PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
PERCAKAPAN DENGAN DAFFA


__ADS_3

“Makasih untuk semuanya.” Kataku.


Aku menyusul Daffa yang duduk di selasar. Hari ini begitu padat. Aku tegang menunggui ibu menjalani CT-scan. Khawatir jika keadaan ibu tidak baik-baik saja. Karena beberapa hari ini ibu memang belum ada kemajuan yang siknifikan.


Dokter yang menangi ibu di rumah sakit ternyata adalah kakak tingkatku waktu kuliah dulu. Kami sering mengobrol perihal kesehatan dan kemajuan ibu. Untuk hari ini, dokter menyarankan agar ibu CT-scan karena takut ada sesuatu yang terjadi dikepala ibu. Sebab, selama dua hari kemarin, ibu sempat mengeluh kepalanya sakit dan berputar-putar.


Aku membaca apa saja yang bisa kubaca. Dari al Fatihah, al Ikhlas, al Falaw, an Nas. Benar-benar kuhayai artinya. Sambung-menyambung kulafalkan salawat dan istigfar. Aku berharap hasilnya baik-baik saja. Baik-baik saja.


Aku membenamkan wajah pada kedua telapak tangan. Kadang membungkam mulut. Sesekali menautkan sepuluh jari dan menyangga dagu. Sementara Daffa hanya diam. Duduk tak jauh dariku. Entah diamnya karena tak mau menggangguku, atau sengaja tidak mau bicara denganku.


Jadi, begitu semuanya selesai, dan ahsilnya menunjukkan jika ibu baik-baik saja. Namun, memang masih perlu istirahat panjang untuk memulihkan kesehatannya. Seketika perutku merasa lapar. Aku ingat bahwa sejak pagi belum makan apa-apa.


Dan sewaktu ibu tidur, aku turun kebawah, berjalan kebagian depan rumah sakit. Ke jajaran warung makan di seberang jalan. Memebeli makan untukku, Daffa dan Rasyid.


Rasyid awalnya menolak, dengan alasan sudah kenyang dan bisa cari makan sendiri kalau lapar lagi. Tetapi aku tahu, seharian dia pasti tidak bisa keluar karena tidak ada yang menggantikan jaga ibunya. Jadi, kutaruh saja


di nakas.


“Maaf jadi merepotkanmu.” Kataku sambil menaruh sebungkus nasi dan sendok didepan Daffa. “Menyita waktumu juga.” Aku duduk membuka makananku.


Daffa tidak menjawab. Tetapi dia ikut membuka makanannya.


“Sebenarnya kalau kamu—“


“Makan dulu.”


Aku menatap Daffa ketika dia memotong kalimatku. Dia mulai menyuap. Kemudian kami sibuk dengan makanan masing-masing. Sedang disebelah


terdengar Rasyid sedang menerima telepon dari seseorang. Nadanya lirih. Namun, dari tata bahasanya, sepertinya dia sedang mengobrol dengan seorang yang pangkatnya lebih tinggi. Entah karena aku sedang lapar, atau karena hasil lab ibu atau karena ini nasi yang baru matang. Perasaanku jadi lebih baik.


Daffa menghabiskan makanannya lebih dulu. Dia keluar kamar, dan tak lama kemudian, dia masuk membawa tiga botol minum, untukku, dia dan Rasyid.


“Makasih.” Aku tersenyum, berusaha mencairkan suasana.


“Aku punya ide.” Kata Daffa.


“Maksdumu?”


“Bibi.”


“Kenapa?”


“Kupikir tidak mungkin terus diatas ranjang? Bagaimana kalau kita ajak keliling taman di sekitaran rumah sakit ini, agar Bibi lebih fress dan cepat pulih.”


Aku diam. Selama ini, sejak kami kecil, dia selalu mengalah oleh pendapatku. Mengiyakan apa yang aku iyakan, meski pada awalnya dia bilang tidak. Tetapi, perihal itu, rupanya memang sudah berubah sejak komunikasi tak lagi semudah dulu.


Jadi, kali ini aku yang mencoba mendengarnya.


Setelah ibu bangun. Daffa bicara pada ibu, kalau dia akan mengajak ibu jalan-jalan keliling taman rumah sakit dengan kursi roda.


“Bagaimana, Bi?”


“Boleh, Bibi juga sudah bosan didalam kamar terus. Bibi


ingin segera pulang, Le.”


Pagi hari, Daffa mengajak ibu jalan-jalan di area rumah sakit dengan kursi roda. Sementara perawat tidak berkomentar apapun perihal Daffa dan ibu. Setelah tiga puluh menit, Daffa kembali kekamar dengan ibu dan segera merebahkan ibu ketempat semula.


Daffa masih tak banya bicara. Sering kali dia duduk di balkon dengan headset terpasang di kedua telinganya. Aku paham, itu cara seseorang tidak ingin bicara. Sementara Rasyid lebih banyak duduk disamping ibunya. Dia ingin meminjam buku yang ku bawa.


“Mbak saya boleh pinjam ini?”


“Iya, Mas. Pinjam saja.”


“Mbak suka baca novel?”


“Suka bikin juga.”


“Ooh, novelis?”

__ADS_1


“Bisa dibilang begitu.”


“Kalau saya suka bacanya, itupun kalau pas tidak sibuk.”


Aku tersenyum “Oh.”


“Tapi nanti siang ini kami pulang, saya nggak jadi pinjam. Takut tidak keburu bacanya.”


“Kamu mau? Bawa saja. Kebetulan itu novel saya yang baru dicetak beberapa waktu lalu.”


“Oh ya, saya bahkan tidak tahu kalau ini novel karya Mbak. Berapa harganya?”


“Bawa saja, gratis untuk kamu.” Kataku sambil tersenyum.


“Waah, terimakasih mbak.”


Rasyid keluar kamar dengan membawa buku yang kuberikan padanya. Aku sendiri, mencoba mengetik apapun yang dapat kutulis. Cerpen. Artikel. Puisi. Aku harus mengirim banyak tulisan ke media. Dengan kondisi ibu yang seperti ini, aku harus memikirkan bagaimana kedepan.


“Mbak..”


Aku berpaling dari layar.


“Kami mau pamit,” kata Rasyid.


“Lho, katanya siang?”


“Iya, nggak jadi. Karena saya juga harus segera kembali ke Jakarta. Ayah saya juga sibuk. Jadi saya bawa ibu pulang sekarang.”


“Oh..” aku berdiri.


“Kami minta maaf jika selama ini banyak merepotkan dan membuat kurang nyaman. Terimakasih banyak,” ucap Rasyid. “Ibu, semoga segera sembuh, sehat kembali.” Dia mendekat dan menyalami ibu.


Aku kesebelah menemani ibu Rasyid. “Semoga sehat-sehat ya, Bu.”


“Makasih ya si…lha siapa namamu, sampai lupa tanya?”


“Mheta… eh, Ayu.”


“Nama saya Ayuandira, tapi lebih dikenal dengan sebutan Mheta, Bu.” Ucapku sambil tersenyum.


“Oh.. Ayuandira, ya. Ayuandira.”


Rasyid juga pamit kepada Daffa. Daffa masuk dan menemui ibu Rasyid. Kemudian datang perawat yang membawa kursi roda.


Aku mengantar hingga kedepan lift khusus pasien.


“Tunggu! Sik, sik!” Ibu Rasyid menepuk-nepuk kursi roda. “Rasyid, kamu sudah minta nomor hpnya?”


“Ibu… sudah tidak usah,” kata Rasyid sambil berjongkok di samping ibunya.


“Ah! Ayu,” ibu itu memanggilku, perawat memutar kursi roda. “Minta nomor hp nih si Rasyid.”


Aku tidak tahu harus bagaimana. Semua orang tiba-tiba diam. Aku memandang ibu Rasyid, Rasyid dan Daffa.


“Maafkan Ibu saya—“


“Ayo tulislah nomornya!” perintah ibu Rasyid.


Tenggorokanku mendadak kering. Oh Tuhan. Aku tidak semudah uni memberi nomor pada orang asing. Baikah, kami memang tetangga kamar. Tetapi bukan berarti semudah itu, bukan?


“Berapa nomornya?” tanya ibu Rasyid.


“Mmm…” aduh bagaimana ini?


“Ibu, kita turun saja dulu, Ayah pasti sudah menunggu


dibawaha.” Kata Rasyid.


“Lha makanya segera nomornya berapa? Berapa?”

__ADS_1


Akupun segera menyebut dua belas angka dengan hati-hati. Nomor yang kusebutkan barusan adalah nomor ibu. Aku tidak punya pillihan lain.


****


“Astaga ibu itu…” kataku setelah mereka pergi. Aku duduk dan bersandar di pagar pembatas. “Gimana menurutmu?”


Rasyid?” Daffa kembali bertanya.


“Kok Rasyid? Ya ibu itu tadi.”


“Apanya yang gimana.”


“Astaga Daffa. Kita bisa nggak sih bicara normal?”


Tenggorokanku sekonyong-konyong terasa sakit. Aku melihat Daffa benar-benar menjelma orang asing.


“Aku minta maaf, sudah banyak merepotkan.” Aku menelan ludah. “aku nggak apa-apa kok disini sendiri.” Seketika mataku memanas. “Ya memang kamu banyak membantu. Aku mengucapkan terimakasih untuk semua itu.” Aku menarik napas panjang. “Aku banyak hutang kebaikan padamu, pada keluargamu… jadi, kalau sekarang kamu mau pulang, nggak apa-apa. Lebih baik sendiri daripada ada teman tapi seperti bersama musuh.” Aku merasa ada yang mengambang dikedua mataku.


“Kamu merasa kita seperti musuh?”


Pertanyaan macam apa itu? Pertanyaan yang sangat menyebalkan, bukan?


“Aku merasa kita seperti orang asing.”


“Sebenarnya aku—“


“Mheta..” panggilan ibu memotong kalimat Daffa. Percakapan kami terhenti.


Ibu ingin kekamar mandi. Jadi aku segera memapahnya


pelan-pelan. Daffa menyusul dan berjaga-jaga di samping ibu.


Ibu melangkah sangat pelan.


Sorenya, dokter memanggilku keruangannya. Ada kabar baik untuk ibu, bahwa dia bisa pulang besok pagi. Aku berjalan ke kamar dengan wajah sumringah. Ibu terlihat cerah dengan kabar itu. Aku memeluknya erat. Kemudian aku juga mengabari PakLek yang sedang berjaga dirumah.


Aku segera mencari Daffa. Dia duduk di ujung lorong. Namun, seketika langkahku terhenti. Daffa sedang bicara di telepon. Jadi, kurasa bukan waktu yang tepat untuk mendekat. Daffa menoleh ke arahku. Aku tidak bicara apa-apa. Dan segera berbalik.


Saat kembali kekamar, ibu mengatakan ponselku berbunyi.


Pesan dari Pengelana. Dia mengirim foto lampu tanpa


dijelaskan pun, aku tahu dia sedang memancing. Hampir seminggu sekali dia pergi memancing, kadang di pantai, kadang di dermaga. Pernah juga berlayar ke tengah


laut.


Baginya, memancing bukan tentang seberapa banyak hasil yang didapat. Tetapi dia menikmati prosesnya. Suara ombak. Lengkung langit luas. Aroma alam.


Kata Pengelana itu semacam, sesuatu paket ketenangan dan kedamaian yang layak disyukuri.


Lalu, Pengelana mengirim video perjalanan pulang. Aku juga mengatakan padanya, kalau besk insya allah ibu boleh pulang. Dia ikut bersyukur dan mengatakan, “semangat.”


Dia kembali offline. Aku memutar video yang dikirimnya. Saat itu Daffa masuk.


“Aku tidur diluar.”


“Kenapa?”


“Nggak apa-apa.”


Aku mengambil selimut tebal yang kemarin dibawa bibi.


Merogoh botol lotion anti nyamuk dari saku ransel. Kemudian mengantarkan pada Daffa.


“Aku nggak dingin.” Kata Daffa.


“Sekarang memang nggak. Tapi selepas tengah malam pasti dingin.”


Daffa meraih botol lotion dan membuka tutupnya. Tanpa bicara apa-apa. Aku balik dan masuk kamar.

__ADS_1


“Mheta…”


Daffa memanggilku, saat aku baru akan menutup pintu kamar.


__ADS_2