
Tepat pukul dua siang aku sampai pada kota tujuan, sekaligus kota terakhir bagi sang kereta berjalan. Aku mengembuskan napas dalam-dalam, sebelum pada akhirnya memijakkan kaki tepat di lantai peron.
Aku berdiri hingga tak ada siapa lagi. Dihakimi oleh bangku-bangku peron yang menatapku dengan dingin.
Aku tidak sedang mengapa, tidak pula bertanya bagaimana. Aku hanya menghitung, berapa kali sudah dia mengucapkan kata pergi lalu menghilang. Namun, pada kahirnya dia memilih untuk kembali menampakkan diri.
Pada suatu hari nanti, semua pasti akan berubah, katamu. Aku tersenyum mengingat kata-kata yang sempat
diucapkannya tempo waktu, disini di ruang tunggu ini.
Ya… pada suatu hari nanti, mungkin dia tak akan lagi hadir dalam sajak-sajak ku lagi. Setelah semua
hal ku kuras dari ingatan. Setelah semua kenangan aku gali tanpa tersisakan.
Pengelana boleh menagih bagi hasil, jika ingin kita bisa bertemu dan membuat perhitungan. Beberapa ribu
kata yang telah ku curi dari percakapan kita, misalnya.
“Puisimu bagus.” Pesan Pengelana membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum. Entah, dari awal aku
mengenalnya, aku hanya bisa mengingat setiap kebaikannya yang telah dengan ikhlas membuatku tersenyum. Itu menurutku.
“Mbak… saya duluan, ya.” Suara ibu-ibu terdengar memanggil tepat dibelakangku.
Aku tersenyum, “iya, hati-hati ya, Bu.” Kataku.
Ibu-ibu yang menemaniku di dalam sebuah gerbong kereta. Delapan jam perjalanan, aku ditemani oleh
alunan kripik pisang yang tak henti-hentinya dikunyah, hingga tak tersisa.
“Ingat pesan saya. Jangan sampai salah pilih.” Katanya sembari menepuk pundakku dengan lembut.
Aku kembali tersenyum. Kulihat ibu tersebut melangkahkan kaki hingga tak terlihat. Mungkin
kata-katanya hanya sekedar kata. Namun, dibalik semua itu, kata-kata yang terlontar amatlah mengandung makna.
*****
Sesampai dirumah, ibu sudah memberondol dengan berbagai macam pertanyaan perihal lelaki pilihannya.
“Dia baik ‘kan…” ibu berkata seraya tersenyum. “Pilihan ibu nggak salah tho, Nduk?” imbuhnya.
Aku mengangguk.
“Tadi… sebenarnya ibu sudah minta tolong sama Daffa untuk menjemputmu di stasiun. Tapi, dia malah nggak
bisa karena mau urus pasport katanya.”
Alisku bertautan, “urus pasport? Untuk siapa?”
“Kata ibunya sih, Daffa mau keluar negeri lagi.”
Aku tercekat. Mungkinkah dia akan menemui Nadia? Mungkinkah dia akan menikahi gadis itu?
Pikiranmu melanglangbuana seketika.
“Ibu sudah bilang sama Daffa. Kalau bisa, ke Koreanya nunggu kamu habis nikah…”
“Terus?” aku memotong kalimat ibu.
“—ya katanya belum tahu. lihat pasportnya. Soalnya, Daffa bilang sama ibu. Bikin pasport itu nggak
lama. Apalagi hanya memperpanjang.”
Aku berdiri menuju nakas. Mengambil ponsel yang belum sempat kupegang daritadi.
“Mau ngapain?” ibu bertanya.
.Telepon Daffa…”
“Kaya apa aja, mbok ya kerumahnya. Kan deket.” Tukas ibu.
Aku diam sejenak, lalu. “Bu…” aku menganjur napas, menata kalimat sebelum kuutarakan kepada ibu. “Kapan
Mheta menikah sama Rasyid?”
__ADS_1
Ibu terkekeh, “kamu udah nggak sabar ya?”
Aku menautkan alis. “Bukan gitu… kok Mheta…” aku menggantung kalimat. Takut ibu tersinggung jika
kalimat perihat Rasyid ku utarakan.
“Apa?”
Aku tersenyum, “nggak kok, Bu.”
“Besok keluarga Rasyid kesini. Untuk membicarakan tanggal pernikahan kalian.”
Tenggorokanku terasa disumpal bongkahan batu akik.
“Ibu yakin?”
“Apa yang membuat ibu yakin? Ibu amat percaya sama Rasyid. Dia, pemuda yang tepat untukmu, dia
baik.”
“Ya sudah. Kalau memang ibu sudah menjatuhkan pilihan untuk masadepanku. Semoga ibu nggak menyesal
dibelakang.”
Ibu mengelus pundakku, seraya berkata. “Lha kok gitu? Ibu kan sudah pernah bilang sama kamu. Kalau semua
keputusan ada ditanganmu. Kok, sekarang sepertinya kamu mempertanyakan perihal Rasyid? Apa dia nggak memperlakukanmu dengan baik kemarin, di Jakarta?”
Aku tersenyum, sembari memegang jemari ibu dengan penuh kehangatan. “Baik kok. Bahkan… selama di
Jakarta kami sangat menjaga jarak. Dan kami jarang bicara sewaktu bertemu, kecuali memang dirasa ada yang harus kami obrolkan. Setiap menemui Mheta, dia selalu ngajak temannya. Katanya biar nggak jadi fitnah.”
“Nah… berarti pilihan ibu nggak salah tho? Dia pemuda baik. Bahkan, dia mampu menjaga kehormatanmu, dengan
cara tidak mengajak bicara kecuali hal yang penting. Karena dia paham, kalian belum terikat apa-apa. Itu namanya dia menghargai wanitanya.
Aku tersenyum seraya menganjur napas dalam-dalam.
*****
Silir-silir udara pagi berembus. Membuai setiap jiwa yang sedang sibuk lalu-lalang hendak pergi ke
sawah.
Aku masih memikirkan perihal Daffa yang kata ibu, dia akan pergi lagi ke Korea.
Terlihat dari balik jendela dapur, Daffa sedang menyunggi seikat rumput untuk makanan kambingku.
“Hei…” aku memanggilnya.
Daffa hanya menoleh tanpa kata, senyumpun tidak terlihat dikedua sudut bibirnya.
Aku segera berjalan menuju belakang rumah. Mendekati Daffa yang sedang sibuk memberi makan
kambing-kambing dikandang.
“Jadi… kamu benar-benar akan pergi ke Korea lagi?” tanyaku sembari membantu Daffa memberi makan kambing-kambing almarhum ayah.
Daffa menoleh padaku. Namun, lagi-lagi dia tidak bergeming.
“Ya… itu sih hak kamu. Aku Cuma minta sama kamu, jangan berubah.” Aku berkata sembari tersenyum.
Daffa menghentikan aktifitasnya. Ia terlihat menganjur napas dan membuangnya secara berlahan, “berubah
apanya?”
Aku tersenyum. “Ya berubah. Aku merasa kamu sekarang seperti orang asing yang nggak kenal gitu
sama aku.”
“Rasyid aja yang orang asing bisa menjadi dekat sama kamu? Bahkan, kalian akan menikah dalam waktu dekat
ini.” katanya tanpa menatapku. Terlihat kakinya sedang memainkan sandal japit yang dipakai.
Mataku melotot, “kok kamu gitu? Bukannya dulu kamu yang selalu bilang sama aku. Kalau dia itu baik, sholih dan sayang orang tua. Bahkan, waktu itu aku nggak pernah mau tahu tentang dia. Kamunya saja yang antusias ngomongin pemuda itu.”
__ADS_1
Daffa terkekeh. “nggak usah ngotot. Aku Cuma guyon. Lagian, aku memang yakin dia pemuda yang baik
untukmu.” Daffa menerawang, tatapannya jauh keatas sela-sela dedaunan mangga yang bertengger dibelakang rumah.
“Maaf ya…” kataku parau.
Aku tahu, jika Daffa sebenarnya tidak sedang baik-baik saja. aku begitu kenal dia. Tatapannya mengisyaratkan
jika dia sedang terluka. Namun, aku memilih untuk diam, tidak menanyakan perihal lukanya.
“Jadi… kapan kamu berangkat?”
“Kamu ngusir aku?”
Aku menautkan kedua alis, “ya nggak lah. Cuma nanya doang.”
“Nunggu kamu sah menjadi istri Rasyid. Memastikan jika kamu benar-benar bahagia disampingnya. Baru aku
akan berangkat.” Katanya dengan menunduk.
Aku membungkam mulut. Itu sangat mustahil. Bahkan saat ini saja aku belum tahu, akan bahagiakah atau
malah sebaliknya hidup bersama pemuda asing itu?
*****
Sebuah mobil berwarna hijau berjenis Toyota Camry, terlihat begitu pelan memasuki area halaman rumahku.
Seorang sopir yang memakai pakaian loreng. Terlihat keluar dari mobil dinas tersebut. Lalu, membuka pintu belakang. Telihat dua orang keluar dari mobil tersebut. Seorang laki-laki paruh baya dan seorang ibu juga paruh baya.
Ibu yang tak asing bagiku. Aku ingat, bagaimana ibu itu mengomel sewaktu di rawat di rumah sakit tempo
waktu.
Menceritakan seorang pemuda yang tak lain adalah putranya. Bahkan, ibu itu sempat bercerita tentang
kegagalan putranya untuk menuju pelaminan.
“Nduk…Ayu. Apakabarmu, Cah Ayu…” tanya ibu tersebut setelah mengucap salam. Sedang lakilaki-laki paruh
baya yang berdiri tepat disampingnya, terlihat tersenyum lalu menyalamiku dengan hangat.
“Mbak Yuni, Mas Agus, monggo pinarak.( silahkan masuk).” Ucap ibu dengan senyum sumringah, yang
memang sedang menunggu tamu agungnya tersebut.
Aku melihat keakraban antara ibu dan kedua orang tua Rasyid.
Ibu Rasyid yang bernama Raden Ayu Srie Wahyuni, terdengar dari dalam dapur sesekali tertawa renyah saat
menceritakan putra bungsunya tersebut.
“Lalu, bagaimana untuk acara pernikaha mereka, Mbak Miarty?” tanya Ayah Rasyid kepada ibu.
Dadaku berdegup kencang. Tangan serta lututku bergetar hebat.
“Ya… kalau saya apa kata Mbak Yuni dan Mas Agus saja.” terdengar ibu menjawab.
Mataku memanas. Ada bulir-bulir bening yang menerobos begitu saja dari kedua pipiku.
“Kalau saya dan ibunya Rasyid, maunya pernikahan mereka diadakan di tanggal 28 Juli ini. pas hari
minggu Wage.” Suara ayah Rasyid terdengar terputus. “Pas banget untuk weton mereka berdua. Apalagi bulan September Rasyid harus menyelesaikan tugasnya ke Congo selama sebelas bulan. Jadi, sebelum berangkat tugas, Rasyid sudah nggak sendiri lagi. Gimana Mbak Miarty?” ayah Rasyid terdengar menegaskan.
Ibu terdengar setuju. Ya… setuju dengan perihal keputusan keluarga Rasyid.
******
Siang ini, langit hati begitu gelisah. Seperti sedang mencemaskan matahari yang tersendat oleh kabel-kabel. Aku ingat sepotong sore yang dia ceritakan padaku.
Aku berkaca-kaca. Belum sempat menjawab semua tanya dari seorang Pengelana perihal tentang hati. Namun,
aku harus menjatuhkan hati pada seseorang yang bagiku begitu asing, yang membuatku seperti terasing.
Begitu banyak hal, sering kali membawa ingatan-ingatan pada kisah yang dia bagikan. Mataku benar-benar memanas. Kacau.
__ADS_1