
Tepat pukul tiga sore, aku dan Rasyid sudah sampai Jakarta. Kota yang begitu terkenal dengan kemacetan, polusi, bahkan terkenal juga dengan berbagai macam ke garangannya.
Kami sempat berbincang sejenak, tentang bagaimana biduk rumah tangga ini kedepannya. Mau terus seperti ini? atau malah sebaliknya.
Kami telah membuat kesepakatan. Jika untuk saat ini, esok sampai tiga bulan kedepan. Adalah waktu yang cukup untuk kami saling instropeksi diri. Mungkin? Tapi entahlah. Yang jelas, untuk kesekian kalinya, Rasyid masih bisa memahamiku.
“Dek… Mas mau keluar dulu, mau jemput kawan.” Rasyid terlihat tengah bersiap-siap, mengenakan kaos berwarna abu-abu, dipadukan dengan celana jeans. Tak lupa, ia memakai jam tangan di pergelangan tangan kanannya. Sesekali terlihat menyapu pantulan tubuhnya di dalam cermin berbentuk oval.
“Heem…” kataku. “Pulang malam?” aku meneruskan kalimat. Itu hanya sekedar basa-basi-busuk. Bagaimanapun juga, kami ini adalah sepasang suami istri, bukan?
“Bentar kok, kawan Mas mau nginep disini. Boleh nggak? Soalnya besok pagi-pagi harus ke bandara sekitar pukul dua dini hari, dia mau pergi ke Jepang. Katanya dapat tugas dari kantor selama delapan bulan disana.” Rasyid menjelaskan. “Jadi, daripada dia telat. Gimana kalau Mas ajak tidur dirumah? Sekalian nanti kita anter dia.” lanjut Rasyid, terlihat kedua tangannya sedang fokus mengikat tali sepatu.
Aku hanya menautkan kedua alis, sembari menganggukkan kepala. “Boleh, kenapa nggak…”
******
‘Tak ada musim yang salah, barangkali kamu yang keliru memahami perasaannya.’
Aku mengunggah sebuah kalimat pendek yang begitu sarat akan makna ke beranda fb. Lama sekali rasanya aku tidak berselancar di dunia maya tersebut. Begitu banyak notifikasi yang masuk. Terlebih dari grup Literasi minggu.
Lalu, aku mulai menggulirkan mouse laptop kebawah.
Ada sebuah status yang membuat bibirku ternganga.
‘Kata Stephen King, dalam bukunya On Writing, novel sejatinya adalah surat-surat panjang yang ditujukan untuk seseorang yang entah di mana. Bagaimana perasaannya saat membaca bagian yang ini, atau bagian yang itu? Saya 1000 persen setuju. Itulah kenapa saya menulis
cerita ini.’
Bukan hanya sebuah tulisan, dia menyelipakan sebuah gambar tumpukan kulit kwaci beserta cangkir bekas kopi. Aku bisa mengatakan itu adalah bekas kopi. Sebab, dia pernah mengirim gambar tersebut, ketika musim tengah deras-derasnya.
Lalu, aku menggulirkan mouse lebih ke bawah lagi. Dia mengunggah sebuah botol bekas mizone, empat hari yang lalu.
‘karena, seperti kata Pablo Naruda, saya begini sebab tak tahu cara lain untuk mencinta. Apakah itu tragis?’
Lalu, yang lebih mengejutkan lagi, dia menulis sebuah status sekitar satu hari yang lalu. Bukan hanya tulisan. Ada sebuah buku bersampul putih kombinasi hitam. Sampul yang terlihat cantik bagiku. Karena simple dan terlihat elegan. Namun, bukan cover tersebut yang membuat
kedua mataku mengembun. Terlebih pada sebuah judul bukunya.
‘Surat panjang untuk, M.’
Dibawah gambar cover tersebut, ada sebuah tulisan yang mengisyaratkan, jika isi dari buku itu, tak lain adalah tentang seseorang.
‘Surat panjang untuk M, yang saya tak yakin apakah dia akan membacanya. Namun, saya akan tetap menuliskannya. Jika takdir tak mempertemukan tulisan ini dengannya. Tidak masalah, saya menulis untuk diri saya sendiri.’
Pengelana, adalah sosok laki-laki yang hingga saat ini selalu membuat otakku menggila. Bahkan, dia mampu menghipnotisku ketika aku sedang kacau.
Pria penuh dengan teka-teki tersebut, kini tengah membuat sebuah karya berbentuk novel yang ia tulis untukku. Apakah aku terlalu percaya diri soal ini? Mungkin saja tidak, tapi bisa jadi iya. Sebab, aku tidak tahu, apakah kawannya yang ber inisial ‘M’ itu hanya aku? Apakah dia juga sudah terbiasa memberi sebotol mizone kepada setiap perempuan yang di temuinya di stasiun? Entahlah.
Berkali-kali aku membaca status Pengelana. Mencerna kata-demi kata. Aku ber inisiatif untuk mengiriminya pesan lewat wa. Tentu saja, itu hanya niatan yang tidak mungkin ku lakukan. Terlebih aku mengingat tentang statusku ini.
__ADS_1
Belum lagi, ternyata Pengelana adalah kawan dari suamiku. Entah sedekat apa mereka berteman, yang jelas kawan tetaplah kawan ‘kan? Aku tak ingin menjadi api diatara pertemanan meraka.
*****
“Assalamualaikum, Dek!”
Terdengar Rasyid mengetuk pintu, ketika aku masih pada posisi rebahan diatas kasur, sembari memikirkan apa yang telah Pengelana unggah di akun media sosialnya.
“Ayo masuk…”
Belum sempat aku keluar kamar untuk membukakan pintu, terdengar dari balik pintu kamar. Rasyid telah mempersilahkan temannya masuk.
Oh Tuhan…
Duh Gusti….
Ya Allah…
Pengelana?
Lututku mendadak gemetar. Sosok itu benar-benar nyata. Tersenyum. Dan seketika aku membeku.
Sembilan hari. Tidak, aku yakin lebih dari itu sejak terakhir kali aku melihatnya menyanyikan lagu Dealova diacara pernikahanku dengan Rasyid. Dan sejak dari itu pula, aku tidak pernah menanyakan kabarnya lagi. Meski kadang, Pengelana mengirimiku pesan singkat lewat wa.
Baiklah, aku harus bersikap biasa saja. berpura-pura dihadapan Rasyid jika aku tidak pernah mengenal kawannya tersebut.
“Kenalin, ini Zaki, sahabat Mas. Masih inget kan? Beberapa hari yang lalu, dia nyanyi lagu Dealova untuk kita?” yang jelas, suara Rasyid terdengar begitu antusias ketika memperkenalakan sabatnya tersebut padaku.
“A-ayu…” sebisa mungkin aku bersikap tenang dan santai, namun tetap saja mulut ini rasanya di sumpal dengan batu koral berukuran raksaksa.
Aku segera meninggalkan mereka berdua untuk berbincang diruang tamu. Kedua telapak tanganku mulai mendingin, namun berkeringat. Kedua lututku benar-benar gemetar. Aku bingung harus bersikap seperti apa. Terlebih, Pengelana akan tidur disini malam ini.
“Dek!” suara Rasyid mengagetkanku yang tengah mengaduk kopi untuk ku suguhkan kepada Pengelana.
Aku menjawab panggilan Rasyid, namun enggan keluar dapur, jika memang penting. Rasyid pasti akan menemuiku ‘kan?
“Zaki nggak mau nginap disini, dia mau nginap di rumah Baginta aja katanya.” Terang Rasyid ketika menemuiku di dapur.
Aku hanya mengulas senyum datar. Namun, tentu saja dalam hati berucap syukur. Sebab, aku tidak akan melihat Pengelana tidur
dirumah ini.
Ada pertanyaan yang makin berjubel dalam otakku. Kenapa Pengelana bisa kenal dengan Barus juga? Bukankah Barus adalah letting Rasyid? Setahuku, Pengelana bukan Tentara? Dia bekerja di sebuah pabrik mesin di Kota Bekasi. Lalu, kenapa dia bisa kenal Rasyid dan Barus?
Aku pasti akan menanyakan prihal ini semua kepada Rasyid, untuk menghilangkan sedikit rasa penasaran, tentunya.
*****
“Mas jadi nganterin Zaki?” selorohku kepada Rasyid, ketika kami akan beranjak tidur.
__ADS_1
“Iya, nanti bangunin Mas jam satu ya? Takutnya Mas nggak bangun. Kamu mau ikut?" Tukasnya.
Spontan aku menggelengkan kepala.
“Mas…”
“Iya, Dek.”
“Boleh Ayu nanya sesuatu?”
Rasyid terlihat menautkan kedua alisnya, “tentu saja boleh. Memang sejak kapan Mas tidak memperbolehkan istri shalihah ini untuk tidak bertanya?” sindiran halus, namun langsung tepat sasaran. Harusnya
dia tidak usah kasih embel-embel kata ‘shalihah’.
Aku menganjur napas panjang, “apa kalian kenal sejak lama?” kedua mataku menelisik ke arah Rasyid yang tengah menyenderkan punggungnya pada headboard.
“Kenal siapa? Zaki maksud kamu?”
Aku mengangguk pelan.
“Sejak kami daftar Akmil bareng-bareng. Tapi, Zaki kabur pas MK.”
“Kabur?” aku kembali menautkan kedua alis.
“Iya. Katanya, nggak mau jadi Tentara, pengennya jadi pengusaha. Eh, ternyata dia kerja di pabrik. Tapi, Mas bangga sama dia. Karirnya melesat. Bahkan, saat ini dia di kirim ke Jepang dari perusahannya. Kenapa, Dek? Kok tiba-tiba kamu tanya tentang Zaki?”
Aku terengah, “nggak apa-apa. Kayanya kalian akrab banget. Jadi, Ayu pengen tahu aja..”
Jadi, dia mantan seoarang siswa Akmil? Untuk perihal ini, dulu Pengelana enggan cerita padaku.
“Dek…” suara Rasyid membuyarkan lamunanku.
“Iya, Mas… ada apa?”
“Maafin Mas ya?”
Aku mengerutkan dahi, menautkan kembali kedua alis. “Maaf untuk apa?”
“Maaf karena Mas belum bisa membahagiakan kamu.” Tukas Rasyid, suaranya terdengar parau.
Aku mengulas senyum, “yang harusnya minta maaf tuh Ayu, bukan Mas Rasyid. Ayu belum bisa memenuhi keinginan Mas Rasyid. Betapa dosanya Ayu. Belum bisa menjadi istri yang sempurna."
Aku menenggelamkan wajah diantara rambut yang terurai.
Rasyid meraih tubuhku, memeluk, lalu mengecup keningku.
Ada pelajaran yang begitu berharga dari seoarang Rasyid. Sejak kami menikah hingga saat ini, sebelum kami memasuki alam bawah sadar. Dia selalu membacakan doa untukku, setelah itu dia akan mengecup keningku sebanyak tiga kali. Tidak hanya itu, dia selalu meminta maaf
ketika kami benar-benar akan memejamkan mata.
__ADS_1
Jika aku menanyakan kenapa dia selalu melakukan semua itu? Jawaban Rasyid tetap sama. Jika dirinya tidak hanya ingin sedunia saja denganku. Namun, lebih dari itu. Dia menginginkan kelak kami akan sesurga.
Terdengar romantis ‘kan? Bagiku itu lebih dari kata romantis. Tapi entahlah. Suamiku memang begitu adanya.