
''Wahhh...lihatlah. Kalian berdua datang bersamaan?'' tanya Mega saat Allen dan Lira datang untuk sarapan pagi.
''Kami hanya kebetulan bertemu dan datang bersama, Tante.'' Allen beralasan.
''Benarkah? Tapi kenapa rasanya tidak begitu?'' Mega terus bertanya karena tahu bagaimana Lira.
''Kami memang menghabiskan malam yang panjang bersama, Tante.'' celetus Lira pada akhirnya.
''A-apa yang ka-kamu katakan, Lira?'' Allen sangat terkejut.
''Bukankah itu memang kenyataannya?''
''Ta-tapi ini...'' Allen memperhatikan sekitar dan menyadari pandangan keluarga yang lain kini fokus menatap dirinya.
''Jangan terkejut begitu, Len. Lira memang anak yang jujur dan bicara apa adanya. Seharusnya kamu juga sudah tahu itu.'' jelas Mega.
Allen memang menyadari jika Lira adalah gadis yang suka membicarakan apa yang ada di hati dan di pikirannya sejak gadis itu jujur tentang permainan masa mudanya, tapi ia tidak menyangka jika Lira akan berterus terang di tengah-tengah keluarga besarnya.
''Jangan khawatir, mereka tidak akan memintamu untuk bertanggung jawab. Makan saja.'' Lira acuh tak acuh dengan perasaan khawatir Allen.
__ADS_1
Allen susah payah menyendokkan makanannya ke dalam mulut, bahkan ia kesusahan menelan dengan suasana yang terasa canggung pagi itu.
Allen akhirnya bisa bernafas lega saat suasana meja makan kembali riang karena kedatangan Carissa, gadis cantik itu memperlihatkan sebuah tempat yang sangat ingin ia datangi dengan bersemangat sampai-sampai senyumnya sangat lebar.
''Allen, duduklah di depan.'' pinta Tama saat mereka bersiap untuk ke bandara.
''Tidak, Len. Aku akan menemani Lira di belakang.''
''Lira? Mau kemana dia?''
''Dia juga akan kembali ke Jakarta. Kuliahnya kan belum selesai.''
''Yah, seperti yang kamu duga.''
''Dan kamu pasti merasakan penyesalan karena sifat Lira.''
Allen tercekat saat menyadari jika sikap Lira memang seperti itu.
''Tapi aku menyukai sifat terbukanya itu. Hal itu tidak membuatku kesusahan menebak isi hati perempuan yang tidak diketahui kedalamannya.''
__ADS_1
''Baiklah kalau itu pilihanmu, jangan terjerat terlalu erat padanya. Kamu akan kesusahan nantinya. Aku memberikanmu saran yang bagus sebagai sahabatmu.''
''Terima kasih, Tama.''
Allen menuju ke mobil Lira, dan Tama menuju ke mobil di barisan paling depan di mana ada Carissa yang sudah menunggunya di dalam.
Rombongan mobil mulai perlahan berjalan. Karena akan menuju tempat yang Carissa inginkan, mereka bisa melihat jalanan yang indah dengan pemandangan tepi pantai. Namun Allen merasa aneh, saat baru saja beberapa menit berjalan, mobil yang di tumpangi Tama dan Carissa melaju dengan cepat.
Allen menghubungi Tama dan ingin memastikan situasinya, saat Tama menjawab dan menjelaskan keadaannya, Allen merinding ketakutan karena ternyata perempuan gila yang di nyatakan menghilang dari rumah sakit jiwa, saat ini sedang mengendarai mobil hitam itu dengan kecepatan tinggi. Lira menyadari jika telah terjadi sesuatu, tidak ingin menganggu karena merasa situasi tidak baik, jadi ia tetap diam dan tenang agar Allen bisa berfikir dengan cepat dan tepat untuk mengatasi permasalahan ini.
Allen dengan cepat menghubungi Vian dengan handphone milik Lira karena miliknya masih tersambung dengan Tama, setelah itu mobil yang Allen dan Vian tumpangi menambah kecepatan dan mendahului mobil yang Mega dan nenek Lita tumpangi.
Melalui panggilam telepon, Allen bisa mendengarkan dengan jelas jika Tama sedang panik karena Amelia berniat mencelakakan semua orang yang berada di dalam mobil itu. Mobil Vian terlihat beberapa kali ingin mendahului, namun kesusahan karena jalanan yang padat dengan mobil dari arah yang berlawanan.
''Allen!!!'' tiba-tiba Tama memanggilnya dari seberang sana.
''Ya, Tama. Aku di sini.''
''Jaga jarak kalian, aku akan mendorong Risa keluar mobil.''
__ADS_1
''Apa!'' Allen menyatakan keberatannya karena jelas itu akan membahayakan Risa dan bayi dalam kandungannya. Tapi sekuat apapun penolakan Allen, hal itu tidak membuat Tama mengurungkan niatnya karena bagi pria itu saat ini, tindakan itulah yang bisa menyelamatkan pujaan hatinya.