng rombongan mobil tetangga.”


“Kamu mau pulang juga?” tanyaku sambil meraih kunci dan STNK dari saku jaket.


“Ngusir?” Daffa menatapku lekat-lekat.


“Emang ada kalimat ngusirnya?”


Apakah kepergian membuat orang menjadi lebih asing dari sebelumnya? Aku menelan kalimat itu kembali sebelum kulontarkan kepada Daffa.


“Makasih, ya.” Aku menyodorkan kunci dan STNK.

__ADS_1


Saat yang sama terdengar kumandang adzan ashar dan lelaki itu pamit untuk shalat dulul. Sementara aku duduk disamping ibu yang sedang tidur. Kuperhatikan wajahnya. Kata dokter tekanan darah ibu sudah semakin


stabil.


Aku merebahkan kepala di samping ibu. Dan saat kusangka hanya terlelap sekejap ternyata aku telah tidur lebih dari setengah jam. Leherku terasa kaku. Daffa sudah dari tadi datang, sedang berbincang lirih


dengan penunggu pasien sebelah.


Aku mematah-matahkan leher yang terasa kaku. Ku ambil botol air dan meneguknya.


Pintu diketuk dan perawat muncul dari balik pintu dengan membawa dua baskom air panas. Untuk ibu dan untuk pasien sebelah. Aku segera membawa satu ke kamar mandi, menambah air dingin dan menyeka ibu. Setelahnya


aku mengambil air lagi dan  membantu itu berwudhu.


Begitu ibu selesai menunaikan kewajibannya, aku minta izin ke mushollah. Kemarin-kemarin aku sengaja shalat di kamr karena selain sambil menjaga ibu, ruang sebelah juga kosong. Sekarang ada penghuninya, juga ada tamu


yang sedang besuk.


Mushollah tidak terlalu ramai, maksudku tidak perlu antri.


Aku bersimpuh, memohon segala apa yang aku rasakan. Untuk almarhum ayah, untuk kesembuhan ibu. Saat aku usai berdoa dan memandang ke ruang imam, mataku tertambat pada jam digital. Disana tertera jam, tanggal dan


tahun.


Hari ini , 20 maret. Tanggal lahir Pengelana. Aku ingat awal-awal dia chat, Pengelana mengirim ktp-nya, untuk menunjukkan nama sebenarnya dan untuk menunjukkan kalau kami punya golongan darah yang sama.


Saat itu, entah bagaimana, aku tahu bahwa aku akan mengingat tanggal lahirnya.


Aku urungkan melepas mukena. Aku kembali bersimpuh, mengangkat tangan dan berdoa untuk Pengelana. Memohon kebaikan-kebaikan untuknya. Semoga dia selalu sehat, semoga bahagia, dan semoga Allah memberkahi


hari-harinya.


Sesampai dikamar ibu, “Hpmu bunyi…” kata ibu.


Ponsel itu kutaruh dimeja kecil samping Daffa. Kami berpandangan sejenak sebelum aku mengambil ponsel. Membukanya, dan mendapati satu panggilan masuk dari Pengelana.


Apakah Daffa tahu? dari posisinya duduk, tidak sulit baginya untuk membaca nama yang tertera di layar sewaktu ponselku bunyi. Aku berjalan ke balkon dan menulis pesan.


“Tadi telepon?” tanyaku.


“Kepencet,” balas Pengelana.


Aku meniup udara, dan kembali ke kamar.


“Bu, tadi bunyinya lama nggak hpku?


“Lama…” jawab ibu, “Daffa nggak mau ibu suruh angkat.” Kata


ibu lagi.


Lama? Katanya kepencet. Aku menatap Daffa.


“Bukan hakku,” sahut Daffa sambil berjalan ke balkon. Kemudian berbincang dengan keluarga pasien kamar lain.


Aku mendekat ke ibu. Bercerita apa saja yang kulakukan dirumah. Tapi aku tidak cerita tentang tangisanku yang merindukan almarhum ayah.


Dan saat ibu kembali istirahat, aku memikirkan untuk membuat ucapan kepada Pengelana.


Aku menulis status tentang pesan Hasan al Bashri. Aku memang suka sekali kata-kata beliau.


‘Kata Hasan al Bashri, manusia tidak lain hanyalah kumpulan


hari. Setiap satu hari berlalu, maka sebagian dari diri kita pun ikut pergi.


Selamat 20 maret. Semoga kemarin-kemarin, hari ini dan besok-besok adalah


kebaikan dan diberkahi Allah.’


Tak lama setelah aku unggah ke facebook. Pengelana memberikan tanggapan gambar hati.


Kemudian aku mengirim pesan ke whatsapp.


‘Selamat bertemu Maretmu. Semoga kemarin, hari ini, dan besok-besok adalah kebaikan dan keberkahan.”

__ADS_1


Sembilan menit kemudian, Pengelana membalas dengan emoticon hati.


__ADS_2