
Aku menggigit bibir, tak tahu apa yang harus ku lakukan besok pagi.
Detak jam dinding terlihat begitu cepat merangkak. Suara kumandang adzan subuh terdengar sayub-sayub dari mushollah depan gang masuk rumah. Aku segera bergegas ke pancuran untuk menyucikan diri dari hadast kecil.
Setelah sholat, aku tak lantas beranjak dari atas sajadah. Aku masih ingin berlama-lama mengadu kepada sang pemilik hati. Beberapa kali, ku selipkan tanya dalam doa, teruntuk siapakah sebenarnya aku diciptakan? Siapakah tulang rusukku yang sebenarnya? Kenapa Tuhan seakan mengajakku bercanda sedemikian rupa?
*****
Mentari telah nenyingsing. Tanpa malu dan ragu, ciptaan Tuhan tersebut menggeliat dengan megahnya dari ufuk timur. Pancarannya menyentuh kulit dengan begitu lembut, namun sedikit terasa menyengat.
Mataku, tak henti-hentinya melongok ke arah jam yang bertengger di dinding dapur. Hari ini, aku harus menyelesaikan pekerjaan rumah lebih awal waktu. Bukan tanpa alasan. Sebab, aku memutuskan untuk menemui Pengelana setelah pekerjaan rumahku rampung.
"Mheta... Hari ini kamu temani Ibu ke pasar Mekar," suara ibu terdengar dari ruang makan. Ibu tengah memasukkan beras kedalam wadah rice cooker.
Mataku sedikit melotot, menatap kuwali yang berisi tumisan terong dihadapanku.
"Jam berapa, Bu?" tanyaku sembari mengaduk-gaduk tumis terong.
"Ya... setelah pekerjaan rumah rampung. Soalnya besok 'kan Paman dan Bibimu dari Jogja kesini. Lusa kita ke Jakartanya bareng-bareng." Tukas ibu.
"Bareng sama keluarga Rasyid juga tha?" tanyaku, lalu aku menganjur napas.
"Ya tentu..."
Tuhan... bagaimana aku bisa menemui Pengelana.
"Bu..." aku kembali menganjur napas, mencari alasan untuk tidak ikut ibu ke pasar Mekar. "Gimana kalau Ibu kepasar Mekar di anter Lek Dibyo saja? Soalnya Mheta lagi ada urusan."
"Urusan opo tha Mhet?"
"Urusan dengan teman Mheta dari UGM, Bu. Kebetulan, dia membeli buku-buku karya Mheta. Jadi, mau tidak mau Mheta harus kasihkan langsung sama dia. Sekalian ngasih undangan pernikahan." selorohku dengan tenang.
Sebenarnya aku tidak sedang berbohong. Karena, hari ini teman sekolahku, yang kebetulan kuliah s2 di UGM memesan beberapa buku padaku. Tadinya, kami sudah janjian akan bertemu sekitar jam sebelas siang ini. Tapi, tak mengapa jika aku harus merubah jadwal pertemuanku dengan kawan lamaku tersebut menjadi pukul sembilan pagi ini. Tentunya setelah menemui Pengelana.
*****
"M... aku menunggumu di samping rumah berwarna tosca," pesan Pengelana masuk disertai gambar rumah. Itu adalah rumah Pak RT, kebetulan rumah tersebut tak jauh dari rumahku.
__ADS_1
Aku menggigit ujung kuku jempol. Kini pikiranku mulai bergerilya, bagaimana jika nanti ada tetangga tahu, aku sedang menemui pemuda asing?
"Jangan disitu, kita ketemu di depan masjid Al-Mubarrok saja. Kamu jalan saja kearah pasar Muntilan. Dari ujung jalan, ada sebuah masjid di samping jalan raya, nama masjidnya Al-Mubarrok. Nanti kita ketemu disitu saja." aku mengirim kata-kata tersebut kepada Pengelana.
Pengelana hanya membaca pesan dariku. Lalu, terlihat dia sedang offline.
*****
Sesampai didepan masjid Al-Mubarrok, aku segera membuka helm. menoleh kearah samping kanan dan kiri. Tak kudapati Pengelana. Apa pemuda itu salah tempat? Atau... dia sudah berlalu pergi? Karena aku memang sedikit terlambat menuju tempat ini.
Awalnya, aku berniat menemui Pengelana terlebih dulu, sebelum menemui temanku. Namun, ternyata temanku menelpon ketika aku menuju ke arah masjid. Ia memintaku untuk menemuinya dua puluh menit yang lalu, di jalan KH.Gebang.
"Apa kabarmu?" sebuah suara terdengar dari balik punggungku.
Sejak kapan, Pengelana berdiri mematung dibalakangku? Perasaan dari tadi aku disini melongok kesegala penjuru tidak ada pemuda ini sedang berdiri?
"Hei, hoby melamun kamu ternyata belum hilang, M?" sergah Pengelana, kata-katanya membuatku membungkam mulut dengan kelima jari.
"Ayo ikut aku?" kini Pengelana menarik lenganku.
"Kesana... disini panas, M?" katanya, sembari menunjuk kearah halaman masjid.
"Ah... nggak! Disini saja, lagian kita ketemu juga nggak lama 'kan?" kataku sembari turun dari motor.
"Sebenarnya kamu mau tanya apa? Dan..." aku menganjur napas, bingung harus bertanya seperti apa kepada Pengelana.
Pengelana menyimpulkan senyum, kedua tangannya dilipat didepan dadanya. "Kamu mau menikah dengan Rasyid 'kan?"
Aku tercekat... tak habis pikir, darimana Pengelana tahu tentang Rasyid.
"Kok... ka-mu... ta-hu?" kataku lirih. Dadaku bergetar hebat, ketika Pengelana menyebut nama Rasyid.
Pengelana tak lantas menjawab pertanyaanku. Dia berjalan menjauhiku, akupun segera berlari ke arahnya.
"Mau kemana? Kamu belum menjawab pertanyaan saya.. darimana kamu tahu jika pemuda yang akan menikah denganku bernama Rasyid?" aku mencoba menghentikan langkah Pengelana. Memberondol pertanyaan yang seketika berjubel didalam otakku.
Pengelana menghentikan lanngkahnya. "Itu semua tidak penting. Yang harus kamu tahu, saya tidak bisa mencabuti semua kenangan bersamamu." Pengelana menganjur napas dalam, "kamu tahu, M? Saya mencintaimu, bahkan... Saya teramat sayang kepadamu. Sejauh ini, saya sampai rela mengorbankan semua. Meninggalkan semua demi kamu."
__ADS_1
Kali ini aku benar-benar merasakan kesakitan dalam relung hati terdalam. Bahagia? Sudah tentu aku bahagia, ketika Pengelana mengutarakan isi hatinya langsung dihadapanku. Bersedih? Bahkan aku teramat bersedih, karena sebentar lagi aku akan menikah dengan orang lain.
"M... Saya tahu, jika selama ini sebenarnya kamu menaruh hati kepada saya. Tapi, saya tidak ingin menghancurkan hatimu. Terlebih kamu tahu, jika saya sedang dekat dengan Rosa." suara Pengelana mendadak parau.
Aku menggelengkan kepala kuat-kuat. Menegaskan, jika sebenarnya aku tidak sedang mencintai pemuda tersebut.
"Kamu salah paham? Saya tidak pernah mencintaimu... saya hanya menganggap kamu sebatas teman. Teman baik saya, tidak lebih." Ada yang nyeri di bagian dadaku. Lagi-lagi, aku harus membohongi diriku sendiri. Jika sebenarnya aku mencintai seorang Pengelana.
"Benarkah?" sergah Pengelana. Kali ini, ia memegang jemari tanganku.
Aku berusaha melepas genggamannya. Selama hidupku, aku bahkan tidak pernah sedekat ini dengan lawan jenis, apalagi ini seseorang yang mencintaiku, pun diriku, yang juga mencintainya.
"Pengelana... jika hanya itu yang ingin kamu utarakan, sepetinya kamu hanya membuang waktu saja. Saya masih banyak urusan." tukasku, suaraku mulai bergetar. Ada yang memanas dibagian kedua sisi mata.
"Kamu ingin tahu? Kenapa saya sampai tahu, jika kamu akan menikah dengan Rasyid dalam waktu dekat ini?" Pernyataan Pengelana membuatku tercekat.
"Apa maksud kamu! Kalian saling kenal?" selorohku, kali ini aku benar-benar dihantui rasa penasaran. Sepertinya tidak mungkin dia tidak mengenal Rasyid.
Pengelana tersenyum kecut. "dr.Ayu, saya hanya ingin memastikan jika kamu tidak sedang jatuh hati kepada saya, seperti yang sedang saya alami terhadapmu."
"Hei... sudah berapa kali saya katakan. Saya tidak cinta kepadamu! Apa jurang jelas kata-kata saya, hmm..."
"Sejak kapan seorang penulis tidak tahu, apa yang dialami oleh dirinya sendiri? Sejak kapan kedua mata tidak saling jujur?"
Aku membungkam mulut dengan kedua tangan. Pandanganku memudar, ada yang mengalir hangat di kedua pipiku. Lalu, tanpa sadar aku merasakan sebuah sentuhan tengah membasuh airmata. "Jangan menangis. Aku mencintai kamu Ayu."
Aku berjingkat, suara Pengelana di telingaku membuyarkan segala lamunan.
"Siapa sebenarnya kamu? Kenapa kamu membuat saya menjadi seperti orang gila... Kenapa?" suaraku benar-benar parau. Bibirku gemetar.
Pengelana tidak menjawab pertanyaanku. Setelah membasuh kedua pipiku, dia bergegas menyebrang jalan raya. Untuk terakhir kalinya, aku menoleh ke arah Pengelana. Memastikan jika dia akan kembali dan menjawab semua tanyaku.
Namun, semua akan sia-sia. Pengelana benar-benar telah pergi. Mengendari mobil yang dibawa. Menyusuri jalanan sekitaran arah kota Magelang-Klaten. Dan akhirnya, mobil berwarna merah telah lenyap dari pandanganku.
Aku masih menerka semua tentang Pengelana, darimana dia bisa mengenal Rasyid? Siapa sebenarnya pemuda tersebut?
Dengan berat langkah. Aku mulai mengendarai motor matic ke arah rumah. Deraian airmata tak dapat kubendung lagi. Segala nestapa, asa, sesal, menjadi satu kesatuan yang menyeruak dibagian hati terdalam.
__ADS_1