
Pesan macam apa itu? Apa Pengelana sengaja memancingku agar jujur tentang perasaanku selama ini kepadanya? Tidak… aku tidak akan pernah terpancing oleh kata-kata manis Pengelana. Aku sudah ingin menikah. Dan aku tidak ingin menyakiti hati ibu dengan cara mendusitainya. Aku benar-benar ingin membahagiakan beliau.Meskipun harus mengorbankan perasaan.
Aku diam. Memilih untuk mematikan ponsel tanpa mengirim sebuah balasan kepada Pengalana. Aku manganggap pesan Pengelana barusan hanya sebuah isapan jempol belaka.
*****
Setelah pengajuan demi pengajuan perrnikahanku dengan Rasyid telah usai. Kini waktunya aku kembali pulang ke kampung halaman. Menyiapkan segala keperluan untuk menghelat pernikahan antara aku dan seoarang Rasyid.
Semua telah kulalui. Dengan tak berjeda aku mengeluh. Kenapa hidupku seperti ini? Dengan polosnya, beberapa hari kebelakang aku begitu tunduk kepada apa yang disuruh oleh Rasyid. Aku semakin bertanya-tanya tentang
alur kehidupan ini. aku pertanyakan keadilah Tuhan. Kenapa aku harus menerima perjodohan ini? bahkan, akhirnya aku nekat datang jauh-jauh dari Magelang ke Jakarta hanya sekedar untuk menemuinya dan mengajukan pernikahan dengan pemuda asing itu.
Semua kini berubah total. Hidupku akan segera berganti haluan arah. Berotasi tanpa kusengaja. Semua itu bukan karena kelaurga Rasyid berlatar belakang keluarga berada. Namun, semua ini aku lakukan hanya untuk membahagiakan ibu. Orang tua satu-satunya yang masih kumiliki di dunia ini.
Sengaja kuusap debu tebal di kaca jendela kereta api. Nampak dari balik kaca itu, bagaimana kesibukan yang terjadi di Stasiun Gambir Jakarta. Semua calon penumpang bergegas menaiki kereta. Tak ingin mereka ketinggalan dan gagal mencapai kota tujuan. Waktu bagi para penumpang untuk bersiap, hanya beberapa menit saja. sebelum akhirnya lokomotif ini, akan membawa jiwa raga kami semua tuk berpindah. Berhijrah dari kota ini. menuju kota tujuan kami selanjutnya.
Para calon penumpang kereta, banyak yang masih riuh diluar sana. Beberapa dari mereka banyak yang di antarkan kemari oleh sahabat atau sana keluarga. Begitu juga denganku. Tadi aku diantar oleh pemuda asing yang sebentar lagi akan menjadi lelaki spesial dalam hidupku. Tadinya Rasyid menyuruhku baik pesawat. Namun, aku menolaknya. Aku ingin menikmati perjalanan panjang menuju kampung halaman, sekalian memikirkan apa yang sudah kuputuskan dalam hidupku.
Segera berduduk-duduk manislah aku di kursi kereta. Tepatnya, aku berada di gerbong bagian tangah. Sesuai nomor yang tertera di tiket yang di beli oleh Rasyid, kereta api berkelas eksekutif. Kereta inilah yang akan mengantarkanku pulang. Dari ibu kota, menuju tanah kelahiran. Tuhan… benarkah jalan yang aku pilih ini, adalah sebaik-baik jalan yang engakau Ridhoi?
Bel kereta telah bersungut-sungut menderu. Disusul arahan bagi segenap penumpang. Oleh suara perempuan khas stasiun-stasiun kereta di negeri ini. rekaman suara wanita yang tak pernah menampakkan wajah aslinya. Apakah ia
cantik? Atau sebenarnya ia berwajah kejam?
Kereta bersiap untuk lepas landas. Petugas stasiun di luar sana, kini terlihat berjalan menuju ujung lorong pembatas stasiun. Ia memegan bendera sandi keberangkatan kereta. Benda itu mirip raket bola pimpong. Kereta
Taksaka ini, memiliki rute dari stasiun Gambir dan pemberhentian terakhirnya adalah di stasiun kota Jogja.
Sang masinis pun akhirnya menyeser rentengan ular besinya. Melalui kemudi yang di pegangnya, ia adalah orang yang paling berkuasa menggerakkan arah langkah kami bersama keretanya. Roda besi telah menyusuri bantalan rel berbahan baja. Tatkala kereta mulai bergerak. Ternyata banyak pemumpang yang masih mondar-mandir di dalam gerbong. Mencari kursi paling tepat mereka. Sesuai nomor yang telah tertera ditiketnya. Jika di jalanan ibukota, bus Metro Mini adalah raja-diraja jalanan Jakarta. Namun, disepanjang pulau Jawa, kereta api adalah raja-diraja jalanannya.
Mungkin, aku bisa tertidur lelap disepanjang perjalanan pulang.
Demikianlah harapanku, yang tak henti-hentinya bergundah. Capek, lelah dan kurang tidur selama berada di rumah hijau milik Rasyid. Membuatku ingin segera membayar total rasa kantuk yang telah bergelayut di kedua bulu mata.
“Permisi… Mbak,” ujar ibu paruh baya berdiri disampingku duduk. Ia tiba-tiba datang dan menyadarkan lamunan asaku. Ibu itu berdiri tepat disampingku. Sibuk menata banyak sekali barang bawaan ditangannnya untuk segera
ia masukkan ke loker kereta.
“Oh, iya, silahkan Bu.” Kembali, aku menatap ke jendela. setelah menyahuti ibu itu basa-basi. Berlagak sedang tidak merasa terganggu dengan kehadirannya.
“Maaf ya Mbak… jadi keganggu.” Tukasnya tersenyum, sembari duduk disampingku.
Aku menoleh lagi ke arahnya dengan tersenyum, “nggak apa-apa kok, Bu.” Aku kembali melempar pandang ke arah luar jendela kereta. memikirkan entah apa yang sedang kupikirkan. Mataku mengantuk. Namun, rasanya susah untuk memejamkannya.
Ibu yang duduk disampingku, terlihat tengah sibuk memainkan ponsel pintarnya. Sesekali dia melihat kearahku, lalu tersenyum.
Akupun mengambil ponsel yang berada didalam saku rok. Menancapkan handsead dan memasangnya dikedua telinga. Segera kuputar lagu-lagu yang terdapat di dalam daftar putar. Lagu siapa lagi, jika bukan lagu-lagu yang
dikirim oleh Pengelana.
Lagu Once Mekel terdengar sayup-sayup dikedua telinga. Bait demi bait terdengar mengalun dengan indah. Dealova… ya, lagu itu adalah salah satu lagu yang berada di daftar favoritku. Entah dari kapan aku sangat menyukai lagu yang dikirim oleh Pengelana, untuk pertama kalinya dulu.
“Mbak…” ibu disebelahku memegang lututku. Ternyata beliau menanyakan sesuatu padaku sebelumnya.
Aku segera mematikan musik. Tersenyum pada sang ibu, “iya, Bu?”
__ADS_1
“Kripik Mbak…” katanya sembari menyodoriku sebuah bungkusan.
Aku tersenyum, “terimakasih, Bu. Maaf saya masih kenyang.”
Lalu, ibu itu menaruh sebungkus kripik pisang di hadapannya.
“Kripik pisang?” gumamku. Lalu, aku ingat sesuatu tentang sebuah kripik pisang.
Akupun segera meraih ponsel yang berada dipangkuan. Mencari nama Daffa, “Daffa, kamu lagi apa?” sebuah pesan kukirimkan kepada Daffa. Aku ingin memberitahunya, jika hari ini aku sedang dalam perjalanan pulang dari
Jakarta.
Lima menit berlalu, terlihat centang masih warna abu-abu. Aku menatap nama tersebut sampai beberapa menit.
“Jika memang cinta, utarakan. Jangan suka memendam rasa. Nanti jadi penyakit.” Si ibu yang duduk disampingku dengan tersenyum mengatakan hal itu padaku.
Aku menatapnya dengan menautkan kedua alis. Terlihat ibu itu sedang menikmati kripik pisang yang ditawarkannya tadi padaku. Akupun segera melempar pandang keluar jendela.
Mungkin ibu itu tidak sedang berbicara padaku. Karena aku lihat dia sedang sibuk dengan kripik pisang dan ponselnya.
“Jatuh cinta, apa sedang di cintai seseorang?” kembali ibu tersebut melontarkan sebuah kalimat.
Akupun kembali melihat kearahnya. Kini, ibu itu terlihat sedang menatapku.
“Jatuh cinta itu lebih sakit Mbak. Ketimbang di cintai.” Tukasnya lagi.
Aku masih diam, menunggu kata-katanya lagi.
“Kalau kita dicintai, itu ibarat kita sedang diperjuangkan seseorang. Dan untuk menumbuhkan rasa cinta itu. Itu perkara mudah. Hanya menunggu waktu saja. jika kita sudah terbiasa dengannya, pasti rasa cinta itu akan
tumbuh.” Katanya, lalu beliau menganjur napas. “Tapi, beda jika kita yang mencintai seseorang...” Kalimatnya mengantung. Aku menunggu ibu tersebut melanjutkan kalimatnya. Namun, sepertinya beliau memang sengaja menggantungnya.
“Apa… kamu tengah mencintai seseorang? Atau malah kebalikannya?” pertanyaan macam apa itu?
Aku masih terseyum.
“Jika dilihat dari raut wajahmu. Kamu…” pernyataan ibu disampingku menggantung lagi. Seolah-olah berharap jika aku akan menanyakan perihal sesuatu dan segera menceritakan kejadian yang tengah menimpaku.
“Saya mau menikah…” aku membuka suara.
Ibu itu tersenyum sembari menganggukkan kapala.
“Semoga berbahagia…” katanya. “Jangan sampai salah pilih.” Lanjutnya.
Aku meanutkan kedua alis. Tak menjawab kata-kata beliau lagi.
******
Kau dan aku pernah melewati detik kecemasan.
Hingga merasa senja bukan lagi milik kita.
Lalu, waktu seakan melemparmu ke jarak tak terjangkau.
Untuk apa kita ikrarkan kesejatian?
__ADS_1
Jika setelahnya, kau dan aku sama-sama membangun kefanahan.
Maka, biarkan aku berterimakasih pada luka.
Ketika waktu menjawab semuanya.
Barangkali inilah yang disebut keajaiban.
Saat aku mampu menertawakan kesakitan.
Aku membungkam mulut. Saat Pengelana mengirim sebuah pesan berbentuk puisi yang ditulisnya diatas tisu.
Perjalananku masih tinggal sekitar empat jam lagi. Aku melempar pandang ke luar kaca jendela kereta. Tak terfikir olehku untuk membalas pesan Pengelana.
Bukan, bukan tak terfikir. Namun, aku belum menemukan kata-kata yang pas untuk menjawab semua pesannya.
Lalu, aku memetusukan untuk mengirim sebuah pesan balasan untuk Pengelana.
Setelah melewati musim dengan banyak bicara,
Kadang diam membuat saya takut, jujur.
Meskipun pernah pula kita lalui deras sunyi.
Barangkali saya yang terlebih, ya, tak bisa membaca cuaca.
Ku bubuhi sebuah emoticon tersenyum pada bait terakhir.
Pengelana tiba-tiba off setelah membaca balasan pesan dariku.
Aku segera membuka akun fb, mencari nama Pengelana. Kedua alisku bertautan. Melihat sebuah foto profil akun Pengelana. “Ganti…” gumamku.
Ibu disebelahku, masih saja menikmati kripik pisang yang tadi ditawarkannya padaku. Sesekali terlihat menatapku secara curi-curi.
Aku menganjur napas dalam. Lalu, keluar dari akun Pengelana, yang foto profilnya sudah ganti dengan sebuah foto botol mizone yang dijejerkan dengan sebuah kotak persegi panjang putih.
Segera aku menulis sebuah kata di berandaku. Berharap Pengelana akan segera membacanya.
Tak apa-apa hujan reda…
Berganti kemarau, misalnya…
Saya sudah menyimpan gerimis yang kau kirim dalam botol-botol…
Tidak mengapa segala-gala saya simpan…
Bahkan jika selamanya…?
Yang saya miliki hanya ingatan perihal hari kemarin...
Tapi…
Jika yang lalu tak pernah benar-benar menjadi milik saya…
Biar musim yang menggerus ingatan…
__ADS_1
Hingga pelan-pelan memudar dan hilang….
Dan kini, biarkanlah kita saling menertawakan luka...