
Pemilik Hati (58)
" Mas!!," seru Syifa tak percaya bahwa suaminya benar-benar pulang saat itu juga.
" Hati-hati, Ay!!," David setengah berteriak karena terkejut melihat Syifa yang terburu-buru berjalan ke arahnya.
Brukk
Syifa langsung memeluk David. Air matanya mengalir deras saat melihat kondisi sang suami yang berjalan dengan menggunakan kruk.
Di luar kamar, kedua orang tua David yang menyaksikan merasa terharu. Bahagia tentunya. Mereka ikut mengantar David ke atas karena khawatir terjadi sesuatu dengan David. Apalagi ia bersikeras naik tangga sendiri.
" Kapan lift nya selesai?," tanya Flower sambil melangkah pergi meninggalkan sepasang suami-istri yang sedang meluapkan kerinduan mereka.
" Kalau sesuai rencana, besok lusa insya Allah selesai,"
...******...
" Ay, aku pegel." lirih David yang memang benar-benar pergal karena harus terus berdiri menunggu sang istri meluapkan tangisnya.
" Maaf, Mas. Ayo duduk dulu," Syifa yang sadar telah membuat suaminya berdiri lama kini memapah David untuk duduk di sofa.
" Kenapa bisa sampai begini? Sejak kapan?," Syifa meneliti tubuh David. Ia ingin menguji kejujuran sang suaminya.
" Mas kecelakaan, Ay bahkan pak Dendi supir kantor sampai meninggal dunia."
" Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un," Syifa memang tahu kondisi suaminya namun ia tak tahu jika kecelakaan itu sampai merenggut supir kantornya. Ayah David memang tidak menceritakan semuanya.
" Kapan?,"
" Setelah lima hari berada di luar kota sebenarnya mas mau pulang, hanya saja kecelakaan itu terjadi yang membuat mas harus di rawat di rumah sakit."
" Kenapa tidak bilang?," lirih Syifa.
" Mas tidak mau membuatmu khawatir. Biar saja. Lagipula semuanya sudah berlalu."
__ADS_1
" Apa lagi yang luka selain kaki?," selidik Syifa.
" Mas mengalami kebutaan," jawabnya pelan. Merasa tak ingin berbohong lagi. Lagi pula kondisinya sudah baik-baik saja. Ia memilih jujur.
Ia khawatir Syifa tahu dari orang lain. Apalagi ada Winda yang juga tahu kondisinya. Ia tak ingin memberi Winda peluang untuk memanfaatkan keadaan seandainya ia tahu bahwa David menyembunyikan keadaannya pada istrinya.
Hanya jaga-jaga saja.
" Separah itu dan mas tidak bilang apa-apa? "
" Maaf"
Syifa hanya menangis. Sekalipun ia sudah tahu kondisi yang sebenarnya, nyatanya ia merasa sakit. Merasa tak berguna sebagai seorang istri.
" Sudah, jangan menangis lagi" David tak tega saat melihat air mata Syifa seolah tak ada habisnya.
" Aku merasa tak berguna. Aku merasa tak penting di hati mas,"
" Bukan begitu, Ay. Mas hanya tak ingin kamu khawatir. Kamu sedang mengandung. Mas tak ingin terjadi apa-apa,"
" Kamu sangat penting bagi mas, Ay. Karena itu mas rak ingin terjadi apa-apa padamu juga Meraka,"
" Lain kali jangan seperti ini. Kalau mas bohong lagi aku akan..."
Cup
David mengecup singkat bibir Syifa.
" Insya Allah mas janji tidak akan bohong lagi, Ok."
Syifa hanya diam. Ia tak melepaskannya pelukannya sedikit pun.
" Mas pulang sejak kapan?"
" Sebenarnya sejak tadi siang saat kamu tidur siang."
__ADS_1
" Tadi siang? Kenapa tidak langsung ketemu aku?,"
" Kejutan." jawabnya dengan senyum yang merekah.
" Ya, kepulangan mas memang sangat mengejutkan. Tapi aku bahagia, mas baik-baik saja."
" Jangan menangis lagi. Mas kan sudah janji tidak akan membuatmu menangis."
" Ini tangis bahagia," kilah Syifa yang memang begitu kenyataannya.
Tok...Tok...Tok ..
"Sebentar aku lihat dulu, mas,"
Ceklek
" Ada apa,Mbok?," tanya Syifa ternyata pembantunya yang datang mengetuk pintu.
" Nyonya dan Tian sudah menunggu untuk makan malam, Non,"
" Baiklah. Sebentar lagi kamu menyusul ke bawah,"
Syifa kembali menghampiri suaminya setelah pembantunya kembali.
" Siapa?,"
" Itu Mbok Ijah, katanya Mama dan Papa sudah menunggu untuk makan malam. Mas mau makan di bawah atau di sini saja?,"
" Ayo kita makan di bawah. Mas sudah rindu makan malam bersama,"
Syifa membantu David berjalan. Tangan David sebelah kanan menggunakan kruk dan sebeg kiri merangkul pinggang Syifa.
Mereka melangkah perlahan ke luar kamar.
TBC
__ADS_1