PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
PH 57 Pulang


__ADS_3

Pemilik Hati (57)


Ceklek


David mengerutkan keningnya. Siapa lagi yang masuk ke kamarnya malam-malam.


"Ngga??," panggil David.


" Ya, kenapa?,"


" Kamu baru masuk?"


" Iya,"


" Lalu tadi siapa yang masuk?,"


" Suster Winda. Memangnya dia belum ngomong apa-apa?," Rangga melirik Winda yang masih mematung. Masih terkejut akan kenyataan bahwa David sudah menikah dan memiliki anak kembar.


Winda jelas mendengar bahwa David menyebut Baby twins.


David mengingat bahwa waktu saat Winda masuk adalah saat ia masih menelpon Syifa.


" Ada perlu apa suster Winda kemari?," tanya David


" Dia katanya ingin mendekatimu lagi," Jawab Rangga karena Winda masih bungkam.


Mendengar jawaban sarkas Rangga, Winda hanya mendelik.


" Mendekatiku?,"


" Katanya dia ingin membuktikan bahwa kamu masih mencintainya," jawab Rangga acuh langsung duduk sambil memainkan ponselnya.


Tak peduli jika Winda yang menatapnya dengan tatapan permusuhan.


" Kamu jangan terlalu percaya diri، Win. Kamu hanya masa lalu."


" Tapi, Dav..."


" Jika kamu masih sayang dengan karirmu, tinggalkan tempat ini sekarang juga." ancam David yang tak ingin membuat Winda berlama-lama disana.

__ADS_1


" Anda tahu kan pintu keluarnya, sus?," timpal Rangga


Winda yang tak ingin hancur langsung pergi begitu saja dengan menghentakkan kakinya karena kesal.


Ia memang ingin mendekati David karena memiliki harta yang banyak. Ia menyesal karena telah melepaskan David padahal dulu sangat mencintainya.


Namun, jika taruhannya adalah karirnya sebagai suster, ia tak mau mempertaruhkannya. Bisa-bisa ia malah kehilangan semua yang sudah ia perjuangkan.


" Lain kali jangan biarkan dia masuk jika tidak ada hubungannya dengan pekerjaan," ucap David setelah mendengar pintu tertutup.


" Ok,"


Hari-hari berlalu, Syifa sedang sibuk membantu di dapur. Ia selalu membantu Flower memasak. Walau kini dia hanya di perkenankan untuk membantu yang ringan-ringan.


Hingga sebuah telpon masuk. Seperti biasa, telpon dari suaminya.


" Syifa ke tas dulu ya, Ma." pamit Syifa pada ibu mertuanya.


" David yang telpon?," tebak flower melihat raut bahagia Syifa.


" Iya, Ma." jawab Syifa tersenyum.


" Insya Allah, Ma."


Syifa pun naik ke lantai atas dengan perlahan-lahan. Mertuanya memang sedang berencana membuat lift untuk mempermudah Syifa naik turun apalagi dengan pertimbangan kaki David yang masih belum sepenuhnya sembuh.


" assalamu'alaikum, Bi. Maaf lama, tadi bantu Mama di dapur,"


" Waakumussalam, Ay. Iya,tidak masalah. Lama pun aku tunggu."


" Gombal,"


" Siapa yang gombal. Mas serius,"


" Mas sendiri?" tanya Syifa heran.


" Kamu mau nanyain Rangga?," tanyanya dengan nada cemburu.


" Bukan gitu, mas. Masa iya aku nanyain suami Orang?," Syifa menggaruk pelipisnya yang tak gatal.

__ADS_1


Padahal ia hanya bertanya karena heran kenapa kamera ponselnya mati. Jika Rangga yang membantu menelpon kan pasti kameranya nyala. Mau bertanya namun, takut David tahu bahwa kebohongannya sudah ia ketahui.


" Mas, kapan pulang? Hari ini aku dan mama masak makanan kesukaan Mas." tanya Syifa sendu.


" Benarkah?,"


" Iya." jawabnya singkat.


" Mas janji cepat pulang kalau kamu mau pakai yang warna hitam, ya," ucap David menggoda.


" Mana muat, Bi?" Wajah Syifa merona. Ia paham baju apa yang dimaksud. Namun, perutnya yang semakin membesar membuat pakaiannya memang sudah tak lagi muat.


" Oh iya-iya. Gimana, baby twins?,"


" Kangen papa nya katanya."


" Baby-nya atau Mama nya?,"


" Dua-duanya." David malah terkekeh mendengar jawaban Syifa.


" Jadi,kapan pulang?," tanya Syifa lagi.


"Insya Allah secepatnya. Mas mau pulang cepat kalau dapat hadiah."


" Kalau mas pulang malam ini, aku kasih apapun yang mas mau," janji Syifa.


" Hmm baiklah. Bisa mas pikirkan,"


" Maksudnya? Mas beneran mau pulang malam ini?,"


Ceklek


Syifa melihat ke arah pintu kamar yang terbuka.


Syifa terpaku melihat sosok yang ia rindukan ada di ambang pintu.


" Mas tagih hadiahnya."


TBC

__ADS_1


__ADS_2