PEMILIK HATI

PEMILIK HATI
Eps 101


__ADS_3

Carissa menghambur ke pelukan nenek Lita, lalu setelah itu memeluk ibu mertuanya. Carissa telah membersihkan kamar yang akan mereka tempati selama berada di Indonesia, alih-alih untuk istirahat terlebih dahulu, Mega dan juga nenek Lita bersemangat untuk mengobrol dengan Carissa.


“Apa ada keluhan, Sayang?” tanya Mega saat mereka sudah berkumpul di ruang keluarga.


“Tidak ada, Mam. Hanya saja Risa belum bisa makan seafood. Risa akan mual muntah jika memakan itu. Untuk lainnya, Risa baik-baik saja.”


“Tapi anehnya, Mam, Tama sangat suka seafood.” Tama ikut nimbrung.


“Kamu juga nyidam?” Mega bertanya dengan penasaran.


“Itulah yang namanya jodoh.” Sahut nenek Lita.


“Tapi, masih belum terlihat, ya?” Mega menyentuh perut Carissa yang belum membuncit.


“Ini kan kehamilan pertamanya Risa, Mega. Apalagi baru dua bulanan, tentu saja belum terlihat jelas.” Jelas nenek Lita.


Semua orang tertawa dengan bahagia, namun ada satu orang yang terlihat cemberut dan duduk di sofa sendirian. “Kenapa kamu cemberut dari tadi, Tama? apa kamu tidak suka dengan kehadiran kami?” tanya Mega.

__ADS_1


“Mana mungkin aku tidak suka melihat Mam dan Nenek pulang kembali ke rumah ini? Tapi tolong! Jangan rebut istriku seperti ini.” Tama protes karena Carissa kini duduk terapit oleh mama dan neneknya.


“Kamu sudah setiap hari bersamanya, apa salahnya jika kami meminjamnya sebentar?”


“Tidak boleh!” Tama bangun dari duduknya dan membawa Carissa duduk bersamanya. Merangkulnya dengan posesif.


“Mas?” Carissa merasa tidak enak.


“Tidak apa, Risa. Biarkan saja, Risa. Mam tahu jika kamu nanti pasti tidak akan tahan dengan suami pencemburu seperti itu.”


“Mam!” protes Tama.


“Mana mungkin dia sama sepertiku, Bu.”


“Iya, Nek. Tama tidak sama dengan Mam.”


“Lihatlah, lihatlah! Kalian berdua sama-sama tukang ngeyel. Sama persis!”

__ADS_1


“Apa aku persis dengan Mam?” tanya Tama kepada istrinya.


Carissa mengangguk dengan pelan, “Kalian memang persis.” Jawab Carissa dengan tawa kecilnya.


***


Persiapan untuk pergi ke Lombok telah selesai, kali ini mereka akan menghadiri pesta pernikahan sepupu Tama dari keluarga belah ayahnya. Mega sebenarnya melarang Carissa ikut dan memintanya untuk tetap berada di rumah dan istirahat, namun setelah memastikan ke dokter jika kandungannya sehat, dengan berat hati Mega memberikan izin kepada menantu kesayangannya itu.


“Kamu yakin akan ikut, Risa?” Perjalanan kita kali ini jauh, loh. Lebih jauh dari pada kita ke Bali kala itu.”


“Tak apa, Mam. Risa juga belum pernah main ke Lombok, Risa ingin pergi ke wisata yang ada di sana, Lombok mempunyai wisata yang sangat terkenal kan, Mam.”


“Iya, sih. Tapi aku mengkhawatirkan kandunganmu, dan tentu saja dirimu, Sayang.”


“Risa akan baik-baik saja, Mam. Kan ada Tama yang akan menjaganya. Tama akan memastikannya jika Risa tidak akan kelelahan.”


“Baiklah-baiklah jika kalian memaksa.” Mega memijat pelipisnya yang serasa berdenyut nyeri karena anak-anaknya yang tidak menurut padanya.

__ADS_1


Mega, nenek Lita, bu Yanti, Allen, Tama dan Carissa, mereka ber-enam melakukan penerbangan dari Jakarta menuju Lombok. Selama kurang lebih dua jam empat belas menit, akhirnya pesawat mendarat di Bandar Udara Internasional Lombok. Sesampainya di sana, sudah ada beberapa mobil yang menjemput mereka. Dari bandara, mereka masih harus menempuh perjalanan selama satu jam tiga puluh menit untuk menuju resort yang ada di sekitar Pantai Sire. Di sanalah pesta pernikahan sepupu Tama akan di adakan. Di hotel bintang lima yang letaknya sangat strategis karena berada di pinggir pantai, hal itu lah yang membuat Carissa kekeh ingin tetap ikut.


__ADS_2