
“Allen!” panggilnya saat ia keluar dari kamar.
“Dimana Risa? Apa kamu menguncinya di dalam?”
“Aku terpaksa melakukannya, Len. Jika aku tidak melakukannya, aku rasa ia akan pergi meninggalkanku.”
“Gila kamu, Tam!”
“Aku tak punya cara lainnya, Len!” bentaknya. “Sekarang, kerahkan semua orang untuk mencari keberadaan perempuan gila itu, aku harus melakukan sesuatu padanya.”
“A-apa yang akan kamu lakukan?”
“Aku akan menyiksanya dengan kejam, berani-beraninya dia menyentuh Risa. Pernikahanku yang baru saja kujalani terancam karena perbuatannya.”
“Apa yang akan kamu lakukan?”
__ADS_1
“Culik dia, dan sekap dia di ruangan tertutup. Kamu tahu apa yang kumaksud.”
“Kamu yakin akan melakukan ini? Bagaimanapun dia juga seorang perempuan Tama. Apa lagi dia dari SJ Group.”
“Aku tak peduli. Aku tak akan berbelas kasih kepada seseorang yang berani menyentuh Risa.”
“Baiklah, akan aku laksanakan.”
“Jangan sampai ada kesalahan, Allen.”
Setelah beberapa saat menenangkan diri di luar dan memikirkan apa yang harus ia lakukan, akhirnya Tama memberanikan diri untuk masuk kedalam kamarnya. Dari sekat kaca itu, dia bisa melihat jika kini Carissa sedang tertidur dengan lelehan air mata yang membekas di ujung matanya, perlahan ia membuka kunci dan tak mau membangunkan Carissa yang terlihat kelelahan karena tangisnya.
Tak lupa ia mengunci kembali pintu itu dari dalam dan menyimpan kuncinya, lalu turut naik ke atas tempat tidur, pelan-pelan Tama memindahkan tubuh Carissa kepelukannya. Ia memeluknya dengan erat dan tak dapat memejamkan matanya.
“Bagaimana aku harus menebus kesalahanku, Risa? Apa yang harus kulakukan? Aku telah menyakitimu, tapi aku juga tak mampu untuk melepaskanmu.” Gumamnya dalam hati dengan penuh sesal. Berkali-kali ia mengecup kening istrinya itu dan berharap jika yang ia lalui saat ini hanyalah sebuah mimpi.
__ADS_1
“Kumohon jangan meninggalkanku, Risa. Aku tak akan mampu bertahan tanpa dirimu.” Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, Risa.” Ucapnya lirih, dan akhirnya laki-laki itu menitihkan air mata yang syarat akan rasa takut dan sesal.
Di penghujung malam, Tama akhirnya bisa menutup kedua matanya. Namun ia terbangun dengan keras saat merasakan tidak ada siapa-siapa di sisinya.
“Risa!” teriaknya, lalu ia mengedarkan pandangannya di sekitar ruangan itu, dan menemukan Carissa berdiri sambil memandang ke arah pantai yang luas dengan pandangan kosong.
“Sayang.” Panggilnya sambil memeluk istrinya dari belakang.
“Apa kamu tak merasa malu dengan menyentuhku, Mas? Jangan menyentuhku dengan tanganmu itu.” Jawab Risa dengan datar. Pandangannya tetap menembus ombak pantai yang bergerak tenang.
Tama mengeratkan pelukannya, “Aku memang tak tahu malu karena masih mengharapkan pengampunan darimu. Tapi sungguh, aku tak akan sanggup jika hidup tanpamu, Risa. Aku terlanjur bergantung padamu, dan aku sangat mencintaimu. Tolong, berikan aku kesempatan sekali lagi. Aku mohon.”
“Bukankah kamu berhutang sebuah penjelasan padaku?”
Tama membawa Carissa untuk duduk di atas tempat tidur, sedangkan ia bersimpuh di hadapan istrinya. “Aku akan menjelaskan semuanya, aku akan mengatakan semuanya sehingga tak akan ada lagi kebohongan di pernikahan kita.”
__ADS_1
Tama akhirnya menjelaskan dengan siapa saja ia pernah bercinta, lalu alasan-alasan yang ia ungkapkan, yang menjadi latar belakang semua tindakannya itu. Kemudian ia beralih kepada Amelia. Tama sempat terhenti sebentar dan ingin memastikan bagaimana ekspresi yang Carissa berikan, diluar dugaan, Carissa begitu tenang. Hal itu membuat Tama semakin khawatir karena istri tercintanya itu terlihat sudah tidak peduli lagi dengan semua yang ia bicarakan.