PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
Eps 72


__ADS_3

“Oh! Sial!!!” Tama langsung memutus panggilannya dan berlari masuk kedalam kamarnya. Saat dia ingin memasuki kamar tidurnya tempat Carissa berada, dia terkejut karena tidak bisa membukanya dari luar, ya . . . karena Carissa sengaja mengunci pintu itu agar bisa melihat setiap adegan yang ada didalam video tersebut.


“Risa! Cepat buka pintunya, Sayang! Carissa!” teriak Tama sambil terus mencoba menggedor dan membuka pintu yang dinding kamar dalam seluruhnya tersekat dengan kaca bening itu. Tama dengan jelas dapat mendengar teriakan dan ******* seorang gadis dan juga suara geraman dari seorang laki-laki yang adalah suara miliknya, milik Tama.


Carissa terpaku dengan setiap adegan panas yang ditampilkan dalam video tersebut, seluruh tubuhnya bergetar, matanya menatap seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya, mulutnya kelu tak bisa berkata apa-apa, dia menoleh dan melihat suaminya yang terus saja mencoba membuka pintu kamarnya dengan panik sambil terus memohon, tanpa terasa air matanya menetes membasahi pipinya.


Napas Tama terdengar tak karuan, ketakutan dan kepanikan menyerangnya dalam satu tembakan, ia sadar jika adegan yang sedang Carissa lihat adalah adegan percintaan terakhirnya dengan Amelia yang ternyata telah direkam dengan diam-diam.


“Sayang, Sayang, Carissa, aku mohon. Tolong buka pintunya, ya. Aku bisa jelaskan semuanya padamu. Ya, Sayang. Aku mohon.” Tama terus mengiba.

__ADS_1


Carissa akhirnya tersenyum sambil menangis menguarkan kesedihan yang teramat dalam, “Jadi, ini sebenarnya siapa dirimu, Mas?”


“Tidak, tidak, tidak, Sayang. Kumohon, aku bisa menjelaskannya padamu, Risa. Tolong buka pintu ini.”


“Aku baru ingat sekarang. Baju perempuan itu, adalah baju yang ia kenakan saat datang kekantormu, kan? Dan dasi yang kamu lepaskan sebelum bercinta dengan perempuan itu, adalah dasi yang aku belikan di hari yang sama dengan kedatangannya. Jadi . . .” Carissa mencoba mengatur napasnya di antaranya tangisannya, “Kamu membatalkan pergi bersamaku hari itu karena ingin bertemu dengannya, Mas? Dan hebatnya kalian bercinta dengan penuh semangat, di hari-hari menjelang pernikahan kita.”


“Risa, aku mohon. Aku mohon, Sayang. Berikan padaku kesempatan untuk menjelaskannya padamu.”


“Sayang, aku mohon, berikan padaku waktu untuk menjelaskannya padamu. Aku mohon, Risa. Aku sangat mencintaimu, aku sangat mencintaimu.”

__ADS_1


“Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan, Mas.” Putusnya dengan menatap tajam kepada suaminya, “Ini semua sudah cukup bagiku. Aku rasa sudah tidak bisa mempertahankan rumah tangga yang dilandasi dengan penuh kebohongan ini.”


“Tidak! tidak! tidak, Risa!!!” teriak Tama dengan kuat. “Kamu tidak boleh meninggalkanku, kamu tidak akan ku izinkan untuk pergi dariku, sekarang buka pintu ini, atau aku akan memecahkannya!!!” geramnya dengan memukul-mukul kaca tebal pembatas antara kamar tidur dan juga ruang tamu itu.


Mendengar kegaduhan, Allen, Vian dan juga anak buahnya mendatangi kamar Carissa dan Tama. “Tama, apa yang terjadi?”


“Cepat ambilkan kunci cadangan kamar ini. Aku harus masuk kedalam kamar itu.”


“Jangan Kak Allen. Aku mohon, jangan membiarkannya masuk ke sini.” pinta Carissa dengan melas.

__ADS_1


“Allen!!!” bentak Tama. “Cepat lakukan perintahku sekarang juga!”


__ADS_2