PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
Eps 88


__ADS_3

“Maaf Pak Tama, saya harus memberitahukan kabar yang kurang menyenangkan.”


Semua wajah di ruangan itu turut menegang karena Firman langsung mengungkapkan maksud kedatangannya.


“Ada apa, Pak?” Bagas sudah tak sabar lagi.


“Nona Amelia, melalui pemeriksaan, teridentifikasi memiliki gangguan jiwa.”


“Apa!” Tama terkejut dengan berita yang baru saja di bawa oleh Firman, begitu juga yang lainnya. “Bagaimana bisa?”


“Dari beberapa tes yang dilakukan, itulah hasilnya, Pak.”


“Lalu bagaimana kelanjutan kasusnya?”


“Pihak keluarga Nona Amelia mengajukan permohonan untuk penangguhan proses hukum dan meminta untuk perawatan ke Rumah Sakit jiwa.”


“Bisakah seperti itu? Padahal ia sudah terbukti telah melakukan kejahatan.”


“Tapi kita tidak bisa menuntut seseorang yang ternyata memiliki identifikasi ke arah gangguan jiwa, Pak. Direktur SJ Group juga meminta untuk bertemu dengan Pak Tama, ia ingin berbicara langsung tentang nona Amelia.”


“Biar aku saja yang menemuinya.” Putus Bagas.


“Tama saja, Pa. Tama akan menyelesaikan masalah ini. Papa di sini saja menemani Carissa bersama dengan Mam dan Tante Siska.”

__ADS_1


“Tidak. Kalau begitu, izinkan papa untuk menemanimu. Enak saja dia setelah mencelakakan anak orang mau meminta keringanan!” Bagas terlihat mengerikan saat marah.


Akhirnya setelah jam yang ditentukan untuk bertemu, Bagas, Tama dan juga Firman pergi bertemu dengan direktur utama SJ Group yang juga merupakan kakak laki-laki Amelia.


Tama meminta pengawal untuk tetap berjaga di sekitar kamar hotelnya, karena ia ingin Carissa dan yang lainnya tetap aman di kamar hotel itu.


“Ada yang kamu inginkan, Sayang? Apa masih kurang nyaman? Mam sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana waktu itu. Kamu pasti ketakutan.”


“Carissa baik-baik saja, Mam. Saat itu, Ca lebih ketakutan saat melihat Mas Tama mengambil langkah yang sembrono saat menyelamatkanku.”


“Itu sudah kewajibannya sebagai seorang suami. Tama itu sangat mencintaimu, Risa. Ia akan melakukan apapun untuk orang yang dicintainya.”


“Ya, Mam. Terima kasih telah melahirkan anak laki-laki yang menjadi suami sempurna untukku.” Carissa memeluk ibu mertuanya itu dengan penuh haru.


“Mam sangat menyayangi Mas Tama, kan?”


“Tentu saja. Dia anakku satu-satunya, dan aku sudah mentelantarkannya. Sampai-sampai dia tidak pernah menghubungiku sekalipun saat aku dan ayahnya ada di Amerika. Tapi aku tidak menyalahkannya, dia masih muda saat mendapatkan tekanan besar untuk meneruskan perusahaan. Hal itu pasti menguras tenaga dan pikirannya.”


“Sudah, sudah, cerita sedihnya. Ayo kita makan dulu.” Siska membawa makanan yang sempat diantarkan oleh pelayan hotel.


“Kapan kamu memesannya, Sis?”


“Saat Mbak dan Carissa sedang mencurahkan isi hati, tapi maaf, harus terganggu. Kita belum makan dari siang tadi lo, Mbak.”

__ADS_1


“Astaga, Tante. Maafkan Ca, ya. Ca lupa menyuguhkan makanan.”


“Tak apa, Ca. Tante ngerti, kok. Kalian kan memang sedang dalam musibah, dan pikiranmu pasti terpecah belah dengan kabar yang baru saja tadi kamu dengar.”


“Makasih ya, Tante, atas pengertiannya.”


“Pasti, Sayang. Yuk, kita makan dulu.”


Mereka bertiga akhirnya menyantap makanan dengan perasaan bahagia karena bisa berkumpul dengan orang-orang yang dicintai dalam keadaan yang sehat. Siska memesan tiga nasi goreng seafood yang direkomendasikan oleh koki hotel itu, dan ternyata rasanya memang sangat enak.


“Suamimu sungguh bagus dalam mengelola perusahaan ya, Ca. Kokinya saja sangat kompeten.”


“Harus dong, Tante. Ini kan termasuk hotel atau resort kelas atas. Semua pelayanan harus yang nomor satu.”


“Betul katamu.” Ia setuju dengan jawaban keponakannya, “Bagaimana kalau kita menginap lebih lama di sini, Mbak. Pemandangan di hotel ini sungguh bagus.”


“Kamu saja, Sis. Aku harus cepat kembali, nenek dan ayahnya Tama menungguku di sana.”


“Oh, benar juga. Maaf ya, Mbak. Aku tak berpikir panjang.”


“Tak apa. Lain kali kita bisa menginap dan merayakan di sini jika Carissa nanti mengandung, ya.”


“Wah, betul tu, Mbak.”

__ADS_1


Mega dan Siska semangat merencanakan ini itu untuk perayaan menyambut calon cucu yang sebenarnya belum tahu kapan akan hadir, sedangkan Carissa hanya tersenyum malu saat mendengarkan obrolan kedua perempuan yang disayanginya itu.


__ADS_2