
“Bagaimana, Dok?” tanya Tama dengan cemas. Dia langsung memburu dokter Andi saat dokter itu baru saja keluar dari kamarnya.
“Apa Risa benar-benar hamil, Dok?” Allen turut bertanya.
“Diamlah!” Tama mengamuk sahabatnya.
Dokter Andi tersenyum melihat kelakuan kedua sahabat itu, “Ada apa dengan kalian?”
“Cepatlah, Dok. Bagaimana dengan istriku?”
“Tadi hanya pemeriksaan biasa dan juga tes urine menggunakan tes kehamilan, dan hasilnya . . .” Dokter Andi sengaja menunda pengumumannya karena ia cukup menikmati wajah-wajah serius dari kedua laki-laki di hadapannya itu, “Selamat Tama, kamu akan segera menjadi seorang ayah.”
Tama membelalakkan kedua matanya, lalu dia menghadap sahabatnya dan berteriak kegirangan sambil memeluk Allen. “Aku akan jadi ayah, Len.”
“Dan aku akan mempunyai keponakan yang lucu, uhuuu!!!” mereka bersuka cita.
“Jangan terlalu heboh, Carissa sedang beristirahat di dalam. Mualnya tadi sempat menyerang.”
“Apa Risa juga sudah tahu, Dok?”
“Belum. Setelah melakukan tes urine, ia langsung merasakan mual. Jadi aku memberikannya obat anti mual untuk sementara.”
“Apa itu berbahaya, eemmm . . . maksudku, jika Risa terus saja mual.”
__ADS_1
“Seharusnya sih tidak, yang penting istirahat cukup dan makan-makanan yang sehat. Mual muntah itu lumrah untuk sebagian ibu hamil, terutama pada trimester pertama.”
“Jadi, setelah ini, apa kira-kira yang harus aku lakukan, Dok?”
“Nanti akan ku buatkan janji dengan dokter kandungan, datanglah besok ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih pasti.”
“Baik, Dok. Terima kasih.”
Allen bergegas memberikan kabar kepada keluarga Tama yang ada di Amerika, tak lupa dia juga akan mampir ke rumah keluarga Carissa saat ia kembali ke rumahnya. Sedangkan Tama, kini sudah masuk ke dalam kamarnya dan dengan tenang duduk di samping Carissa tidur.
“Mas?”
“Ya, aku di sini, Sayang. Bagaimana keadaanmu?”
“Sudah lebih baik. Aku sudah bilang akan baik-baik saja, kenapa harus memanggil dokter Andi? Dia tadi bahkan memintaku untuk tes kehamilan.”
“Tentu saja aku tidak hamil. Aku hanya kelelahan saja karena persiapan butikku.”
“Jangan pikirkan butikmu lagi. Sekarang fokus pada kesehatanmu.”
“Kita sudah pernah membahas ini, Mas. Kamu tak boleh melarangku dan memintaku untuk tetap berada di . . .”
“Kamu hamil, Sayang. Saat ini ada buah hati kita di dalam kandunganmu.”
__ADS_1
Carissa langsung terduduk dan menatap kedua mata Tama, “Kamu yakin, Mas? Kamu tidak sedang membohongiku, kan?”
“Bagaimana aku bisa berbohong dengan sesuatu yang akan membesar selama 8 bulan ke depan? Perkiraan usia kandunganmu saat ini sudah 5 minggu. Dan aku juga sudah pernah berkata padamu, jika aku tidak akan pernah berbohong lagi padamu.”
“Sungguh, Mas? Aku benar-benar hamil?” tanya Carissa lagi.
“Benar, Sayang. Selamat, ya. Kamu akan segera menjadi seorang ibu.” Ucap Tama dengan tulus. Ia memeluk istrinya dengan lembut, ia takut menekan perut Carissa. “Terima kasih, Sayang. Terima kasih, kamu akan memberi cahaya baru di dalam rumah tangga kita. Seorang malaikat kecil akan segera hadir tak lama lagi. Aku sungguh sudah tak sabar.”
“Rasanya masih seperti mimpi.”
“Ya. Aku juga merasa seperti itu. Tapi dokter Andi sudah memastikan kebenarannya. Sekarang kamu hanya perlu fokus dengan kesehatanmu, jangan terlalu stres. Dan harus makan dengan baik, untuk calon anak kita.”
“Aku juga lapar sekarang.”
“Mau makan sekarang? Bik Menok sudah selesai memasak Soto Betawi untukmu.”
“Mau!” jawabnya dengan bersemangat.
“Kalau begitu, ayo.” Tama bisa mendengar Carissa berteriak saat ia menggendong tubuh istrinya.
“Apa yang kamu lakukan, Mas? Aku bisa jalan sendiri.”
“Tidak. Nanti kamu akan kecapekan. Lagi pula kita akan menuruni tangga.”
__ADS_1
“Kan bisa menggunakan lift nenek.”
“Oh! Kamu benar. Tapi selama aku ada di rumah, kamu akan tetap ku gendong. Sekarang mari kita menuju meja makan.”