
Tanpa di duga, pekerjaan Tama memakan waktu lebih banyak. Walau pekerjaan sudah banyak yang terselesaikan berkat Allen dan Tim nya, tapi tetap saja masih banyak dokumen yang perlu diperiksa.
Tama sempat menghubungi istrinya dan mengabarkan jika ia tak akan bisa pulang awal, lalu meminta Carissa untuk tidur dulu tanpa harus menunggunya pulang. Carissa terlihat menyemangati suaminya dengan mengatakan kalimat yang memberikan dukungan, justru Tama-lah yang merasa tidak rela waktunya terbuang untuk lembur dan tidak bisa memeluk istrinya untuk tidur pertama kali di rumah mereka.
“Apa gunanya menjadi presdir jika pekerjaanku masih sebanyak ini!” keluhnya pertama kali setelah sudah beberapa belas tahun menjadi presdir.
Saat tengah malam, Tama memutuskan untuk menghentikan lemburnya karena ia melihat karyawannya sudah kelelahan, ia akhirnya memulangkan mereka semua.
Ia berjalan dengan cepat saat sudah memasuki rumah, sedikit berlari untuk naik ke lantai dua. Tama membuka pintu dengan perlahan, takut ia akan membangunkan Carissa tidur, tapi kedua matanya akhirnya terbelalak saat melihat sesuatu di hadapannya.
Carissa ternyata belum tidur dan datang menyambutnya dengan pakaian tidur hitam transparan yang begitu menggoda karena ia bisa dengan jelas menampilkan seluruh lekuk tubuhnya.
“A-apa apaan ba-baju itu? Ke-kenapa ada yang se-setipis itu?” Tama kesusahan menelan ludah saat ia memandang kain penutup dada dan penutup bawah pusar yang terlihat sangat mudah untuk dibuka walaupun dengan bibirnya.
“Mas tidak suka?”
“Suka. Aku sangat suka.” Jawabnya tanpa berkedip dan tetap fokus dengan tubuh istrinya.
__ADS_1
“Mau mandi dulu? Aku sudah menyiapkan air hangat.”
“Tentu!” Tama buru-buru membuka bajunya dan berlari ke kamar mandi, membuatnya hampir terjatuh karena tersandung kakinya sendiri.
“Jangan buru-buru, Mas.” Carissa mendekatkan tubuhnya dan membuat dadanya menempel ke kulit terbuka Tama. Tubuh Tama meremang dan menegang, “Hidanganmu tidak akan kemana-mana, jadi pelan-pelan saja saat mandi.” Bisik Carissa dengan mesra tepat didepan telinga Tama yang sudah memerah karena Carissa meniupkan napasnya dengan sengaja.
Tama tersenyum dengan semangat, ia lalu menghilang dibalik pintu kamar mandi. Tak sampai lima menit, Tama sudah keluar dengan rambut basahnya dan hanya mengenakan handuk saja.
“Mas! Keringkan dulu rambutmu! Kamu bisa masuk angin, sini duduk didepan meja rias, aku akan mengeringkan rambutmu.”
“Tidak semudah itu.” Carissa mendorong tubuh Tama hingga suaminya itu terbaring diatas ranjang.
Tama terpaku tanpa berkedip saat melihat Carissa merangkak naik menaiki tubuhnya dan duduk di atas perutnya, ia benar-benar terkejut karena kali ini Carissa yang terlebih dahulu bertindak. “Sa-sayang?”
“Diamlah! Ini perintah.” Ucap Carissa dengan wajah menggoda.
Tama menikmati pagutan mesra dari bibir merah perempuan cantik itu, ia mendesis saat Carissa turun dan mulai menciumi lehernya. Tubuh yang masih sedikit basah itu terasa manis, tangan Carissa menelusuri lekuk tubuh yang berotot milik Tama. Tubuh besar itu menggeliat saat Carissa menyentuh di bagian tubuh yang sensitif.
__ADS_1
“Ahhh!” Tama mendes*h pelan saat Carissa kini menggelitik put*ngnya dengan lidah. Perempuan itu memainkannya dengan piawai. Tubuhnya menegang saat perempuan cantik itu mulai turun ke perutnya, membuat Carissa semakin dekat dengan benda tersensitif milik Tama.
“Risa, tunggu!!!”
Carissa menghentikan rangs*ngannya dan menarik kedua tangan Tama, memintanya duduk di tepi ranjang. “Sssttt! Diam saja, ok. Istrimu yang cantik ini akan menghilangkan lelah yang di akibatkan pekerjaanmu.” Carissa berjongkok tepat di hadapan Tama.
“Arrrggghhh! Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku menurut dan diam saja? Sial! Kenapa dia melakukannya dengan seksi sekali?” gumam Tama dalam hati saat melihat Carissa menguncir rambutnya sambil menatap matanya dan tersenyum manis.
“Aku akan mulai.” Ucapan perempuan cantik itu membuat Tama tanpa sadar menahan napasnya. Tidak sulit Carissa mengeluarkan benda yang sudah menegang sempurna itu karena hanya tertutup oleh handuk mandi.
Carissa tetap takjub dengan apa yang dilihatnya, benda itu begitu keras dan besar, bahkan tangannya tak bisa menggenggamnya secara penuh. “Inikah yang biasanya membuat tubuhku kehilangan kendali?” gumam Carissa dalam hati.
“Sa-sayang, apa yang ka-kamu lakukan?” tanya Tama saat melihat Carissa terpana oleh adik kecilnya.
Carissa menaikkan pandangannya, “Tidak, aku hanya sedang bersiap.” Ucapnya dan hap! Carissa memasukkan benda besar itu kedalam mulutnya. Tubuh Tama menegang dengan hebat, desiran rasa geli yang di akibatkan gelitikan lidah dan juga gerakan keluar masuk membuat gairah Tama menghebat. Baru kali ini ia merasakan perasaan begitu bergairah saat miliknya dipermainkan. Dulu, dia tidak pernah merasakan perasaan senikmat ini.
Malam semakin larut, dan tentu saja Tama pada akhirnya tak tinggal diam dan membalaskan dendamnya akan rangs*ngan kuat yang istri tercintanya lakukan. Suara kenikmatan menggaung seisi kamar di setiap detiknya, mencapai puncak kenikmatan dengan seseorang yang sangat dicintai akan menjadi titik akhir sebelum keduanya tertidur pulas di penghujung malam.
__ADS_1