
Carissa tersenyum sinis, lalu ia turun dari ranjang. Saat ingin melangkah pergi, Tama menariknya dan membawanya dalam pelukannya.
“Lepaskan!” pinta Carissa karena kini ia sudah terperangkap oleh Tama yang memeluknya dari belakang.
“Tidak akan, sebelum semuanya jelas, aku tidak akan melepaskanmu.”
“Apa lagi yang kurang jelas?”
“Jangan pernah membandingkan dirimu dengan perempuan lain, Risa. Kamu berbeda, aku sudah menjelaskan semuanya padamu, mereka bukan apa-apa, tapi kamu segalanya bagiku. Aku mencintaimu, dan hanya kamu perempuan yang sangat ku inginkan sampai rasanya mau gila bila kamu jauh dariku. Kamu milikku, Risa. Hatiku sudah menjadi milikmu sepenuhnya.”
Carissa terdiam tanpa ada jawaban, pikiran dan hatinya terus saja bertolak belakang, ia tahu betul jika Tama memang sudah menyerahkan diri seutuhnya pada dirinya, namun otaknya terus saja mengingat pengkhianatan yang telah suaminya itu lakukan.
“Maaf, maafkan aku jika telah berbuat kasar padamu. Hanya saja . . . aku takut, saat hubungan kita seperti ini, aku tadi melihatmu berbicara dan tersenyum dengan laki-laki lain, aku takut, aku sangat ketakutan. Aku takut jika kamu pergi meninggalkanku. Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku.” Ucap Tama penuh sesal, Tama menempelkan kepalanya di punggung Carissa yang terbuka, dari kehangatan tubuh istrinya ia merasakan kenyamanan yang menenangkan jiwa.
“Baiklah, kalau begitu lepaskan aku. Aku ingin mandi.”
“Kamu memaafkanku?”
“Untuk yang satu ini, ya! Aku memaafkanmu.”
Tama tersenyum cerah, walau ia belum mendapatkan maaf atas semua kesalahannya, tak mengapa, yang penting ia tidak menambah kesalahpahaman di antara dirinya dan juga istri yang sangat di cintainya.
__ADS_1
“Terima kasih, Sayang. Terima kasih.” Tama mengatakannya dengan bahagia dengan sambil menciumi punggung mulus Carissa.
“Sudah, lepaskan!” perintah Carissa, karena ia merasakan ada sesuatu yang menegang dibalik kedua pahanya.
“Ba-baiklah. Maaf.” Tama melihat Carissa pergi memasuki kamar mandi dengan tubuh telanjangnya, entah bagaimanapun kondisinya ia selalu merasa kurang jika hanya melakukannya sekali saja. Tama menebalkan muka dan hendak menyusul istrinya masuk kedalam kamar mandi, namun saat ia mencoba ingin masuk, pintu kamar mandi telah terkunci dari dalam. Begitu kecewanya dirinya, namun ia tidak bisa meminta Carissa untuk membuka pintunya karena tahu jika istrinya belum sepenuhnya memaafkannya.
***
“Tama, ada yang mau kulaporkan.”
“Bicaralah.”
“Kita tidak bisa mendapatkan Amelia, karena ternyata dia sudah dikawal oleh beberapa bodyguard, bahkan kami menemukan ada beberapa yang mengawal Amelia secara diam-diam.”
“Bisa jadi kalau Amelia sudah mengetahui mata-mata kita saat masih di Jakarta. Mungkin dia tahu dan bersikap tenang untuk mengelabui anak buah Vian.”
“Dan itu yang membuatnya lengah mengawasi Amelia? Dan tidak tahu jika perempuan gila itu terbang ke Bali mengikuti kakaknya untuk bertemu denganku?”
“Sepertinya memang seperti itu.”
“Siapa anak buah Vian yang ditugaskan untuk mengintai Amelia?”
__ADS_1
“Rangga.”
“Pecat anak itu. Gantikan dengan orang yang lebih kompeten. Awasi terus Amelia, jangan biarkan dia mendekati Risa lagi.”
“Baik.”
“Kak Allen!” sapa Carissa saat ia bertemu dengan Allen di luar.
“Hay, Risa. Mau kemana?” tanya Allen karena Risa kini sudah mengenakan gaun santainya, dan gadis itu juga terlihat baru saja mandi dengan rambut yang belum terlalu kering.
“Kamu bisa masuk angin nanti, masuklah lagi, aku akan mengeringkan rambutmu.”
Carissa menepis tangan Tama yang ingin menyentuh rambutnya, “Tak usah, Mas. Aku akan berjalan-jalan sekitar pantai, rambutku akan kering nanti.”
“Tunggu sebentar ya, aku akan mandi dengan cepat.”
“Tak perlu, aku bisa minta temankan Kak Allen.”
“Tentu saja. Ayo Risa.” Allen setuju karena suasana di antara kedua temannya itu terasa kurang baik.
Tama kali ini dengan terpaksa mengizinkan Allen untuk menemani Carissa berjalan, ia tak bisa memaksa istrinya karena takut jika Carissa akan lebih menjaga jarak darinya.
__ADS_1
Allen berjalan dengan tenang di samping Carissa, terkadang ia mencuri pandang pada gadis yang pernah di sukainya itu.
“Tanyakan saja Kak, apa yang ingin Kak Allen tanyakan, jangan hanya memandangiku dalam diam.” Ucapnya sambil memandang Allen yang salah tingkah karena ketahuan.