
Untuk yang kesekian kalinya, pagi telah sampai di Kota Muntilan. Tetapi, hariku dimulai dengan kejadian menyebalkan. Sisa-sisa masalah yang sempat ku perdebatkan dengan Rasyid semalam, rasanya masih mengalir hangat tepat di ulu hati.
"Maafkan Mas, Dek. Nggak seharusnya Mas bertanya seperti itu sama kamu."
Sebuah ungkapan penuh dengan nada melankolis dilayangkan padaku. Lelaki tersebut, tengah menenggelamkan wajahnya dalam buku-buku jemari yang disanggahkannya diatas meja rias dalam kamar.
Aku menganjur napas, lalu membuangnya secara liar. Melesatkan langkah keluar kamar. Mencari keberadaan Ibu yang kini tengah sibuk dengan para perabot dapur.
"Kamu pikir kamu siapa! Seenaknya saja minta maaf." Runtukku dalam hati.
"Masak apa, Bu?"
"Eh manten baru, udah bangun?"
Aku memicingkan bibir kearah kiri, tanganku memainkan kacang panjang yang tergeletak diatas meja. Belum di apa-apakan. Entah, hari ini Ibu akan menyulap bahan tersebut menjadi apa.
"Ibu sudah kerumah Bibi?" Aku melayangkan pertanyaan, membuat Ibu menghentikan aktifitasnya untuk memotong daun-daun bawang dihadapan kami.
Ibu terdengar menganjur napas, beliau membuang secara berlahan. Lalu, melanjutkan aktifitas memotong daun hijau yang bisa membuat kedua mata berair.
"Bu?"
"Emh..."
"Kenapa Ibu nggak jawab?"
Ibu menyimpulkan senyum, "udah kok. Tapi baru sampai depan pagarnya. Bi Sum sudah terlihat menutup pintu rapat-rapat."
Ibu terlihat begitu fokus kepada pisau dan daun bawang yang tengah di cacahnya. Tapi batinku menyangkal, jika sebenarnya Ibu tengah memikirkan bagaimana cara untuk meminta maaf kepada keluarga Daffa tersebut.
Aku berjingkat, berjalan menuju jendela dapur yang berdampingan dengan kulkas. Diatas kulkas ada sebuah kalender, ku pandangi angka-angka tersebut. Menghitung sudah berapa lama Daffa pergi dari kampung halaman tercinta ini.
Lalu aku mengembuskan napas, tepat di jendela yang terbuka lebar. Pandanganku menyapu kesemua penjuru yang terlihat diluar rumah. Biasanya, pagi-pagi begini Daffa selalu menyempatkan diri untuk membawakan seikat rumput untuk pakan kambing-kambing orang tuaku.
Masih teringat jelas, dimana waktu itu Daffa menggodaku hingga masakanku gosong, lalu Ibu ngomel-ngomel. Bukannya kasihan melihat temannya dimarahin. Daffa malah tertawa sampai jempol kakinya tersandung batu yang berada di depan kandang kambing.
__ADS_1
Senyumku mulai mengembang, setelah mengingat kejadian itu. Kini, kemana teman masa kecilku tersebut? Kenapa harus secepat ini dia berubah? Bukan hanya berubah. Bahkan dia pergi meninggalkan kampung halaman. Entah sampai kapan dia akan kerasan di Negeri orang.
"Mheta mau kerumah Bi Sum dulu, Bu..."
Aku melangkahkan kaki ke arah pintu dapur yang sedari subuh tadi terbuka lebar.
"Jangan Nduk, Ibu nggak mau nanti kamu di maki-maki seperti Ibu. Udah biarkan saja. Yang penting 'kan Ibu udah minta maaf. Mau ngapain lagi kamu kesana?"
Aku menghentikan langkah, berbalik arah menuju Ibu yang melanjutkan aktifitasnya. Masih terngiang ditelinga kata-kata beliau barusan. Benarkah Ibu Daffa memakinya? Apa aku tidak salah dengar?
"Bi Sum memaki Ibu? Kapan?" Kedua alisku saling bertautan. Menanti jawaban dari Ibu.
Ibu kembali mengulas senyum, senyum yang begitu ayu. Sepertinya aku memang pecandu pemilik senyum yang begitu menawan tersebut.
"Jawab Bu?"
Aku mengambil baskom yang tengah dipegang oleh Ibu. Mencoba untuk menelisik lewat kornea matanya. Namun, Ibu memang wanita terhebat yang ku kenal di dunia ini. Beliau begitu pandai untuk menyembunyikan rasa apapun dari raut wajah serta tatapannya. Ibu memang susah ditebak.
"Jawab apa tha Nduk..." Ibu kembali mengambil baskom berwarna ungu merk tupperware dari tanganku. "Wis sana jangan ganggu Ibu, Ibu mau masak spesial buat kamu dan suamimu. Nanti siang kamu mau pulang Jakarta 'kan? Sekalian Ibu bikinin orek tempe dan sambel goreng kesukaanmu buat di Jakarta."
"Wis tha sana! Jangan ganggu Ibu." Lagi-lagi Ibu mengusirku.
Sepertinya aku lebih betah berlama-lama dengan sosok wanita lembut dihadapanku ini, daripada harus menemani laki-laki botak itu di dalam kamar.
"Mas Rasyid masih tidur. Mheta bantuin Ibu aja, ya?" pintaku, namun tanpa menunggu persetujuan darinya. Aku segera mengambil pisau yang masih melekat di genggaman Ibu. Menyuruh bidadari tak bersayap tersebut untuk duduk manis.
"Masakanmu 'kan nggak enak Nduk..." dengan begitu jujur Ibu melempar pernyataan tersebut padaku. Lalu, aku mendengar Ibu tertawa gelak-gelak.
"Nanti suamimu malah nggak mau makan?" Sanggahnya.
"Kalau nggak enak... kenapa selama ini Ibu makan masakan Mheta?" aku melempar tanya yang menegaskan tak mau kalah.
"Lidah Ibu udah kebal sama masakanmu yang kadang ke asinan, kadang kemanisan, malah kadang hambar nggak ada rasa. Udah kamu nyapu di depan aja. Biar Ibu yang masak."
Kembali Ibu menyiutkan nyaliku. Aku memang tidak pandai masak. Selama merantau di Kota Malang saja, aku banyak membeli makan di warung dekat kost.
__ADS_1
*******
Tepat pukul tujuh pagi. Semua bahan-bahan mentah yang tadi bertengger diatas meja dapur. Sudah tertata rapi di atas meja makan, semua disulap sedemikian rupa oleh kedua tangan malaikat tak bersayap. Aromanya membuat penghuni perut menabuh genderang hingga bertalu-talu.
"Ayo mas sarapan... Ibu udah menunggu di ruang makan..." Aku menghampiri Rasyid, yang ternyata tengah asyik membaca di dalam kamar.
Lelaki jebolan pesantren Gontor tersebut mengulas senyum, "tunggu ya, Mas mau ganti celana dulu..." tukasnya, Rasyid segera mengganti sarung merk Donggala yang dipakainya dengan celana setulut.
Entah apa yang sebenarnya ku pikirkan. Lelaki itu, sepertinya memang tercipta sebagai sosok yang lemah lembut.
Seusai berganti celana, Rasyid merangkulku. "Maaf ya..." entah keberapa kalinya, dia melayangkan kecupan di pipi kananku.
Aku terperangah melihat perlakuannya. Apa kalian tahu? Seumur hidupku. Ciuman pertama kulakukam dengan laki-laki yang saat ini telah sah menjadi imamku.
"Ayo cepetan. Kasian Ibu nungguin kita." Aku mengalihkan perhatian Rasyid. Tak mau sesuatu yang belum sempat ku pikirkan terjadi.
*****
"Apa kalian sudah mikirin kapan kira-kira mau punya momongan?" Ibu membuka percakapan dengan pertanyaan yang membuat hatiku bedegam.
Aku dan Rasyid saling berpandangan, menautkan kedua alis kami masing-masing.
"Kalau saya apa kata Dek Ayu saja, Bu. Kalau Dek Ayu siap, ya saya lebih siap lagi." Jawaban macam apa itu?
Aku menganjur napas, melihat dengan tatapan sinis ke arah Rasyid.
"Nduk... Setelah kamu menikah dengan Nak Rasyid. Itu artinya, kamu hak nya Nak Rasyid. Semua tindak-tandukmu yang akan menanggung ya Nak Rasyid. Mau kamu menjadi baik atau tidak, semua yang menanggung suamimu. Bukan lagi almarhum Ayahmu." Ibu menjelaskan, setelah melihat tatapanku begitu mengandung kebencian terhadap menantu kesayangannya tersebut.
Aku menundukkan kepala, menenggelamkan pikiran di tengah-tangah piring yang terlihat ada sedikit sisa makanan.
Tuhan... Begitu angkuhnya diriku? Hingga menutup mata kepada suami sendiri. Apapun yang telah terjadi, ini semua sudah garis dari Gusti Allah 'kan? tak seharusnya aku bersikap angkuh dan sombong kepada Tuhan. Hingga ingin menentang semua takdir yang telah di tetapkanNya untukku.
Tanpa terasa, bulir-bulir bening menerjang hebat kedua pipiku. Dadaku begitu sesak dengan berbagai macam pertanyaan.
"Dek Ayu hanya belum siap, Bu... Apalagi kami baru saja menikah. Baru sembilan hari." Sanggah Rasyid. Membuatku sedikit bernapas lega.
__ADS_1
"Iya, Ibu tahu... Ibu hanya sekedar menasehati istrimu Le... Jangan mengedepankan ego. Ingat, apa yang kita pikir baik, semua itu belum tentu baik di hadapan Gusti Allah."