
“Hai Matahari Tertutup Mendung.”
OMG! Pengelana menyapa dengan nama akunku.
“Matahari Tertutup mendung, siapa?” jawabku pura-pura tidak mengerti.
“Ya kamulah, masa iya tetangga saya.”
Aku membungkam mulut. Berarti dia sudah melihat emoticon yang aku klik kemarin di akunnya. Tapi, bagaimana bisa dia langsung menganggap jika yang mempunyai nama tersebut adalah aku? Bahkan di profil, aku tidak
memasang foto diri. Hanya sebuah foto bunga matahari kesukaanku.
“Darimana kamu bisa menganggap kalau itu, saya?”
“Siapa lagi yang mempunyai nama aneh, jika bukan kamu?”
Dia benar-benar tahu, syukurlah dia tidak menyelipkan komentar apa-apa tentang akunku.
“Kenapa diam?” tanyanya.
“Nggak apa-apa.”
“Kamu lebih aktif disitu daripada di fb dan Instagram?”
“Nggak juga, semua aplikasi saya. Akan saya kunjungi jika sedang tidak sibuk.”
“Oh.. begitu? Kamu tahu, jika puisi yang saya upload adalah hasil karyamu? Kenapa tidak kamu komentari, M?”
“Iya, saya tahu itu. Untuk apa komentar pada karya sendiri? Bagi saya memberi sebuah emoticon dengan bentuk senyum malaikat sudah mewakili, kok.”
“Benarkah?’
“Maksudnya?”
“Apa kamu tidak baper?”
“Baper? Baper pada tulisan sendiri maksud kamu? Kamu tuh bisa aja.”
Aku membaca ulang pesan yang dikirim Pengelana. Ingat bagaimana kemarin sempat mengkhawatirkan dia saat mengirim lagu Dealova.
“Dealova kemarin, aku kira kamu kenapa-kenapa..”
Pengelana tertawa, “hanya sedang tidak baik.”
“Sekarang sudah baik?”
“Insyaa Allah.”
“Benarkah?” biarlah sekalian aku terang-terangan jika sebenarnya sedikit khawatir saat dia mengirim lagu tersebut. Siapa tahu, dia cerita sesuatu tentang Rosa., misalnya.
“Itu hanya sebuah lagu,M.”
“Lagu memories, kah?”
“Iya..”
“Sedang mengenang?” tanyaku.
“Sedang mendengarkan lagu.” Lihatlah, bagaimana cara dia menjawab pertanyaanku?
Tiba-tiba aku ingat sesuatu. Seseorang memberi pengumuman seleksi festival literasi Tangsel.
“Kamu mau ikut ini? puisi-puisimu bisa diikutkan.” Aku mengirim gambar pengumuman, sekaligus tautan Instagram.
“Kamu ikut?” tanyanya.
“Pengennya sih ikut. Tapi deadlinennya mepet, dan saya belum nulis. Kalau kamu mau kirim puisi kan tinggal pindahin saja dari puisimu yang sudah ada itu.”
“Kamu saja yang ikut.” Kata Pengelana.
__ADS_1
“Kamu nggak mau? Atau Rosa lagi yang kirim?”
Pengelana tidak menjawab. Dia langsung off begitu saja. Apa dia setuju jika Rosa akan kirim? Kebiasaan dia menghilang begitu. Tetapi, ya memang tidak ada aturan di antara kami harus pamit atau izin hanya untuk
berhenti dari obroloan. Kami kan bukan sepasang kekasih yang apa-apa harus izin.
****
Akhir-akhir ini, banyak sekali acara literasi yang bisa diikuti. Biasanya peserta lolos akan mendapat undangan acaranya. Aku pernah kirim naskah untuk Banjarbaru’s Day Literasy Festivals, Festival Literasi Indonesia Timur, dan semuanya masih gagal. Tiga kali ikut Ubud Writers and Readers festival, tapi belum berhasil juga.
Karena untuk literasi Tangsel ini temanya bebas, aku memikirkan ide yang kira-kira bisa menarik perhatian juri. aku berfikir perihal seseorang bermantel basah yang mencabuti kenangan dari kepalanya. Cerpen itu berhasil mengambil perhatian redaktur koran ternama. Bagaimana kalau kali ini aku juga menulis perhal dia lagi?
Tapi.. kali ini tentang dia dan lagu Dealova-nya.
‘Untuk sebuah lagu yang kau kirim, aku cukup menulis puisi.’
Bukankah judul-judul panjang begini sedang ngetren dan naik daun? Setidaknya
tertarik dibaca dulu, hingga selesai. Perkara nanti terpilih atau tidak itu soal rezeki.
‘kami bukan sepasang kekasih.’
Begitulah aku memulai kallimat pertama pembuka cerpenku.
‘Aku dan dia adalah orang asing yang bertemu pada suatu senja di bulan November, senja yang diselimuti gemericik nyanyian alam. Disebuah kedai kopi yang menghadap kearah matahari tertutup mendung. Aku
sengaja datang kesana, sebulan penuh. Hanya untuk membuktikan bahwa penampakan langit barat selalu berubah-ubah tiap harinya.’
Aku terus mengetik, mengalirkan kalimat-kalimat di kepalaku ke jari-jemari, memindahkan ke keyboard, hingga akhirnya muncul dilayar laptopku. Perasaanku persis seperti ketika aku menulis pertemuan pertama kami
disebuah ruang tunggu stasiun itu. Semoga saja dia tidak protes karena aku kembali membuat naskah tentang dirinya.
Aku menarik napas lega, ketika membubuhkan kata ‘selesai’ dihalaman ke sembilan. 1080 kata. Cukup
untuk sebuah draf awal. Selanjutnya, mengendapkan naskah itu selama dua puluh satu jam. Memang bukan waktu yang lama untuk membuatnya seoalah benda asing (seperti kata Stephen King), ketika membacanya kembali. Tetapi setidaknya, hal-hal yang tidak perlu pada naskah, atau bagian yang berlubang lebih kelihatan.
****
“Ini baru saja akan saya kirim. Kamu beneran nggak ikut?”
Pengelana tidak membalas lagi. Dia kembali off begitu saja.
“Kebiasaan..” aku berbicara sendiri. Mengerucutkan bibir sambil menatap nama Pengelana di layar.
****
Tepat pada pukul nol-nol dini hari, aku membuka sebuah notifikasi yang ternyata dari email yang kukirim kemarin. “Selamat @AyuMhet86_, cerpen anda dengan judul “Untuk Sebuah lagu yang kau kirim, aku cukup menulis puisi” lolos untuk mengikuti festival literasi. Untuk selanjutnya kami akan segera mengirim sebuah undangan dalam bentuk online.”
Letupan-letupan kegembiraan terpancar dari wajahku. Aku sungguh bersyukur karena telah lolos seleksi tersebut. Segera kuraih ponsel yang berada disamping laptop, dan menuju pada satu nama… Pengelana.
“Cerpenku lolos seleksi.” Akupun mengetik pesan tersebut, namun buru-buru menghapusnya. Aku tidak ingin Pengelana tahu, jika cerpen yang aku muat masih tentang dia.
Akupun mematikan ponsel, lalu melihat Intagram literasi Tangsel, ingin tahu siapa saja nama yang lolos dalam festival tersebut. Ada sebuah nama yang membuat kedua bola mataku terbelalak.”Rosa ikut juga? Dia lolos!” suaraku memekik ditengah keheningan malam.
“Ya, Tuhan… kenapa dia mengunggah puisi Pengelana lagi? Apa ini alasan Pengelana untuk tidak ikut festival tersebut?” aku bicara sendiri. Seketika ada letupan hangat yang menyundul dalam dadaku. Rasa apa ini? kenapa
aku selalu merasa tidak nyaman ketika berhadapan dengan nama Rosa?
Segera kuraih ponsel yang tadi sempat aku tinggalkan. “Rosa ikut festival juga, ya?” aku mengetik dengan sedikit kesal.
Pengelana membalas pesanku lima belas menit kemudian, “iya, saya yang nyuruh.”
Oh Tuhan… harusnya aku sadar, jika mereka adalah sepasang kekasih. Dan harusnya aku tahu, jika sebenarnya Pengelanalah yang menyuruh Rosa untuk ikut festival tersebut.
“Oh… selamat ya. Puisi kamu lolos.”
“Terimakasih, M. saya juga barusan dikabarin Rosa, kalau
puisinya lolos.”
__ADS_1
Puisinya? Apa maksud dari kata-kata Pengelana tersebut. Kenapa harus ada kata ‘nya’, bukankah itu hasil karya Pengelana yang sengaja di plagiat oleh seorang Rosa?
“Boleh saya tanya?”
“Tanya? Tanya apa, M?”
Dengan sedikit gugup, aku mengetik, “sebenarnya puisi-puisi itu karya kamu apa Rosa?”
“Bukankah sudah pernah saya jelaskan padamu?”
Ya Tuhan… harusnya aku sadar, mereka sepasang kekasih. Apapun milik Pengelana memang sudah wajar bisa diaku oleh Rosa.
“Iya… maaf.”
“Apa cerpen kamu lolos juga?”
Tuhan… aku harus jawab apa sekarang? Jika aku jawab iya. Pasti Pengelana akan tanya apa judul dari cerpenku. Dan otomatis Pengelana tahu jika cerpen itu masih tentang dia. Aku mengajur napas, sembari mengetik “Iya..” tapi buru-buru aku menghapusnya. Karena aku lihat Pengelana sedang off.
Segera kumatikan laptop, dan mengambil posisi tidur. Kulirik jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Akupun segera melangkah menuju pancuran untuk mengambil wudhu, dan menyelesaikan sholat malam.
“Apa kamu akan melaporkan Rosa pada Panitia?” tiba-tiba pesan Pengelana masuk, tepat disaat aku selesai mengerjakan sholat malam.
Aku tersenyum, “tidak, jika semua ini membuatmu bahagia, tentunya.” Jawaban macam apa yang aku kirim ke Pengelana.
Aku menaruh ponsel. Tentu saja aku tidak akan melaporkan Rosa tentang semua itu, tapi.. tentunya aku akan menemuinya secara intens di festival tersebut. Lalu, aku akan menegurnya secara baik-baik. Bahwa apa yang
dilakukan tidak benar. Dia telah mengambil salah satu jatah peserta yang seharusnya lolos. Lain halnya, jika dia mengirim karyanya sendiri, bukan?
****
Rasanya tidak sabar menunggu hari itu tiba. Langkahku terasa ringan. Apakah terlalu antusias? Karena apa? Karena setelah beberapa kali gagal akhirnya aku berhasil? Atau… karena aku akan bertemu dengan Rosa?
Sejujurnya, kalau dpikir-pikir aku sedikit gugup untuk bertemu, Rosa. Benarkah aku bisa bertanya dengana lancar perihal puisi-puisi Pengelana? Bagaimana aku harus menyapanya terlebih dulu? “Hai Rosa?” atau “kenapa kamu mengirim puisi-puisi Pengelana? Atau “jadi, kamu kekasih Pengelana, ya?” oh Tuhan… tidak, tidak harus menyapanya dengan pertanyaan-pertanyaan gila macam itu.
“Naik apa?” tiba-tiba pesan Pengelana masuk mengejutkanku.
“Mungkin kereta.” Jawabku.
“Kok kereta? Nggak naik pesawat aja? Kan biaya perjalanan diganti paniatia?”
“Memangnya panitia mau mengganti tiket pesawat? Harganya sudah pada naik. Kecuali Lion.”
“Ya sudah, Lion saja.”
“Mmmm…tapi…”
Siapapaun pasti tidak akan lupa dengan tragedi jatuhnya pesawat beberapa waktu lalu.
“Takut?” tanya Pengelana.
“Mmmm… gimana, ya.”
“M.. Takut tuh hanya sama Allah.”
“Kenapa harus takut sama Allah? Bukankah Allah Maha Penyayang? Allah tidak patut kita takuti. Yang benar kita harus sayang terhadap Allah, seperti-Nya yang menyayangi kita, bukan menakuti kita.”
“Iya… maksud saya, hidup dan mati seseorang itu Allah yang nentuin, bukan bus, kereta atau pesawat.”
“Iya sih…”
Aku diam menunggu balasan Pengelana.
“Pesawat atau kereta?”
Belum sempat aku membalas pesan Pengelana, ponselku tiba-tiba berdering. Panggilan dari nomor asing aku membiarkan hingga deringnya terhenti. Tidak. Aku tidak suka mengangkat telepon dari nomor asing. Tetapi
ponselku kembali berdering. Jadi, bagaimana jika itu dari panitia festival? Aku memutuskan untuk menyentuh gambar telepon berwarna hijau.
“Halo…”
__ADS_1
“Mheta…”
Aku menegakkan punggung.