
“Ada apa, Mas? Apa ada masalah?”
“Tidak, Sayang. Semuanya baik-baik saja.”
“Apa kamu yakin? Wajahmu terlihat pucat setelah rapat pagi tadi.”
“Semuanya baik-baik saja, Sayang.” Tama tidak bisa memberitahu istrinya jika Amelia telah di nyatakan menghilang sejak satu bulan yang lalu. Ia tak mau membuat istrinya khawatir. “Semuanya sudah siap? Apa masih ada yang bisa aku bantu?”
“Semuanya sudah aku kemas, barang-barang kita juga sebentar lagi akan di antar ke lobi. Oh, iya Mas. Kita nanti akan berjalan sedikit jauh dari rute kemarin, aku ingin mengunjungi sebuah rest area.”
“Kita tidak punya cukup waktu, Sayang.”
“Masih satu arah kok, Mas. Hanya selisih sekitar 15 menitan.”
“Dimana itu?”
Carissa menunjukkan gambar yang ia peroleh dari internet, ia tak bertanya lebih lanjut karena Tama berfikir jika Carissa menemukannya sendiri saat berselancar di dunia maya. “Baiklah, kita bisa melihat-lihat sebentar di sana. Maaf, ya. Kita tidak bisa berlama-lama di sini, pekerjaanku cukup banyak di kantor pusat. Aku janji, nanti setelah anak kita lahir dan dia sudah bisa bepergian menggunakan pesawat, aku akan mengambil cuti dan kita datang ke sini lagi untuk berlibur.” Tama memeluk istrinya sambil membuat janji.
__ADS_1
“Aku akan menantikannya, Mas.”
“Aku pasti akan menepati janjiku. Jadi sekarang, ayo kita bersiap dan turun ke lobi setelah barang kita di angkut ke bawah.” Anggukan dan senyuman menjadi jawaban Carissa untuk Tama.
Tama dan Carissa menaiki mobil terpisah dengan lainnya, sebenarnya Allen harusnya bersama dengan mobil mereka, tapi ia kini berada di mobil paling belakang bersama dengan sepupu Tama. Bersama dengan sopir hotel, hanya Carissa dan Tama di dalam mobil barisan awal. Mega, Bu Yanti dan nenek Lita berada di satu mobil dengan sopir yang di sediakan hotel juga. Sedangkan Vian dan anak buahnya mengikuti dari belakang, di barisan paling belakang setelah mobil Allen dan juga Lira, sepupu Tama yang juga akan kembali ke Jakarta.
Tama mengencangkan sabuk pengamannya dan juga istrinya, “Semuanya sudah siap, Pak. Kita bisa jalan sekarang.” Perintah Tama. sopir itu tidak menjawab, dia hanya mengangguk sebagai pertanda mengerti.
Sopir ini terlihat cukup aneh di mata Tama, tidak pernah berbicara dan postur tubuhnya cenderung kecil untuk seorang pria. Bahkan di cuaca yang cukup panas ini, sopir itu menggunakan jaket tebal lengkap dengan topi dan masker hitamnya.
“Tidak apa-apa, Sayang. Kamu bisa beristirahat sebentar, aku akan membangunkanmu saat kita tiba di rest area.”
“Perjalanannya tidak selama itu sehingga membuatku harus tertidur, Mas.”
“Kamu bisa kelelahan nanti.” Tama menyandarkan kepala Carissa ke pundaknya dan merangkulnya dengan mesra. Ia pun ikut menyandarkan kepalanya dan mencoba memejamkan mata, mencari ketenangan sesaat karena masalah yang baru saja di ketahuinya.
Tama tersentak saat tiba-tiba saja handphonenya berdering, ada nama Allen tertera di atasnya. Carissa ikut menegakkan duduknya agar tidak mengganggu Tama.
__ADS_1
“Ya, Allen?”
“Apa yang membuat kalian begitu terburu-buru? Mobilmu melaju sangat cepat!”
“Apa?” Tama memperhatikan laju mobil yang ia tumpangi, dan benar saja saat ia melihat spedometer, mobil itu melaju di atas kecepatan 150km/jam.
“Pak, bisa pelankan mobilnya?” pinta Tama.
“Maaf, Tama. Tapi kali ini kalian harus m*ti bersamaku.”
Tama dan juga Carissa terkejut bukan main saat menyadari jika sopir yang membawa mobil mereka adalah Amelia.
“Tama! Apa yang terjadi?”
“Amelia ada di sini, Len. Dia mengendarai mobil yang ku tumpangi.”
“Apa! Gila! Didepan sana ada tikungan tajam. Di rest area yang akan kita tuju, ada tikungan di sana Tama.” Allen terlihat panik.
__ADS_1