PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
MUSIM YANG BERBEDA


__ADS_3

Dini hari. Dibalik jendela, orong-orong membersamai ujung musim. Mengantar sisa hujan yang belum sampai ke alamatnya. Kadang aku bercanda, apakah itu hujan yang sama? Yang pernah singgah di berandamu? Aku juga pernah bilang, bahwa hujan adalah pengembara paling jauh ‘kan?


Satu minggu setelah obrolanku dengan ibu tentang pernikahan. Kini aku sudah mempelajari berkas pengajuan nikah dengan seorang Rasyid. Sejauh ini, aku memang juga belum pernah bertemu dengan Rasyid setelah pertemuan kami dirumah sakit dulu. Namun, bagaimana lagi. Pepatah pernah mengatakan, ‘Jodoh itu rahasia Tuhan, yang tak ada satupun manusia dapat menebaknya.’


Ini jalan takdirku, dan aku harus menerimanya dengan sebaik-baik penerimaan.


*****


Pagi buta, seperti biasa aku menyiapkan semua kebutuhan ibu, sebelum berangkat ke Puskesmas. Sudah dua hari ini, aku diterima bekerja sebagai tenaga medis di puskesmas Muntilan.


Suara kambing di kandang belakang rumah terdengar begitu nyaring.


“Mheta…” suara Daffa memanggil dari arah kandang.


Aku melihatnya dari balik jendela dapur. “tumben pagi-pagi, rajin amat?” kataku sembari menggeleng.


“Biar rejekinya nggak dipatok ayam,” Daffa terkekeh. “kamu hari ini kerja?”


Aku mengangguk, “kenapa?”


“Berangkat jam berapa?” Daffa bertanya.


Aku menoleh kearah jam yang menempel diatas pintu dapur, “delapan seperempat.”


“Sekarnag jam berapa?”


“Enam lebih sepuluh menit. Kenapa?”


“Aku mau ngobrol sama kamu. Kamu nggak sibuk kan?”


Aku memperlihatkan spatula yang tengahku pegang. “nih,” aku diam sejenak. “emang mau ngobrolin apa? Pagi-pagi ngajakin ghibah. Dosa!” aku terkekeh.


“Aku serius, aku ingin ngobrol bentar sama kamu.”


Aku diam. Daffa juga diam.


“Ya.” Ucapku.


Daffa berjalan menuju jendela. dia berdiri dibalik jendela dapurku.


“ngobrolin apa? Masalah sawah? Atau kebun?” aku bertanya.


“Kita…”


“Haah..”


“Aku tidak akan pergi…”


“Maksud kamu?”


Daffa diam.


“Hei… maksud kamu apa, Daf?”


“Aku nggak akan pergi ke Korea. Aku nggak akan menemui Nadia.”


“Astaga, Daffa! Kamu ini lelaki lho. Perjuangkan apa yang layak kamu perjuangkan, jangan sampai menyesal.”

__ADS_1


“Justru saat ini, aku sedang memperjuangkannya.”


“Haah?”


“Di sini.”


Seketika aku tercekat.


“Sebentar aku matikan kompor dulu.” Aku berjalan menuju kompor dan mematikannya, “Daffa… jangan main-main. Kamu anggap apa Nadia?” kataku setelah mematikan kompor dan menuju Daffa.


“Kami belum ada komitmen apapun, Mhet. Dan itu sudah kuselesaikan sejak kemarin-kemarin.”


Aku membungkam mulut. “kenapa kamu gitu? Jangan mempermainakan hati perempuan.”


“Maaf, Mheta. Aku nggak bisa membayangkan hidup bersama orang lain, dengan kenangan sepanjang masa sejak kamu lahir hingga dewasa ini.”


“Ya Allah..” aku memijat-mijat  dahi dengan kedua telapak tangan.  “Tapi aku…”


“Mheta… aku tidak memintamu untuk melupakan, Pengelana.”


Kepalaku terasa berdenyut-denyut. Sama sekali tidak menyangka Daffa akan bicara seperti itu.


“Kalau kamu nggak bisa menerimaku, setidaknya beri aku kesempatan sampai aku siap pergi.”


Kali ini aku benar-benar membenamkan wajah pada kedua telapak tangan. Sudah kubilang, dari dulu Daffa memang sahabat yang baik. Apakah aku bisa memaafkan diriku sendiri jika aku sampai melukainya? Aku tidak tahu.


“Daffa…” tenggorokanku seperti tersumpal spatula. “Aku akan menikah.” Suaraku parau.


Terlihat wajah Daffa mendadak kaget. “menikah? Dengan Pengelana maksudmu? Bukankah kamu bilang dia sudah punya kekasih?”


“—menikah tidak harus dengan seseorang yang kita inginkan, Daf?” mataku tiba-tiba memanas. “Maafkan aku.”


Aku tercekat, tak bisa menjawab pertanyaan Daffa yang satu ini. karena aku juga tidak tahu, apakah aku benar-benar akan menikah dengan pemuda asing itu? Atau malah sebaliknya, pernikahan yang di gadang-gadang oleh ibuku, akan gagal sebelum naik pelaminan.


“Baiklah, Mhet. Aku tahu jawabanmu. Rasyid memang pemuda baik dan shaleh. Bahkan dia pemuda yang berprestasi. Soal karirnya. Kamu tidak perlu mempertanyakannya lagi.” Suara Daffa bergetar.


“Maafkan aku, Daffa..”


Daffa tersenyum pias. “nggak apa-apa, Mhet.” Dia menganjur napas. “setidaknya aku telah memperjuangkan cintaku. Dan kini, aku hanya ingin melihatmu bahagia.”


Pandanganku kabur. Ada bulir-bulir krisatal yang menerobos benteng pertahananku. “Maafkan aku…” suaraku serak.


Kulihat Daffa tiba-tiba pergi tanpa pamit. Menyurusi pematang dengan menyeret sebuah cangkul.


Betapa aneh manusia. Siapa menunggu siapa. Siapa mengejar siapa. Siapa meninggalkan siapa. Tenggorokanku terasa sakit memikirkan itu. Tetapi dalam hidup ini, kadang membuat keputusan yang baik dan tepat tidak selalu mudah, bukan?


****


Senja diujung kota Magelang, terasa begitu elok. Aku memang penikmat senja. Entah sejak kapan aku menyukai matahari yang merah tembaga itu ketika sore menyapa. Aku segera memarkirkan motor didepan rumah. Menyalami ibu yang sedang menikmati suasana sore dengan menyapu halaman rumah.


“Gimana kerjaamu hari ini? kamu betah kerja di Puskesmas?” tanya ibu setelah membalas salam dariku.


Aku tersenyum sambil memeluk tubuh ibu, “Alhamdulillah lancar, Bu. Betah kok.”


Hari ini puskesmas lumayan dipadati oleh pasien sakit demam dan batuk. Mungkin akibat dari perubahan cuaca yang tidak menentu. Seharusnya bulan ini, musim panas singgah di kota kami. Namun, prediksi BMKG kadang tidak selamanya benar.


“Mheta…” panggil ibu, ketika aku sedang mencopot sepatu di balai rumah.

__ADS_1


Aku menoleh ke arah ibu, “iya, Bu?”


“Gimana? Sudah ada keputusan mengenai berkas Rasyid?” ibu tersenyum sambil berjalan kearahku.


Sambil mencopot jaket, aku katakan pada ibu, “semua keputusan di tangan Ibu. Mheta nurut aja.” Jawaban  macam apa itu. Harusnya aku menjawab kalau aku tidak siap dan memang tidka akan pernah siap untuk


dipersunting seorang Rasyid.


Ibu terlihat sumringah. Aku tidak mungkin menghapus senyuman itu menjadi tangis, bukan? Aku tidak ingin melihat ibu bersedih, apalagi saat ini ibu hanya mempunyaiku. Aku harus bisa membahagiakan ibu. Meskipun harus mengorbankan perasaan lagi.


****


Entah sudah berapa lama, aku dan Pengelana tidak tegur sapa. Kulihat nama di whatsapp sudah jauh tenggelam, menandakan kalau kami sudh tidak pernah berkomunikasi.


Ku raih laptop untuk menulis beberapa artikel yang belum sempat kukirim dari kemarin. Setelah merampungkan tugasku. Aku kini merayap ke facebook. Melihat grup sastra, ada sebuah unggahan cerpen baru. Aku segera membaca cerpen tersebut.


Terlihat akun Pengelana memberikan sebuah komentar pada akun yang mengunggah cerpen


tersebut, “semangat untuk tetap berkarya.”


“Hei apa kabar..” aku mengetiknya, namun buru-buru kuhapus.


Kenapa nama Pengelana tidak pernah hilang dari pikiranku, barang sehari saja. Aku tidak sedang merindukannya, kan?


Disaat aku memikirkan Pengelana, tiba-tiba ponselku berpedar. Sebuah pesan masuk.


Pengelana. Ya, dia mengirim sebuah pesan. Dadaku serasa sesak saat ingin membuka pesan tersebut.


“Teman baik. Apa kabar kamu disana? Maaf sudah lama saya tidak menghubungimu.”


Pesan macam apa itu? Kenapa tiba-tiba Pengelana memanggilku teman baik? Bukankah itu kalimat yang selama ini aku utarakan kepadanya?


Aku melotot. Seperti mimpi, seorang Pengelana memanggilku teman baik. Bahkan sudah beberapa bulan kebelakang dia tidak pernah lagi mengirim pesan padaku.


“Aku baik.” Tidak , aku hapus tulisan itu sebelum kukirim pada Pengelana. “Kamu kemana saja, kenapa baru kasih kabar?” Oh Tuhan… tidak mungkin aku mengirim pesan seperti itu kepadanya. “Sejak kapan kamu menganggapku sebagai teman baikmu?” kalimat macam apa itu? Setiap orang berhak mengirim pesan semacam itu. “Alhamdulillah.” Akhirnya aku memilih kalimat tersebut untuk kukirim pada Pengelana.


Pengelana offline. Kemana dia, kenapa suka sekali membuat orang terkatung-katung oleh tingkahnya?


Beberapa menit setelah aku menaruh ponsel diujung meja, benda mungil tersebut kembali berpedar. Sebuah pesan masuk.


“Assalamualaikum..” pesan dari nomor asing yang pernah mengirimiku pesan.


Alisku bertautan, memikirkan siapa sebenarnya pengirim pesan itu?


“Waalaikum salam.” Akhirnya aku membalas pesan salam itu.


“Ayu, bagaimana kabarmu?”


“Kamu siapa? Tahu nomor ini dari siapa?” aku menganjur napas, menunggu balasan.


Seseorang itu membalas pesanku beberapa detik kemudian, “saya calon imammu. Saya dapat nomor kamu dari Ibu.”


Deg. Aliran darahku seketika seperti terhenti. Jantungku berdetak tak berarturan. “calon imam? Apa dia Rasyid?” aku memikirkan kalimat si pengirim pesan.


“Rasyid..”


“Iya, saya Rasyid. Mohon maaf jika saya menginginkamu untuk menjadi pendamping hidup saya.”

__ADS_1


Aku membungkam mulut. Pesan Rasyid seperti menjejali kerongkonganku dengan sepatu PDL nya. Mataku memanas. Tubuhku bergertar. Kutaruh ponselku di atas meja. Kututup laptop. Sesegera mungkin aku berjalan menuju pancuran. Menyiram wajah dengan air dingin. Membaca istigfar sebanyak mungkin. “kenapa asmaraku sekacau ini?” suaraku parau.


__ADS_2