
Ini adalah kali keduaku menapakkan kaki di Ibu Kota, setelah sebelumnya aku pernah ke Ibu Kota dalam rangka bedah buku yang sempat best seller, pada masanya.
Pengelana terlihat turun terlebih dulu. Dia tersenyum padaku, seraya meneguk air mineral dalam botol kemasan.
Aku terpaku, memandang Pengelana seakan menemukan jati diriku yang lain. Alisku bertautan. Ada sesuatu yang berbeda dengan Pengelana. Aku merasakannya. Namun, entahlah apa yang berbeda darinya.
Aku segera menghampirinya yang duduk disebuah bangku, “kamu kearah mana?” tanyaku.
“Kamu sendiri kearah mana?” dia balik bertanya.
“Jakarta Timur.” Jawabku.
“Naik taksi atau dijemput?”
Aku diam tidak menjawab.
Beberapa saat kami saling diam, duduk di sebuah bangku sembari menikmati angin malam.
“sampai kapan kamu akan melarikan diri?” tiba-tiba Pengelana memecah keheningan diantara kami berdua.
Aku menautkan kedua alis. Memikirkan kalimat apa yang pas untuk menjawab pertanyaan Pengelana. “Siapa yang melarikan diri?” aku menganjur napas, “saya ingin menemui seseorang.” Jawabku dengan pandangan menerawang
kedepan.
“Seseorang? Kenapa kamu terlihat sedang tidak baik-baik saja? Harusnya kamu bahagia jika memang akan menemui seseorang.”
Sepintas aku memandang kearah Pengelana, “setidaknya saya bukan pecundang. Yang bisanya hanya lari dari masalah.” Aku tersenyum pias. Sudah lama aku ingin menyindir Pengelana, perihal hal ini.
“Kamu menyindir saya?” katanya sembari menatap botol yang di pegang.
“Syukurlah jika kamu merasa tersindir.”
Suasa kembali hening. Aku memainkan gantungan ransel.Memutar-mutar gantungan berbentuk bola basket tersebut.sedang Pengelana, dia sibuk memainkan korek api.
“Apa kamu yakin?” pertanyaan Pengelana membuyarkan lamunanku.
“Maksudmu?” aku menoleh kearahnya yang masih asik memainkan korek api. Aku yakin dia sedang bertanya padaku. Meskipun kami tidak saling bertatapan.
“Jika kamu yakin, melangkahlah. Namun, jika merasa kamu tidak akan baik-baik saja. Tidak ada salahnya kalau kamu melarikan diri.”
Aku tercekat. Mencerna kata-kata Pengelana. Belum sempat aku mengatakan sesuatu. Ponsel yang kutaruh didalam ransel bergetar.
Sebuah panggilan atas nama Rasyid masuk.
“Ada apa?” tanyaku setelah salamku dibalas olehnya.
Rasyid bertanya padaku. Apakah aku sudah sampai di stasiun Gambir? Aku mengatakan jika aku sudah sampai sekitar setengah jam yang lalu.
Lalu, Rasyid bilang padaku. Jika aku ditunggu di pintu keluar oleh junior dan istrinya. Rasyid sempat memberikan nomorku kepada istri juniornya. Begitupun Rasid, dia memberi nomor istri juniornya padaku. Setelah percakapan singkat kami selesai. Aku buru-buru mematikan panggilan. Lalu beranjak dari duduk.
“Maaf, saya harus segera pergi.” Kataku kepada Pengelana.
“Sudah dijemput?” tanyanya.
Aku mengangguk. Meraih ransel dan segera kusampirkan dipunggung.
“Mheta…” panggil Pengalana.
Aku menoleh, “ada apa?”
“Apa kamu tidak ingin bertanya sesuatu kepada saya?”
Aku melotot, bingung dengan kalimat Pengelana barusan. “Maksud kamu?” aku manautkan alis.
Pengelana hanya tersenyum, sembari memberikan sebuah kotak kecil berwarna biru kepadaku. “apa ini?”
“Untukmu..”
Aku juga tahu jika kotak kecil itu untukku. Jika bukan, mana mungkin Pengelana memberikannya untukku, kan? Namun, yang menjadi pertanyaanku sebenarnya bukan masalah kotaknya. Terlebih untuk apa dia memberi kotak kecil itu untukku.
__ADS_1
“Saya paham ini untuk saya. Tapi? Maksud saya ini untuk apa?” aku bertanya.
“Sudahlah, itu untukmu. Tidak ada maksud apa-apa. Pergilah. Kasihan, pasti seseorang sedang menunggumu diluar.”
Aku tersenyum. “yasudah, terimakasih.”aku beranjak dari hadapan Pengelana.
*****
Sesampai diluar pintu pandanganku mengedar kesegala penjuru. Mencari seseorang yang sebelumnya telah mengirim pesan kepadaku.
“Jilbab warna biru motif bunga. Berdiri disebelah mobil berwarna silver.” Aku membaca sekali lagi pesan dari seseorang yang ditugaskan untuk menjemputku.
“Mbak Ayu…” terdengar suara berteriak memanggilku. Aku segera mengedar pandang kearaah datangnya suara tersebut.
Aku menegaskan kembali, jika perempuan yang tengah berdiri tak jauh dari tempatku saat ini, adalah istri dari junior Rasyid yang disuruh untuk menjemputku.
“Mbak Desi, bukan?” tanyaku sembari tersenyum padanya.
Perempuan cantik itu tersenyum, lalu menjulurkan tangannya, untuk bersalaman denganku. “Iya Mbak. Mbak calon istri dari Om Rasyid, kan?” katanya.
Aku hanya tersenyum. Terlihat seseorang keluar dari mobil silver tersebut. Seorang pemuda yang tak lain suami dari Desi.
Disepanjang perjalanan kami menuju perumahan dinas. Sepasang sejoli itu terus saja memberondol pertanyaan yang menyangkut hubunganku dengan Rasyid.
Aku hanya tersenyum, enggan menjawab pertanyaan mereka. Aku takut salah jawab.
*****
“Mbak Ayu, ini rumah Bang Rasyid. Tadi Bang Rasyid telpon saya. Katanya suruh antar Mbak Ayu sampai kerumah. Ini kuncinya.” Suami Desi menjelaskan dan memberikan sebuah kunci kepadaku.
“Eh…” aku bingung harus bilang apa kepada kedua sejoli itu. “Dia nggak pulang, kan?” aku melihat mereka berdua secara bergantian.
“Tadi telepon. Katanya besok pukul sepuluh pagi, baru dapat surat ijin pesiar. Oh ya, rumah kami disitu.” Katanya sambil menunjuk sebuah rumah yang berjejer dengan kediaman Rasyid. Bentuk dan cat yang sama persis. “Jadi, kalau butuh apa-apa, Mbak tinggal kerumah saja. Kalau nggak bisa wa istri saya.”
Aku tersenyum dan mengangguk.
Baru saja aku melenggang masuk rumah yang begitu sederhana itu, ponselku kembali berpedar.
Rasyid mengirimiku pesan.
“Sudah sampai, ya? Selamat beristirahat.”
“Ya, terimakasih.”
“Kamu sudah makan?” pesan Rasyid kembali masuk. Rasanya malas sekali membalas pesan tersebut. Namu, aku juga harus sadar diri. Jika saat ini aku sedang menginjakkan kaki dirumah pemuda asing itu.
“Sudah.” Jawabku singkat.
“Oh ya, karena besok saya sampai rumah sekitar jam satu siang. Jadi, saya tunggu kamu di kantor saja. nanti kita sama-sama berangkat kerumah Komandan.”
Aku menautkan kedua alis. “untuk apa? Kamu menyuruh saya kesini sebenarnya untuk apa?” aku mengetik dengan cemberut. Ada rasa aneh yang menghampiri perasaanku.
“Untuk menghadap Komandan.”
Pesan Rasyid tak kujawab lagi. Kini aku mulai melangkah menuju sabuah kamar. Kamar yang begitu sederhana. Hanya terdapat sebuah kasur ukuran sedang, lemari kayu besar dan sebuah tv bertengger diatas meja. Ada sebuah
foto keluarga, menempel di dinding kamar. Ini kali pertamaku melihat foto pemuda asing itu lengkap beserta keluarga besarnya.
Aku menelan ludah, tenggorokanku seketika mengering. Melihat foto keluarga tersebut. Membuatku bisa menebak, jika sebenarnya Rasyid bukan dari keluarga biasa. Ayahnya seorang jendaral bintang satu. Sebelah kanan ayah
Rasyid duduk Ibu yang pernah satu kamar dengan ibuku tempo waktu dirumah sakit. Lalu, dibelakang kedua orang tua itu. Berdiri tiga orang, satu perempuan dan dua laki-laki.
Satu diantara mereka adalah Rasyid. Terlihat dari pangkatnya, Rasyid sepertinya anak bungsu. Karena pangkat Rasyid masih dibawah pangkat foto pria disebalahnya. Sedangkan perempuan satu-satunya setelah ibuRasyid, dia yang pernah diceritakan oleh ibu Rasyid padaku. Dia adalah kakak Rasyid yang sekarang ber profesi sebagai dokter anastesi di daerah Jogja.
“Matilah aku…”
*****
Pagi telah menyapa untuk melakukan tugasnya. Tapi suasana penat masih menyelimutiku yang memang belum memejamkan mata dari semalam. Aku merasa terasing ditempat ini. ini bukan temaptku.
__ADS_1
Aku meraih ponsel yang kuletakkan disamping tv di dalam kamar. Lalu, mencari nama ibu untuk segera ku telpon.
“Bu, maaf semalam Mheta nggak ngabarin, soalnya takut ganggu istirahat Ibu.” Aku berkata setelah bengucap salam dari ujung telpon kepada ibu.
Lalu ibu bertanya kepadaku, semalam dijemput siapa dan sekarang ada dimana. Aku menjawab, “Mheta sampai sekitar jam satu malam,” aku diam sejenak, “terus… di jemput sama teman Rasyid dan istrinya. Dan Mheta saat
ini sedang dirumah Rasyid. Semalam dia bilang akan pulang sekitar jam satu siang ini. dia meminta Mheta untuk menemuinya di kantor, katanya.” Aku menerangkan kepada Ibu.
Ibu berpesan padaku agar aku hati-hati dan mendoakan semoga semuanya berjalan sukses dan lancar.
*****
Tepat pukul dua belas siang. Terdengar ketukan pintu beberapa kali. Aku segera bergegas membuka pintu rumah hijau itu.
Ternyata Desi datang, setelah tadi aku mengiriminya pesan.
“Ada apa Mbak Ayu? Mbak udah makan?” kata Desi tersenyum.
“Udah Mbak. Saya tadi masak indomie sama telor.”
“Waduh, kenapa nggak minta tolong saya saja tadi Mbak, buat nyariin makanan. Kalau Om Rasyid sampe tahu, nanti suami saya dimarahin.” Wajahnyaberubah sedikit muram.
“Nggak apa-apa Mbak. Saya juga nggak bakal ngomong sama dia kok. Masuk sini Mbak.”
“Gimana Mbak Ayu… ada yang bisa saya bantu?”katanya setelah kami duduk diatas sofa berwarna hitam putih.
“Gini, tadi dia telpon saya, katanya saya disuruh ke kantor. Tapi, saya nggak tahu, kantornya yang mana. Sepertinya bangunan disini mirip semua. Bisa minta tolong nggak? Mbak Desi anterin saya ke kantornya dia?”
Desi terkekeh, “Mbak Ayu panggil Om Rasyid ‘dia’? romatis sekali Mbak?”
Oh Tuhan… romantis dari mananya. Aku memanggil dia dengan sebutan ‘dia’ sebab, aku tidak tahu harus memanggilnya apa. Apalagi kita belum pernah ketemu setelah pertemuan singkat di rumah sakit tempo waktu. “Romantis apanya, Mbak?” aku menganjur napas.
“Ya romantis aja Mbak.” Katanya sambil tersenyum. “Yasudah, Mbak Ayu siap-saip saja dulu. Nanti saya anter ke kantor Markas. Kata Om Rasyid pake baju biasa apa pakai baju PSK, Mbak?”
Mataku terbelalak, kaget ketika Desibilang baju PSK. Dia sedang tidak bergurau, kan?
“Maksud Mbak Desi, baju PSK…?” kata-kataku menggantung.
Desi terkekeh kembali. “Mbak Ayu kenal Om Rasyid dimana? Emang Om Rsyid nggak ngasih tahu baju PSK?” terlihat sepertinya dia sedang menertawakanku.
Aku tercekat, menggeleng secara berlahan. Rasyid memang tidak memberitahu tentang baju apa yang harus kupakai.
“Mbak… PSK tuh Pakaian Seragam Kerja.” Dia kembali terkekeh.
“Ooh…” aku mengangguk. “tapi aku nggak punya baju itu Mbak
Desi.”
Desi menggelengkan kepala, “Ya ampun… Om Rasyid,” dia menyanggah dagu, “udah dua tahun ini Om Rasyid menjabat DanKi disini. Di gandrungi banyak emak-emak, karna selalu memperhatikan kompinya. Tapi…” tawanya kali ini pecah.
“Tapi apa?” aku mendesak Desi.
“Tapi.. calon istrinya saja belum tahu baju PSK.” Kata-kata Desi serasa menerkam jantungku. “coba Mbak Ayu telepon Om Rasyid. Pakai baju apa? Mungkin kalau disuruh pakai baju PSK. Ntar Mbak bisa pinjem baju saya
dulu.”
Segera kuraih ponsel dan mengetik nama Rasyid. Menekan tombol warna hijau untuk segera memanggilnya.
“Hei, saya harus pakai baju apa?” aku bertanya dengan nada ketus, setelah mengucap salam.
Rasyid menjawab, jika aku harus memakai baju PSK serta sepatu dan tasnya. Lalu aku menjawab, “Saya nggak punya.”
Rasyid menjawab dari seberang telepon. Jika perlengkapanku sudah disediakan di lemarinya. Aku tinggal memakainya. Lalu, aku bertanya. “darimana kamu tahu ukuran baju sama sepatu saya?.
rasyid menjawab dari Ibu.
Tuhan…. Andai ini bukan permintaan dari ibu, mungkin aku akan memilih pergi dari sini.
Desi melihatku dengan mimik curiga. Mungkin dia curiga karena percakapanku dengan Rasyid di telepon tadi.
__ADS_1