PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
PH 62 Obat apa?


__ADS_3

Pemilik Hati (62)


" Mas kenapa?," tanya Syifa karena melihat suaminya seperti terkejut melihatnya.


" Ah, tidak apa-apa." jawab David singkat.


Bersyukur Rangga datang tepat waktu. Batin David.


Walaupun dia sudah tak memiliki perasaan lagi pada mantannya itu, namun keberadaan Winda di ruang rawatnya bisa saja menimbulkan kesalahpahaman.


" Kak Rangga masih lama?," tanya Syifa. Mereka memang tinggal menunggu kedatangan Rangga yang sedang menyelesaikan administrasi.


" Dia..."


Ceklek


" Maaf lama. Ada urusan sebentar," Rangga datang sebelum David sempat menjawab pertanyaan Syifa.


" Oh iya, tidak apa-apa, Kak. "


" Kita langsung pulang?,"


" Ya, aku sudah bosan disini," keluh David.


" Baru juga semalam."


Hari-hari berlalu. David sudah kembali dengan kesibukannya di perusahaan. Walaupun sebenarnya ia lebih senang menghabiskan waktunya bersama istri tercinta. Namun, ia pun tak bisa abai terhadap tanggung jawabnya.


" Ayo ke rumah sakit," ajak Rangga setelah memberikan tisu pada David.


David kembali mengalami mimisan. Hal ini bukan yang pertama kali. Namun, David enggan memeriksakan lebih lanjut. Ia pikir ini hanya mimisan biasa.

__ADS_1


" Aku hanya butuh istirahat. Sebentar lagi juga baikan."


" Dav, aku rasa ini akan bertambah buruk kalau kamu membiarkannya saja. Kamu tak ingat pesan dokter."


David menghela nafas. Ia memang di rujuk untuk melakukan operasi karena ada pembekuan darah di kepalanya. Kecelakaan terakhir membuat kondisinya bertambah parah.


Namun, ia tak bisa meninggalkan istrinya begitu saja. Memberitahukan keadaan sebenarnya pun rasanya ia tak sanggup. Istrinya tidak boleh terlalu banyak pikiran.


" Kamu takut?," tebak Rangga


" Hmm. Bagaimana kalau operasinya gagal?," David berpikir lebih baik memanfaatkan sisa waktunya daripada melakukan operasi yang belum tentu berhasil.


" Kita tidak tahu hasilnya jika belum mencoba, bukan?,"


David bangkit dari kursinya dan segera melangkah ke kamar pribadi yang ada di ruang kerjanya.


" Sudahlah. Aku tidak mau terlalu berharap jika presentasi keberhasilannya sedikit,"


Rangga hanya diam memperhatikan David. Dia akan kembali mengkonsumsi obat yang selama ini di berikan dokter. Obat yang ia simpan dengan sangat tersembunyi agar tidak di ketahui siapapun. Kecuali Rangga yang menang sudah tahu kondisinya dari awal.


" Ini obat apa?," monolog Syifa.


" Apa Mas David menyembunyikan sesuatu dariku?,"


Obat itu sudah pasti milik suaminya. Namun, ia tak tahu obat apa itu. Apalagi selama ini ia melihat suaminya biasa saja. Tidak seperti orang sakit.


Hanya sesekali ia melihat suaminya merasa pusing. Dan David berasalan itu karena banyaknya pekerjaan yang harus ia selesaikan sehingga ia kurang istirahat.


Tak ingin semakin penasaran, ia akhirnya menyimpan kembali botol obat itu dan berniat menanyakannya nanti sepulang suaminya dari kantor.


...******...

__ADS_1


Syifa memperhatikan suaminya yang saat ini sedang sarapan bersamanya. Kedua mertuanya sedang melakukan liburan. Sementara adik iparnya memang sudah pergi dari pagi.


" Kenapa?," tanya David merasa terus di perhatikan.


" Hmm, siang ini apa aku boleh ke kantor? Kita makan siang disana," pinta Syifa. Semalam ia tak jadi menanyakan tentang obat yang ia temukan.


Seseorang menghubunginya dan membuat ia mendapatkan jawaban tanpa harus ia menanyakan pada suaminya.


David diam. Jam makan siang adalah jam yang rawan baginya. Entah kenapa rasa sakit itu selalu muncul hampir di waktu yang sama.


" Tidak boleh ya? Ya sudah tidak apa-apa," timpal Syifa melihat David yang tidak mengatakan apapun.


Melihat raut kecewa sang istri, David menjadi tak tega.


" Baiklah. Mas menunggumu untuk makan siang bersama,"


" Aku akan masak makanan kesukaanmu, Bi," seru Syifa antusias.


" Ay ...."


" Iya, aku janji hanya membantu sedikit," Syifa paham panggilan tegas itu. Suaminya tak ingin ia terlalu lelah.


" Mas pergi dulu." David mencium kening Syifa. " Sayangnya Papa, baik-baik kalian disana ya," David tak pernah absen untuk ikut menyapa baby twins nya.


...******...


" Ngga, kalau Syifa sudah datang tolong tahan dia sebentar," pinta David terburu-buru masuk untuk mengambil obat miliknya.


Benar dugaannya. Sakit itu datang lagi. Bahkan kini semakin sering.


Apakah waktuku semakin dekat? Batinnya yang mulai tak sadarkan diri. Sesaat setelah masuk ke dalam kamar pribadinya.

__ADS_1


Brugggh


TBC


__ADS_2